Jumat, 26 Maret 2021

Eksplorasi Pasir Besi

Kegiatan pemetaan geologi pada eksplorasi pasir besi wajib dijalankan untuk mengenali litologi serta batas sebaran endapan pasir yang mengandung bijih besi. Pemetaan geologi mesti senantiasa difokuskan pada pengambilan data-data geologi mirip geomorfologi dan litologi. Selain itu, harus dilakukan observasi dan lokalisir endapan pasir yang diduga mengandung partikel bijih besi. Semua data dalam yang disajikan dalam goresan pena ini merupakan salah satu teladan dalam melakukan eksplorasi pasir besi disuatu area penyelidikan. Hasil akhir penyelidikan nantinya dibutuhkan akan memperoleh citra tentang batas litologi serta sebaran endapan pasir besi, yang lalu akan ditindaklanjuti dengan pemboran auger untuk mengenali sebaran vertikal, mutu dan sumberdaya pasir besi.

Metode Eksplorasi Pasir Besi

Pemetaan geologi yang sudah dikerjakan menciptakan data berbentuksebaran endapan pasir yang mengandung bijih besi, yang terbagi atas beberapa blok diantaranya Block Seki South, Seki North, Loloro Kecil, Waymake, Loloro Besar, Auloto, Galao, Cio Pantai, Cio Gerong, Moloku, Libano, Boku, Hapo, dan Bere-bere Kecil. Gambar 1c dibawah memberikan luas penyebaran serta rata-rata ketebalan endapan pasir per blok dalam area penyelidikan.

Gambar 1. (a) Batuan vulkanik selaku sumber bijih besi, (b) akumulasi dan pencucian bijih besi oleh aktivitas air bahari, (c) luas dan ketebalan endapan pasir lokasi penyelidikan.

Setelah dikenali penyebaran lateralnya, acara selanjutnya adalah melaksanakan pengeboran "hand auger". Hal ini dijalankan untuk mendapatkan data penyebaran endapan pasir besi secara vertikal, dengan melakukan penetrasi pada kedalaman 1 – 4m. Dari acara ini, dihasilkan 55 hole pengeboran dengan total kedalaman 80.42 m. Rata-rata penetrasi pengeboran yang dangkal disebabkan alasannya adalah problem watertable di tempat garis pantai, sehingga sampel yang terambil akan mudah lepas. Selain itu, kalau saat melaksanakan penetrasi dijumpai material yang berukuran lebih besar dari diameter alat bor maka akan menghalangi kedalaman penetrasi (pengeboran dilarang).

Pengambilan sampel hasil hand auger dikerjakan tiap 1 meter, lalu dikerjakan proses preparasi sampel. Sampel insitu hasil pengeboran auger direduksi untuk mendapatkan sampel original dan backup. Sebelum dijalankan reduksi, sampel harus terkomposit dengan baik agar nantinya diperoleh hasil yang representatif.

Kemudian, sampel original tersebut direduksi lagi menjadi beberapa sampel (misalnya conto individu, conto original, dan conto backup) dengan berat masing-masing sekitar 150 – 200 gram. Conto individu dalam hal ini memakili per meter pengeboran kemudian di treatment untuk menerima data-data mirip spesific gravity, persen berat fraksi, magnetic degree (MD), dan mutu konsentrat. Untuk analisa kadar komponen/element seperti Fe total, Cr2O3, SiO2 dan TiO2 dilakukan pengiriman sampel ke laboratorium.

Analisa Berat Jenis dan Ukuran Butir Pasir Besi

Pengambilan data berat jenis pasir dijalankan dengan memakai metode volumetrik dalam fluida cair. Conto individu yang mewakili seberat 150-200 gram dimasukan kedalam air yang diketahui volumenya pada baskom/gelas ukur. Hasil pengambilan data berat jenis pasir pertanda rata-rata material pasir pada kawasan pengusutan berada pada nilai 2.97 gr/cm3. Nilai yang demikian memberikan adanya partikel bijih besi didalam material pasir dengan konsentrasi yang yang cukup baik.

Analisa ukuran butir dijalankan untuk mengenali jenis dan persen berat unsur/element, baik itu untuk fraksi magnetik maupun non magnetik yang pada karenanya dapat diketahui ukuran butir pasir besi yang secara umum dikuasai di tempat pengusutan. Sampel yang diambil mewakili blok pengeboran dan dibagi dalam beberapa fraksi, ialah Fraksi yang lebih besar dari 0.595 mm atau + 30#, Fraksi antara - 0.595 + 0.4 mm atau – 30 + 40#, Fraksi antara - 0.4 + 0.25 mm atau – 40 + 60#, Fraksi antara - 0.25 + 0.177 mm atau – 60 + 80#, dan Fraksi yang lebih kecil dari 0.177 mm. Masing-masing fraksi dinyatakan dalam persen berat yang mampu digambarkan dalam diagram balok, sehingga sebaran pasir besi yang lebih banyak didominasi dapat diketahui.

Dari grafik sebaran fraksi mampu terlihat bahwa endapan pasir didaerah pengusutan dominan berada pada ukuran butir 0.4 – 0.177 mm. Dari grafik ini pula dapat diperkirakan bahwa partikel bijih besi akan lebih banyak dijumpai pada salah satu ukuran butir yang lebih mayoritas. Konsentrat ialah crude sand yang sudah mengalami benefisiasi lewat proses pemisahan magnet yang mempunyai derajat kemagnetan (MD=magnetic degree).

Derajat kemagnetan (MD) diperoleh dari rumus : berat konsentrat/berat conto hasil reduksi x 100%. Magnetic degree ini mampu menggambarkan persentase keterdapatan partikel bijih besi didalam sebuah deposit pasir. Hal ini sudah pasti merupakan salah satu parameter dalam mengetahui kuantitas (sumberdaya) partikel bijih besi dalam suatu endapan pasir.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut diperoleh rata-rata nilai MD pada seluruh area pengusutan sebesar 19.68%. Dapat dilihat bahwa 33% dari total sampel mempunyai MD dibawah 10%, 30.06% sampel mempunyai MD antara 10 – 20%, 25.03% sampel mempunyai MD antara 20 – 40%, dan 9.88% sampel memiliki MD diatas 40%.

Dari hasil evaluasi butiran juga dapat terlihat bahwa pada umumnya konsentrat banyak dijumpai pada ukuran butir lebih kecil dari 0.25 mm. Proses eliminasi (benefisiasi) pada material dengan fraksi diatas 0.25 mm akan memajukan persentase kemagnetan (MD) dan diperlukan juga dapat meningkatkan kualitas konsentrat, akan namun bila ini dijalankan maka akan terjadi penghematan kuantitas (sumberdaya) deposit. dengan kata lain "kualitas konsentrat sangat diputuskan oleh proses benefisiasi". Proses benefisiasi dilakukan dengan menggunakan magnetic separator untuk mengambil partikel bijih besi.

Dari hasil benefisiasi, tampakbahwa terjadi kenaikan Fe total yang signifikan pada sampel original. Peningkatan Fe Total ini sudah pasti dipengaruhi juga oleh tahapan dikala preparasi (pembersihan dan pengeringan material) serta fraksinasi. Selain itu, tingkat kekuatan magnet (gauss) dan teknik melakukan pemisahan materia yang magnetik dan non magnetik juga sangat menghipnotis kenaikan kualitas Fe.

Gambar 2. (a) grafik sebaran ukuran butir, (b) grafik persentase distribusi MD pada klas tertentu, (c) grafik persentase berat konsentrat tiap fraksi, (d) grafik peningkatan Fe total pada proses benefisiasi dengan memakai magnetic separator.

Benefisiasi lanjutan yang kemungkinan dapat menaikkan kadar Fe Total adalah melaksanakan fraksinasi kepada konsentrat yang dihasilkan, sehingga akan diperoleh kualitas konsentrat tiap fraksi. Kualitas konsentrat tiap fraksi diperkirakan akan berlawanan alasannya adalah berhubungan dengan resistensi mineral magnetit yang tinggi kadar Fe terhadap proses pelapukan, transportasi, dan pencucian oleh gelombang bahari. Pada jadinya benefisiasi lanjutan ini akan diperoleh recovery mass yang mempengaruhi kuantitas dari deposit pasir besi.

Hasil final dari kegiatan ini ialah dengan melakukan perkiraan Sumberdaya Pasir Besi kawasan pengusutan dengan memakai dengan memakai formula : C=(L x T) x MD x SG x RM, dimana C = Sumberdaya pasir besi dalam bentuk konsentrat (mT), L / AOI = Luas Area Pengaruh/Luas endapan pasir (Sqm), T = Tebal rata-rata endapan Pasir (m), MD = Derajat Kemagnetan (%), SG = Berat Jenis (gr/cm3), RM = Recovery Mass, dipakai apabila dilaksanakan lagi proses benefisiasi lanjutan.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan rumus diatas, ditemukan perhitungan sumberdaya pasir besi pada lokasi eksplorasi yakni 484,065 mT dengan rata-rata kadar konsentrat Fe 57.3 % dan TiO2 7.36%. Ada beberapa kesimpulan yang diperoleh dari tahapan eksplorasi permulaan ini, yaitu :
  1. Endapan pasir besi di lokasi pengusutan berasal dari batuan vulkanik pada Formasi Bacan yang mengandung mineral besi berbentukmagnetite, ilmenit dan oksida besi. Partikel bijih besi ini tertransportasi oleh 3 (tiga) sistem pedoman sungai besar (Sungai Hapo, Sungai Cio, dan Sungai Bere-bere) dan selanjutnya tercuci oleh gelombang bahari dengan arus yang lazimnya berarah NW – SE.
  2. Luas penyebaran endapan pasir yang berada didaerah disekitar garis pantai (onshore) ialah ± 40.6 hektar dengan ketebalan rata-rata 2.04 m.
  3. Ukuran butir pasir paling lebih banyak didominasi berada pada 0.4 - 0.177 mm, ini mempunyai arti secara umum dikuasai lokasi pengusutan disusun oleh endapan pasir sedang – halus.
  4. Rata-rata persentase kemagnetan pasir besi tempat pengusutan ialah sebesar 19.68%, dengan persentase berat konsentrat secara umum dikuasai berada pada ukuran butir kurang dari 0.25 mm.
  5. Sumberdaya pasir besi area penyelidikan ialah sebesar 484,065 mT konsentrat, dengan mutu Fe Total = 57.3% dan TiO2 = 7.36%.

Rekomendasi yang diberikan dalam aktivitas ini yaitu : (a) Perlu dijalankan analisa laboratorium terhadap konsentrat fraksi tertentu dalam tiap hole atau tiap blok pengeboran, untuk mengetahui mutu konsentrat yang lebih representatif. (b) Diperkirakan deposit pasir besi masih bisa ditemui didaerah lepas pantai (offshore), sehingga perlu dilakukan tahapan eksplorasi yang lebih rincian dari eksplorasi terdahulu khususnya dalam hal pengambilan sampel dengan penetrasi yang lebih dalam. Hal ini penting untuk mengembangkan jumlah sumberdaya pasir besi di area penyelidikan.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Kamis, 25 Maret 2021

Qaqc Nikel Laterit

Kontrol mutu terhadap data sampel eksplorasi selalu dijalankan untuk memutuskan bahwa hasil dari kegiatan eksplorasi yaitu akurat, presisi dan tidak bias. Program QAQC nikel laterit yang dilakukan dalam aktivitas eksplorasi diantaranya : Penyisipan sampel kriteria (nilainya elemennya sudah dimengerti sebelum diantarke laboratorium), Penyisipan sampel duplikat (dengan melakukan duplikasi sampel pada dikala preparasi wet), Penyisipan sampel blank (sampel yang sedikit atau tidak memiliki unsur Ni dan Fe). Tujuan QAQC nikel laterit pada tahap eksplorasi dijalankan untuk menentukan keakuratan dan ketepatan uji kimia sample yang dilaksanakan oleh sebuah laboratorium.

Contoh Kasus : Sampel dari suatu proyek pengeboran dianalisa pada suatu laboratorium. Penanganan sampel mulai dari lokasi pengeboran - sample house (preparasi wet) - sampai di laboratorium, seluruhnya sudah mengikuti kriteria prosedur yang berlaku. Bersamaan pengantaran sampel hasil pengeboran disisipkan 14 sampel QAQC dari total seluruhnya 112 sampel original, yang terdiri dari 5 sampel patokan, 4 sampel duplikat, dan 5 sampel blank. Selang beberapa hari, laboratorium akan merilis hasil analisa sampel tersebut. berikutnya yang perlu dijalankan adalah melaksanakan evaluasi QAQC kepada hasil evaluasi yang di rilis oleh laboratorium. Proses "complain" ke laboratorium bersangkutan dapat kita usikan bila hasil evaluasi sampel QAQC yang kita sisipkan tadi mengalami selisih ataupun bias yang melewati batas toleransi. Analisa QAQC tersebut mampu kita lakukan dengan cara mirip dibawah ini :

ANALISA SAMPEL STANDAR ; Sampel standar ialah sampel yang dipakai untuk dapat mengontrol akurasi pembacaan alat yang digunakan oleh laboratorium. Ada 2 sampel patokan yang biasa digunakan untuk acara QC sederhana, adalah sampel standar limonit (LIM), dan bedrock (BRK). Berdasarkan penilaian, maka diperoleh bias sekitar 17.41% Ni dan 1.58% untuk Fe untuk Standard Limonite. Sedangkan untuk bedrock bias Ni berada di kisaran 2.78% untuk Ni dan 2.44% untuk Fe. Untuk standar limonite terjadi bias yang cukup tinggi ini pada nilai Ni disebabkan oleh akurasi alat XRF yang tidak bisa diatur dengan baik. Tetapi setidaknya dari data statistik pertanda bahwa data standard cukup presisi dan ini pertanda bahwa pembacaan alat X-Ray cukup stabil. Observasi untuk sampel patokan : Hasil analisis pada sampel tolok ukur menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari analisis secara lazim masih stabil dari nilai rekomendasi/toleransi, akan tetapi terjadi bias pada nilai Ni tolok ukur limonit.

ANALISA SAMPEL DUPLIKAT ; Sampel duplikat adalah sampel yang dibuat dengan cara melakukan duplikasi pada beberapa sampel yang diantarke laboratorium, sampel ini bermaksud untuk mengendalikan kinerja preparasi sampel house pada proses homogenisasi serta instrument yang dipakai oleh laboratoium dalam analisa kimia. Observasi untuk sampel duplikat ; Angka pembacaan sampel duplikat pada menawarkan bahwa semua angka pembacaan berada pada garis toleransi yang mampu diterima dengan nilai presisi untuk Ni ialah 8.201 % dan untuk Fe adalah 3.353 %. Data ini memperlihatkan bahwa proses preparasi sampel yang dikerjakan telah cukup manis (homogen).

ANALISA SAMPEL BLANK ; Sampel blank adalah sampel yang dibentuk dari batuan yang tidak mempunyai kadar nikel, dalam hal ini kita menggunakan silika. Sampel ini bermaksud untuk mengontrol tingkat kontaminasi antar sampel pada proses preparasi dan analisa kimia. Observasi untuk sampel blank : Pada aktivitas ini dilakukan pengiriman 4 sampel blank. Berdasarkan hasil laboratorium tidak dijumpai nilai bagian Ni dan Fe yang signifikan. Hal ini memberikan bahwa tingkat kontaminasi antar sampel dalam proses preparasi sangat minimal dan tidak ada indikasi sampel tertukar (mixup). Hasil nilai Ni dan Fe lazimnya dibawah garis yang dapat diterima.

Gambar (a) Hasil evaluasi sampel tolok ukur bedrock, (b) hasil analisa sampel duplikat, (c) hasil evaluasi sampel blank.

Demikian cara melakukan kontrol kepada sampel nikel laterit yang kita kirim ke laboratorium. Walaupun di laboratorium sendiri sudah melaksanakan prosedur ini, akan namun selaku pihak yang nantinya akan bertanggung jawab terhadap kualitas data eksplorasi maka mekanisme ini mesti tetap kita lakukan. Jangan sungkan untuk melakukan klaim kepada laboratorium yang mengecek sampel kita, sepanjang analisa yang kita lakukan mengambarkan hasil yang berada diluar batas toleransi analisa.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Rancangan Block Model Dan Basis Data

Konsep Block Model dan Basis Data - Suatu pekerjaan yang penting dan besar tanggung jawabnya dalam menganalisa suatu proyek pertambangan ialah penaksiran cadangan. Seluruh keputusan teknis sungguh tergantung pada pekerjaan tersebut. Penaksiran cadangan menciptakan sebuah taksiran.

Model cadangan yang dibentuk merupakan pendekatan dari kenyataan dan menurut berita yang dimiliki, serta masih mengandung ketidakpastian. Suatu taksiran cadangan harus mencerminkan secara tepat keadaan geologis dan huruf/sifat mineralisasi, serta sesuai dengan tujuan penilaian. Penaksiran cadangan ini penting sebab :
  1. Memberikan taksiran kuantitas (tonase) dan kualitas (kadar) cadangan bijih,
  2. Memberikan asumsi bentuk tiga dimensi cadangan bijih dan distribusi ruang dari kadarnya,
  3. Menberikan jumlah cadangan untuk memilih umur tambang,
  4. Sebagai batasan acara penambangan yang dibentuk menurut taksiran cadangan.

Konsep Blok Model pada Penaksiran Cadangan

Penaksiran cadangan menghasilkan sebuah taksiran. Model cadangan yang dibuat ialah pendekatan dari kenyataan dan menurut informasi yang dimiliki, serta masih mengandung ketidakpastian. Suatu taksiran cadangan harus merefleksikan secara sempurna kondisi geologis dan aksara/sifat mineralisasi, serta sesuai dengan tujuan evaluasi.

Suatu model cadangan bijih yang mau dipakai untuk perancangan tambang mesti konsisten dengan tata cara penambangan dan teknik penyusunan rencana tambang yang akan dipraktekkan. Taksiran yang bagus harus didasarkan pada data aktual yang dimasak secara obyektif. Keputusan dipakai atau tidaknya suatu data penaksiran harus diambil dengan fatwa yang terang dan konsisten. Pembobotan data yang berlainan harus dikerjakan dengan dasar yang berpengaruh. Metode penaksiran yang dipakai mesti menunjukkan hasil yang mampu diujiulang atau verifikasi.

Tahapan pertama sehabis penaksiran cadangan final dilakukan adalah mengusut taksiran kadar blok ialah menggunakan data pemboran (komposit atau assay) yang ada di sekitarnya. Setelah penambangan dimulai, taksiran kadar dari model cadangan harus dicek ulang dengan kadar dan tonase hasil penambangan yang bekerjsama.

Pada artikel ini akan dibahas perihal Konsep Block Model dan Basis Data Komputer. Basis data komputer dibedakan menjadi dua yaitu basis data assay dan basis data komposit. Cara mengkompositkan data assay ialah aspek yang penting dalam pengerjaan basis data. Selanjutnya akan dibahas mekanisme pemodelan sumberdaya mulai dari pendapatan data sampai pemodelan geologi endapan mineral.

Komputer Sebagai Basis Data Block Model

Penggunaan komputer sungguh membantu pemodelan sumberdaya dalam pembuatan, klasifikasi, dan interpretasi data. Data biasanya diperoleh dari populasi cebakan bijih dengan cara pengeboran, surface/grab sampling, tunnel sampling, stope sampling, dan lain-lain. Tahapan pertama permodelan yaitu merencanakan basis data komputer yang bersih.

Pembuatan basis data komputer memerlukan waktu yang cukup lama. Pengecekan data dimulai sesudah semua data dimasukkan ke dalam komputer. Selain data assay dan data geologi dari setiap lubang bor, perlu dicek pula koordinat collar dan data survey lubang bor. Basis data komputer mencakup pengerjaan basis data assay dan basis data komposit. Basis data assay ialah berita kadar sampel dari hasil aktivitas eksplorasi. Secara umum basis data berisikan :
  • Koordinat (northing, easting, elevasi dari lisan lubang bor atau collar),
  • Titik awal (from) dan tamat (to) assay setiap interval kedalaman lubang bor,
  • Panjang (interval) assay, dan
  • Peubah (variable) ; dalam basis data misalnya kadar tembaga (Cu), kadar emas (Au), kadar perak (Ag), jenis batuan, densitas (density), jenis (type) data. Jenis data contohnya sampel dari pengeboran, sampel dari permukaan, sampel dari terowongan atau tunnel/adit, sampel dari lombong (stope).

Pembuatan basis data komposit bermaksud untuk menyamakan selang (interval) data sehingga memiliki volume (support) yang serupa. Komposit ialah rataan berbobot data pada selang tertentu. Basis data komposit untuk permodelan sumberdaya mineral mempunyai peubah-peubah yang hampir sama dengan basis data assay. Gambar 1b di bawah menawarkan kadar assay dan prinsip perkiraan komposit.

Permodelan dan penaksiran sumberdaya mineral secara komputer didasarkan pada kerangka model blok. Ukuran blok merupakan fungsi geometri mineralisasi di tempat telitian dan tata cara penambangan yang hendak dipakai. Sketsa model blok 3D mampu dilihat pada gambar di bawah.

Biasanya permodelan sumberdaya memiliki batas koordinat: ke arah utara misal 0 N – 1300 N, ke arah timur misal 150 E – 600 E, dan ketinggian misal 1075 m – 1400 m. Gambar di bawah merupakan pola ukuran blok (10 x 2 X 5) m berturut-turut ke arah utara, timur dan vertikal selaku satuan penambangan terkecil (smallest mining unit).

 Suatu pekerjaan yang penting dan besar tanggung jawabnya dalam mengevaluasi suatu proyek  Konsep Block Model dan Basis Data
Gambar. (a) pola blok model 3D, (b) teladan prinsip perhitungan komposit,
(c) teladan ukuran blok model.

Peubah (variable) yang dibutuhkan untuk permodelan yakni topografi kawasan penelitian (topo), gosip geologi, kadar mineral, jenis batuan (rock), massa jenis (density), persentase blok sebagai bab bijih (%ore), tonase setiap blok, jumlah minimum komposit. Model cadangan bijih menjadi akurat kalau mewakili keadaan geologi dan karakter dari mineralisasi. Zone geologi yang berlawanan harus dimodelkan secara akurat.

Referensi:
Adisoma, G.S., S. Waterman (2001), Reserve modeling for mining geology, Short Course, Indonesian Association of Geologist-GEOSEA 2001, 30th Annual Conference-10th Regional Congress, Yogyakarta, September, 1-87.
Cottle, J.W., C.J. Davey (1983), Computerized deposit modelling, volumetrics, and production scheduling, Computers in Mining Symposium, The Aust.I.M.M. Southern Queensland Branch, May, 111-115.
Hustrulid, W., M. Kuchta (1995), Open Pit Mine Planning and Design, Volume 1 Fundamental, A.A. Balkema/Roterdam/Brookfield, 212-248.
Kotzé, A.P.L., J.A.V.D.Westhuizen, W.C. Pienaar (1986), An Approach to computer aided opencast mine rencana, The Planning and Operation of Open-pit and Strip Mines, J.P.Deetlefs, Editor, Johannesberg, SAIMM, 37-45.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Rabu, 24 Maret 2021

Sekilas Perihal Serpentin Selaku Hasil Alterasi Olivin

Apa itu Serpentin?

Perlu diketahui bareng bahwa serpentin intinya bukan sebuah nama mineral tunggal. Sebaliknya, nama serpentin dipakai untuk mendefinisikan sekelompok besar mineral yang sesuai dengan formula yaitu: (X)2-3(Y)2(O)5(OH)4

Pada formula diatas, X mampu merupakan salah satu dari logam aluminium, magnesium, besi, seng, nikel, ataupun mangan. Sedangkan Y akan menjadi aluminium, silikon, maupun besi. Dengan demikian formula umum yang sesuai adalah Seperti berikut ini:
(Mg, Fe, Ni, Mn, Zn)2-3(Si, Al, Fe)2(O)5(OH)4

Antigorit, chrysotil, dan lizardit ialah 3 mineral primer dari serpentin. Tetapi perlu dimengerti ada masih banyak mineral serpentin lainnya, dimana sebagian besarnya merupakan mineral jarang (rare mineral).

Kelompok (group) mineral serpentine mempunyai sifat fisik yang serupa dan terbentuk oleh proses yang seperti pula. Di dalam batuan, mineral-mineral serpentin akan sering muncul dalam bentuk gabungan butiran halus, dan bisanya cukup susah untuk dibedakan. Ahli geologi umumnya menyebut material ini dengan sebutan "serpentin" untuk mempersempit pendiskripsian nama mineral.

Terbentuknya Serpentin dari Olivin

Mineral serpentin mampu terbentuk dimana dunit, peridotit, dan batuan ultramafik yang lain mengalami metamorfisme hidrotermal. Selama proses metamorfisme hidrotermal, mineral olivin dan piroksen dapat diubah ataupun digantikan oleh mineral serpentin.

Pada kondisi yang demikian serpentin akan berubah menjadi mineral lattic dengan komposisi H, Mg Si, O yang terbentuk oleh proses alterasi hidrotermal dari mineral FerroMagnesian (Fe, Mg) mirip olivin, piroksen, amphibol. Mg serpentin murni bercampur dengan air kristal kurang lebih 12,9 % pada temperatur tinggi +800 derajat celcius.

Pada kenyataannya serpentin dapat dilihat sebagai replacement produk dari mineral utama dan terbentuk sebagai pseudomorph yang terendapakan pada kekar/rekahan dan batuan terbuka lainnya, juga dapat terbentuk dalam massa yang sungguh besar/luas. Serpentin ialah salah satu produk dari alterasi hidrotermal olivin. Serpentin dapat di bagi menjadi 3 bentuk, yakni :
  1. Pada kondisi statis, terbentuk fibrous chrysotile
  2. Pada keadaan tekanan, terbentuk flaky antigorite
  3. Pada kondisi niscaya, terbentuk structureless serpophite

Alterasi olivin umumnya dimulai disepanjang kekar-kekar yang acak di dalam kristal, dimana kristal utama teralterasi dan tergantikan menjadi pseudomorph sebagai hasil/produk alterasi. Batuan yang tersenpentinitkan biasanya lebih bersifat magnetik.

 Perlu diketahui bersama bahwa serpentin pada dasarnya bukan sebuah nama mineral tunggal Sekilas Tentang Serpentin Sebagai Hasil Alterasi Olivin
Serpentinisasi batuan ultramafik (dunit).

Syarat-syarat terjadinya serpentinisasi dari olivin diantara yaitu ; Besarnya penambahan air, Pencucian (leaching) dari magnesia (atau penambahan silika), Pelepasan komponen besi (Mg, Fe) di dalam olivin, dan Perbandingan pelepasan besi dari ferrous menjadi bab dari ferric membentuk magnetit berbutir halus.

Pada air silika bebas, olivin terubah menjadi serpentin pada temperature antara 200-5000 C. Di atas 5000 C olivin tidak akan terubah menjadi serpentin tetapi akan berubah menjadi mineral lain seperti 200-5000 C Olivin – Serpentin, 500-6250 C Olivin – Talc, 625-8000 C Olivin – Enstatite – Talc, > 8000 C Olivin – Enstatite (piroksen).
Sumber https://www.geologinesia.com/

Mineralisasi Dan Alterasi Pada Batuan Metamorf

Mineralisasi pada batuan metamorf sungguh mempesona untuk di pemeriksaan. Komplesitas yang mempengaruhinya merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk memecahkan mekanisme pembentukan dan keberadaanya. Banyak faktor yang berperan untuk menciptakan mineralisasi yang bernilai irit pada batuan metamorf, diantaranya yaitu tektonik dan fasies metamorf itu sendiri. yang perlu digarisbawahi disini ialah apakah mineralisasi yang terjadi ialah produk sebelum, serempak, ataukah sesudah batuan metamorf itu terbentuk. Dibawah ini aku suguhkan suatu ringkasan hasil investigasi lapangan yang di "compile" dengan beberapa teori, meskipun sangat singkat (memikirkan privasi data perusahaan), diperlukan ini mampu menolong kita dalam mengevaluasi mineralisasi yang bernilai ekonomis pada batuan metamorf (Orogenic Minerals Deposite).

Teori Mineralisasi pada Batuan Metamorf

Sabuk metamorfik ialah tempat kompleks dimana terdapat akresi dan kolisi dan melibatkan kerak benua. Proses tektonik yang terjadimerupakan skala litosferik, keterlibatan temperatur dan tekanan, dikarenakan oleh proses magmatik pada busur depan dengan perkumpulan prisma akresi dan cekungan ekstensional pada bagian busur belakang, deformasi dan metamorfosa umumnya berasosiasi dengan magmatisme granitoid plutonik, dan pengangkatan serta erosi yang diikuti pembentukan cekungan dimana material sedimen dapat terakumulasi.

Endapan emas mampu terbentuk pada aneka macam tingkat dari evolusi orogenik, sehingga muncul sabuk metamorfik yang mengandung beragam tipe endapan yang mampu saling sejajar atau memangkas. Groves et al. (2003) membedakan endapan emas yang terbentuk pada sabuk metamorfik selama proses orogen pada fase kompresi berdasar genesa dan bentuk geometri. Tipe-tipe endapan tersebut antara lain, endapan emas orogenik, endapan emas yang berasosiasi dengan intrusi, dan endapan emas yang berasosiasi dengan logam dasar.

Mineralogi, Geokimia, dan Tatanan Tektonik

Keseluruhan Daerah observasi mempunyai litologi batuan metamorf yang terdiri atas Satuan Batuan Schist dan Satuan Batuan Gneiss. Batuan asal ini mengindikasikan sudah terjadinya akresi dan koalisi yang melibatkan kerak benua akhir kegiatan tektonik yang melibatkan temperatur dan tekanan pada skala litosferik.

Kodisi geologi di tempat observasi yang tersusun atas batuan schist dan gneiss terbentuk akibat metamorfisme regional. Terdapat kendali struktur yang kuat kepada proses mineralisasi dengan skala yang bermacam-macam. Struktur yang dijumpai di lapangan diantaranya :
  1. Patahan brittle hingga ductile dengan zona hancuran yang intensif balasan sesar regional, dan pergerakan bidang sesar geser
  2. Zona breksiasi pada batuan
  3. Zona foliasi, rekahan yang terbentuk akhir tekanan dan terisi oleh mineral silika

Berdasarkan kenampakan diatas serta aneka macam faktor geologi yang mempengaruhinya maka bentuk mineralisasi di tempat penelitian adalah Veins Filling Faults. Bentukan mineralisasi mirip ini bahwasanya sangat harapan terhadap cebakan emas, akan namun karena keterdapatannya pada skala struktur yang lokal tingkat stadia tempat yang muda, serta intensif weathering pada batuan asal menjadikan endapan emas sukar dijumpai.

Fasies Metamorf dan Alterasi Batuan Samping

Endapan emas pada batuan metamorf tentunya berkaitan dengan proses metamorfosa yang menciptakan batuan metamorf. Endapan emas di kawasan observasi berasal dari batuan asal yang terbentuk alasannya proses metamorfosa regional membentuk batuan metamorf Fasies Sekis Hijau, dimana derivite pelitiknya berasal dari batuan schist yang tercirikan oleh sekistositas sebab orientasi terpilih atau terarah dari mineral mika dan khlorit.

Di kawasan penelitian, batuan metamorf menawarkan zonasi lateral pada fase alterasi dari proksimal yang meraih skala endapan yang tidak terlalu luas. Alterasi yang mampu tampakdi daerah penelitian ialah kloritisasi (lihat gambar 1b). Diperkirakan zona alterasi terbentuk pada fase permulaan zona sesar lokal dan diatur struktur skala besar (Sesar Kolaka). Kehadiran metasomatisme alkali menjadikan proses serisitisasi sulit ditemui. Kloritisasi Klorit muncul hadir gotong royong dengan kuarsa dalam bentuk kumpulan mineral. Perkembangan mineral klorit mampu dihasilkan dari alterasi mineral mafik yang ada pada batuan asal atau dari magnesium dan besi yang ada sebelumnya.

Endapan emas di kawasan penelitian kemungkinan dicirikan dengan metode urat secara umum dikuasai kuarsa. Mineral mika dan klorit sering menjadi pengotor pada urat yang ditemukan pada batuan pembawa fasies sekis hijau. Oleh sebab dipengaruhi oleh struktur yang lokal maka sistem urat tidak terlihat pada dimensi yang besar sehingga keterdapatan cebakan emas juga hanya sedikit. Perbandingan emas dengan bijih yang terdapat pada urat dan pada batuan samping belum mampu diperoleh, karena belum dilakukan pengiriman sampel untuk analisa mineralogi. Berdasarkan megaskopis mineralogi sementara dari hasil sample stream dan "sample chips", menawarkan adanya mineral berat mirip Ilmenite, Chromite, Arsenopirit, Au, dan Pb.

Berdasarkan dari parameter diatas maka mampu digolongkan bahwa tipe dari endapan emas di daaerah observasi yakni Endapan Emas Orogenik Lokal yang terbentuk balasan kendali metamorfosa regional terhadap struktur lokal. Berdasarkan dari fasies metamorfisme batuan pembawa emas maka zona endapan emas di kawasan penelitian masuk dalam zona Mesozonal pada kedalaman 6-12 Km dengan temperatur 300-475 C (lihat gambar 1d).

Mineralisasi pada batuan metamorf sangat menarik untuk di investigasi Mineralisasi dan Alterasi pada Batuan Metamorf
Gambar 1. Penyelidikan endapan emas orogenik, (a) foliasi schist, (b) batuan fasies sekis hijau,
(c) pan concentrate, (d) zona endapan emas orogenik, Gebre Mariam et al, 1995).

Berdasarkan dari hasil survey peluangemas metamorfik di tempat observasi maka diperoleh kesimpulan selaku berikut :
  1. Litologi penyusun daerah penelitian terbagi atas 2 satuan batuan yaitu Satuan Batuan Schist dan Satuan Batuan Gneiss. Struktur Geologi yang meningkat di daerah observasi terdiri atas Struktur Sesar Normal, Sesar Geser, dan Lipatan.
  2. Ditemukan zona mineralisasi cuma pada kawasan sepanjang sesar geser dengan arah relatif tenggara barat bahari, sepanjang sungai X. Secara megaskopis hasil sample stream sedimen dan "sample chips", endapan emas tampakdalam jumlah yang tidak terlalu signifikan. Mineral yang tampakdiantaranya ialah Ilmenite, Chromite, Arsenopirit, Au, dan Pb.
  3. Tipe endapan emas yang dijumpai ialah Endapan Emas Orogenik Lokal yang terbentuk balasan kontrol metamorfosa regional kepada struktur setempat (Sesar Geser). Fasies metamorfik yang terjadi tergolong dalam fasies sekis hijau dimana berada pada zona ”mesozonal” dengan kedalaman 6-12 Km dengan temperatur 300-475 C. Alterasi batuan samping yang mampu tampakdi kawasan observasi hanya berupa kloritisasi. Kloritisasi hadir gotong royong dengan kuarsa dalam bentuk kumpulan mineral.

Secara lazim potensi emas pada tempat ini kurang kesempatan untuk dijalankan pengcoveran daerah IUP, hal ini dikarenakan tipe emas mirip ini cenderung mempunyai deposit yang elok pada kendali struktur yang regional. Sedangkan di daerah observasi kontrol struktur yang terjadi cuma bersifat setempat. Untuk harapan tambang berukuran menengah sampai tinggi, lahan ini tidak di rekomendasikan. Perlu dikerjakan penelusuran lahan yang sekiranya lebih erat dengan jalur stuktur regional dengan jenis batuan metamorf yang bertekstur schistose, dimana keduanya ini sangat mempengaruhi keterdapatan endapan emas metamorfik yang lebih prospek.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Selasa, 23 Maret 2021

Cara Menjumlah Sumberdaya Nikel Laterit

Banyak jalan menuju ke Roma dalam melakukan perhitungan cadangan maupun sumberdaya nikel laterit kalau kita belum mampu menggunakan software-software perhitungan sumberdaya (Surpac, Surfer, Rockworks, Minescape, dan lain-lain), selain itu perkiraan dengan menggunakan softwere membutuhkan waktu yang cukup usang untuk bisa sampai merilis data sumberdaya sebuah area. Oleh karena itu, cara manual mampu kita tempuh dengan melakukan perhitungan yang lebih sederhana, cepat, dan presisi (risikonya tidak jauh berlawanan dengan menggunakan softwere). Disini dibutuhkan Anda sudah paham apa perbedaan cadangan dan sumberdaya. Inilah menjadi dasar tulisan ini diberi judul perkiraan sumberdaya, bukannya cara mengkalkulasikan cadangan nikel laterit.

Metode Perhitungan Sumberdaya Nikel

Ada 3 metode yang mampu kita gunakan untuk menghasilkan data sumberdaya, yaitu metode Macro ( perorangan holes ), Voronoi, dan V&D (untuk tutorialnya akan aku jelaskan pada posting berikutnya). Dibawah ini saya akan menghidangkan ringkasan perbedaan perkiraan sumberdaya dengan memakai ketiga sistem tersebut, keunggulan dan kekurangannya silahkan dianalisa, kritik dan usulan untuk pengembangan metode ini silahkan diungkapkan.

Setelah dijalankan analisa data kepada mekanisme tata cara Macro/individual holes dalam perhitungan sumberdaya nikel laterit maka dapat dibilang bahwa tata cara ini memproses perkiraan berdasarkan area efek secara individual holes pada keadaan konstanta perkiraan yang ideal, lihat perbandingan dibawah ini :

Dibuat spreadsheet dalam keadaan ideal, dimana menggunakan 4 titik (4 hole) ketimbang perhitungan blok kubus. Dimana dibuat konstanta OT (ore thickness), WTF (wet tonnage factor/wet density), area efek, dan elevasi yang serupa. Dari hasil perbandingan tersebut (tonnage blok kubus =68,000 mT & Macro = 68,184 mT) dapat tampaktingkat akurasi macro yaitu 99.7% kalau dalam kondisi ideal.

Dibuat spreadsheet dalam kondisi dimana memakai 4 titik (4 hole), dimana dibuat konstanta 1 buah titik (hole) mempunyai internal waste, sedangkan WTF, area efek, dan elevasinya sama. Dari hasil perbandingan tersebut (tonnage Kubus = 127,500 mT dan Macro = 127,845 mT) dapat terlihat tingkat akurasi Macro masih berada di 99.7% pada kondisi adanya internal waste. Mengacu pada hasil tersebut, dapat disiumpulkan bahwa yang sungguh berperan dalam versi tersebut yaitu elevasi dan ore thickness (OT).

Banyak jalan menuju ke Roma dalam melakukan perhitungan cadangan maupun sumberdaya nikel l Cara Menghitung Sumberdaya Nikel Laterit
Gambar blok kubus dengan konstanta kompleks.
Gambar diatas menawarkan bahwa kondisi Titik A1 dan A2 yang berbeda baik elevasi maupun OT nya, sehingga diperoleh beberapa bangun/kubus yang mesti dijumlah sedetail mungkin untuk menemukan akurasi perhitungan sumberdaya yang presisi.

Berdasarkan hat tersebut, dibutuhkan geology factor (GF) untuk memperbesar tingkat akurasi perkiraan. Besarnya geology factor mampu ditemukan dengan menghitung rata-rata prosentase dari selisih perhitungan volume pada block versi sederhana yang dibuat oleh surpac kepada tata cara macro pada beberapa keadaan ekstrim seperti OT pada 2 titik yg berlawanan, pada 2 titik dimana salah satu titik mengandung internal waste dan elevasi yang berlainan atau bahkan pada kondisi ekstrim dengan sudut kemiringan tertentu.

Yang dimaksud dengan perbandingan disini adalah dengan menggunakan sistem macro/perorangan hole selaku sumber data untuk mengkalkulasikan sumberdaya nikel laterit disebandingkan dengan metode Voronoi dan sistem Voronoi+Digitasi (V&D) biar tidak terjadi over perhitungan ROM yang biasa terjadi pada metode Macro. Dari perhitungan ke tiga metode diatas dengan menggunakan data bor maka diperoleh perbedaan perhitungan sumberdaya, jadinya mampu dilihat selaku berikut :

Contoh Perhitungan Sumberdaya Nikel pada Blok Andromeda

Dari 8 hole di Blok Andromeda diperoleh 6 hole merupakan harapan ore. Pendiskripsian hole-hole yang harapan ini telah pasti dengan memperhatikan striping ratio (SR), OT dan Average Ni (avg Ni). Hole yang dianggap tidak harapan akan dikesampingkan dari perhitungan ini. Dengan kata lain, jika ingin mengenali sumberdaya hipotetik maka pengolahan data seluruh hole mampu dilakukan tanpa memperhatikan SR, OT, dan Avg Ni. Tetapi bila kita harapkan perhitungan yang lebih spesifik maka tata cara inilah yang mesti digunakan (pahami pengertian dan macam-macam penjabaran sumberdaya).

Dari evaluasi ini akan diperoleh Luas Area Pengaruh (LAP) dari Hole-hole yang kesempatan tersebut. Sedangkan Metode V&D diperoleh dengan cara melaksanakan digitasi kembali area pengaruh sesuai dengan interpretasi geology dengan memperhatikan sebaran OT yang dihasilkan dari distribusi secara lateral hasil eksekusi macro. Diperoleh sumberdaya Blok Andromeda : Metode Macro = 133,671.81, Metode Voronoi = 181,441.14, Metode V&D = 161,546.10

Dapat dilihat bahwa nilai pada metode Voronoi condong lebih besar, hal ini dikarenakan Luas Area Pengaruh (LAP) pada sistem ini lebih besar dibandingkan dengan luas area dampak pada metode Macro. Kondisi ini sudah pasti besar lengan berkuasa pada Metode V&D akan namun sistem V&D nilainya masih berada dibawah sistem Voronoi karena adanya interpretasi (Koreksi Luas Area Pengaruh). Dapat dibilang bahwa sistem Voronoi cocok dipakai pada data dengan spasi pemboran yang lebih spesifik mirip spasi 25m atau spasi 12.5m. Pada spasi pemboran yang random akan lebih efektif kalau menggunakan tata cara macro yang cenderung menurut individual holes area efek dengan spasi konstan yang bisa dibentuk pada ketika melaksanakan macro (misalnya spasi 50m maka LAP nya akan berada pada 50x50m).

Perhitungan Sumberdaya Nikel pada Block Orion

Dasar penghitungan sama dengan di Blok Andromeda dengan COG 1.8% Ni, dimana pada blok ini diperoleh 3 zona ore yang terpisah, diperoleh hasil sebagai berikut : Metode Macro = 687,233.16 mT, Metode Voronoi = 832,601.75 mT, Metode V&D = 604,190.92 mT.

Dari review diatas diperoleh bahwa metode V&D lebih kecil dari 2 metode lainnya. Dapat dilihat bahwa tata cara ini mungkin akan lebih cocok digunakan pada spasi pemboran 50m dimana secara tidak langsung terjadi penggabungan sistem Macro dan Voronoi. Metode macro sangat sulit untuk mencari area pengaruh pada titik pemboran yang berada dibawah spasi 50m tetapi tidak sejajar (titik pemboran yg acak ada yg jarak 50m, 40m, 30m dsb), sehingga diperlukan sistem voronoi untuk mencari statistik Luas Area Pengaruh (LAP). Sedangkan Metode Voronoi masih tetap tidak konsisten pada spasi 50m khususnya pada hole-hole terluar yang nantinya LAP nya akan membesar.

Total sumberdaya nikel laterit pada kedua Blok tersebut diatas berdasarkan 3 Metode yakni Metode Macro = 820,904.97 mT, Metode Voronoi = 1,014,042.89 mT, Metode V&D = 765,732.02 mT. Pada metode Macro jikalau ingin dikerjakan perkiraan sumberdaya yang lebih spesifik atau lebih dari sekedar sumberdaya hipotetik maka diperlukan orientasi hole-hole prospek yang menyanggupi aspek SR, OT, dan Avg Ni. Menggunakan Metode Voronoi pada spasi pemboran 50m ke atas akan menimbulkan Luas Area Pengaruh (LAP) terutama pada hole-hole terluar dari Boundary menjadi lebih luas. Hal ini akan menyebabkan over perhitungan. Untuk menangani hal ini perlu dijalankan Metode penggabungan (tata cara V&D).

Sumberdaya keseluruhan tiap metode pada Blok Andromeda dan Blok Orion bisa ketimbang perhitungan menggunakan Surpac untuk mendapatkan Geology Factor (GF) dari metode ini. Perbandingan mesti dikerjakan dengan syarat validasi data bor yang sama baik COG, layer ore dan WTF yang digunakan ketika pengolahan data di Surpac. Pada risikonya dimengerti tata cara mana yang mendekati perkiraan memakai Surpac.

Tips Sebelum Melakukan Perhitungan Sumberdaya

Diperlukan interpretasi khusus pada ketika memilih hole-hole prospek baik dari sisi SR, OT, maupun avg Ni. Sebaiknya ini didiskusikan dengan estimator yang menggunakan surpac perihal citra SR, OT, maupun Ni yang kesempatan untuk ditambang, biar ditemukan parameter interpretasi yang lebih baik. Perhitungan dengan metode diatas dilakukan kalau data bor telah sungguh-sungguh tervalidasi dengan baik dan menghasilkan parameter range WTF yang tepat. Oleh alasannya adalah itu pengambilan data pada ketika ekplorasi terutama pada core recovery dan berat sample wet sangat penting diperhatikan sebab sangat besar lengan berkuasa pada perhitungan WTF dan Volume. Perhitungan tonnage OB (overburden) juga bisa dijalankan dengan metode diatas dimana pada pembuatan macro bisa ditemukan density dari OB dengan cara hanya memasukan layer OB saja, atau dengan menggunakan asumsi density biasa OB=1.6.

Update konten Perhitungan Sumberdaya Nikel: Desember 2019.
Sumber https://www.geologinesia.com/

Tekstur Vein Kuarsa Pada Sistem Epitermal

Terkadang dari teori yang bla...bla...bla...kita telah banyak tahu klasifikasi tekstur pada vein kuarsa (quartz vein textures), lengkap dengan genesanya yang begitu wah., akan tetapi kenampakan/visual masih banyak yang belum pernah melihatnya. Oleh karena itu, dibawah ini saya coba berikan gambar hand-specimen macam-macam tekstur vein/urat kuarsa pada tata cara epitermal, agar mampu membantu pada ketika kenali dilapangan.

kita sudah banyak tahu klasifikasi tekstur pada vein kuarsa  Tekstur Vein Kuarsa pada Sistem Epitermal
Gambar macam-macam tekstur pada vein kuarsa.

Di bawah ini ialah acuan macam-macam tekstur vein kuarsa yang kemungkinan besar dapat kalian temukan saat melaksanakan pemetaan geologi, yaitu:

Massive ; Istilah untuk menawarkan urat kuarsa yang memililki lebih banyak atau lebih minim kenampakan homogen pada area yang luas dan menawarkan ketidakhadiran banding, shear fracture, atau sifat yang mirip lainnya.

Crustiform ; Istilah crustiforn dianalogikan selaku crustiform-banding dideskripsi oleh Adams (1920), Lindgren (1993), dan Shaub (1934). Tekstur ini berurutan, tipis (hingga beberapa sentimeter), dan subparalel-band yang dibedakan oleh tekstur, proporsi mineral, dan/atau warna. Umumnya, banding terbentuk dari dua dinding yang retak.

Cockade ; ialah bagian dari tektur crustiform seperti yang sudah dideskripsi sebelumnya oleh Taber dalam Adams (1920) dan Spurr (1926). Pada breksi, konsentrik crustiform-grup band terdiri dari fragmen gila dari dinding batuan atau material urat permulaan sehingga menciptakan tekstur cockade.

Colloform ; Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Rogers (1917). Pada umunya, permukaan luar dari mineral atau agregat mineral yang menawarkan variasi bentuk spherical, botryodal, reniform, dan mammillary disebut colloform. Untuk mineral silika, tekstur ini mengkarakteristikan agregat kalsedon dalam grup musik yang halus. Dibawah mikroskop, kalsedon dengan tekstur colloform berupa seperti serat-serat yang tipis.

Comb ; Tekstur comb merupakan kelompok kristal kuarsa baik paralel maupun subparalel yang berorientasi perpendicular pada dinding urat, jadi bentuknya mirip sisir gerigi. Umumnya kristal memperlihatkan ukuran butir yang seragam dan berbentuk euhedral pada ujungnya.

Zonal ; Tekstur zonal memberikan alterasi yang terperinci dan zona milky dengan kristal kuarsa individu. Zona Milky diisi sarat oleh fluida atau inklusi padat dan lazimnya paralel pada pertumbuhan kristal.

Saccharoidal ; Pada sampel megaskopis, tekstur ini terlihat seperti butiran gula. Dibawah mikroskop, berlimpah kristal yang memanjang dengan bentuk subhedral, secara acak yang terdistribusi dalam matriks yang lebih kecil yang berbentuk anhedral.
Sumber https://www.geologinesia.com/