Jumat, 13 Maret 2020

Dari Mana Sebenarnya Asal Usul Star Jelly Di Bumi?

Ilustrasi/tribunnews.com
Salah satu misteri asing terkait fenomena alam yakni Star Jelly, benda ajaib seperti semoga-biar, yang sering timbul di berbagai tempat. Selama berabad-masa, orang-orang meyakini bahwa Star Jelly adalah benda yang dibawa oleh meteor yang jatuh ke bumi.

Star Jelly ialah substansi berupa gelatin, dan fenomena ini telah timbul semenjak tahun 1641, serta menjadi salah satu misteri yang paling membingungkan dalam sejarah sains. Seperti yang disebut tadi, masyarakat meyakini bahwa benda aneh yang disebut Star Jelly itu dibawa meteor yang jatuh ke bumi.

Dalam suatu postingan yang diterbitkan oleh Scientific American tahun 1846, deskripsi perihal hujan meteor juga dihubungkan dengan penemuan jelly misterius ini. Artikel itu menyebut, “Sepertinya, ukuran meteor lebih besar dari matahari, dan dia menciptakan langit menjadi terang mirip siang hari. Ketika meteor itu jatuh, sejumlah penduduk secepatnya mencari lokasinya, dan mendapatkan sekumpulan jelly dengan diameter 1,2 meter.”

Dari banyak artikel yang mengulas fenomena ini, kita seperti diberi tahu bahwa semenjak berabad-kala lampau orang sudah menghubungkan Star Jelly dengan meteor atau bintang jatuh. Keyakinan itu pun terbawa sampai kini.

Pembahasan yang lebih terbaru mengenai Star Jelly timbul di suatu postingan yang terbit pada 1979 di Fate Magazine. Di situ disebut bahwa Star Jelly yakni substansi ekstraterestrial yang berisikan cellular organic matter, yang eksis sebagai prestellar molecular clouds yang melintasi luar angkasa.

Kalimat penjelasan itu mungkin terdengar membingungkan, dan bisa jadi kita tidak paham arti kalimat atau istilah-ungkapan rumit itu. Tetapi, setidaknya, Fate Magazine sudah mengakibatkan kembali fantasi-fantasi mengenai makhluk ekstraterestrial. Beberapa pakar UFO bahkan menyatakan bahwa jelly tersebut ialah sisa-sisa binatang luar angkasa.

Selama berabad-masa, ada banyak sekali laporan ditemukannya gumpalan-gumpalan gelatin di tanah, sehari setelah penampakan meteor jatuh atau hujan meteor. Misalnya yang terjadi pada tahun 1950, suatu gumpalan besar ditemukan oleh polisi di Philadelphia. Polisi mendeskripsikan gumpalan itu sebagai “jelly dengan bentuk mirip piringan, dengan diameter 1,8 meter. Tebalnya sekitar 30 cm di tengah, dan sekitar 5 cm di tepinya.”

Yang asing, dikala jelly itu disentuh, bab yang disentuh secepatnya bermetamorfosis buih dan lenyap di udara, tanpa meninggalkan bacin sedikit pun. Pada malam sebelumnya, sebelum penemuan jelly ajaib itu, masyarakatsekitar melaporkan adanya meteor jelas yang lewat di tempat itu.

Pada 1994, para penduduk di Oakville, Washington, melaporkan adanya “hujan gelatin” terjadi di kawasan mereka. Peristiwa itu bahkan disinggung dalam salah satu seri Unsolved Mystery, acara televisi yang membahas banyak sekali fenomena misterius.

Pada 3 November 1996, suatu meteor besar terlihat melalui langit Kempton, Australia. Keesokan paginya, para penduduk menemukan jelly bening di halaman rumah dan trotoar kota.

Laporan inovasi paling baru terjadi pada tahun 2009, ketika masyarakatdi perbukitan Skotlandia memperoleh gumpalan-gumpalan jelly di sekeliling bukit.

Dari mana sebenarnya asal permintaan jelly gila itu? Benarkah beliau muncul dari meteor yang jatuh ke bumi?

The Massachusetts Department of Environment Quality Engineering pernah meneliti jelly gila itu, dan menyimpulkan bahwa substansi tersebut tidak beracun, dan tidak berbahaya bagi insan. Meski begitu, mereka tidak mampu memutuskan benda apa itu bergotong-royong.

Kaprikornus, benarkah Star Jelly memang berasal dari meteor yang jatuh, sehingga substansinya susah dimengerti sebagaimana lazimnya benda bumi?

Dari kacamata sains, meteor sesungguhnya hampir tidak pernah mencapai permukaan bumi. Kebanyakan meteor akan segera terbakar habis di atmosfer. Seperti kita tahu, meteor lazimnya yang dibuat dari batu atau partikel besi. Jika meteor mempunyai elemen jelly, pasti jelly itu akan segera terbakar habis, sebelum meraih bumi. Kaprikornus jelly itu pasti tidak berafiliasi dengan meteor sama sekali.

Menurut para peneliti, para saksi yang menyaksikan meteor akan mendatangi daerah yang dianggap sebagai kawasan jatuhnya meteor, dan mungkin mereka menemukan jelly yang memang sudah ada di situ sebelumnya.

Teori ini cukup masuk nalar, sebab kerap kali penemuan jelly tidak dibarengi oleh penampakan meteor di malam sebelumnya. Dan kalau kekerabatan antara meteor dan Star Jelly telah diabaikan, lalu bahan apa itu sesungguhnya?

Polusi industri

Sebagian orang berpendapat bahwa bahan yang disebut Star Jelly adalah hasil polusi industri. Pada 1950, contohnya, inovasi jelly di Philadelphia diketahui berdekatan dengan sebuah pabrik. Jarak dari tempat penemuan jelly ke pabrik itu sekitar 800 meter.

Lalu, pada 11 Agustus 1979, Sybil Christian dari Texas mendapatkan beberapa gumpalan jelly berwarna ungu di halaman rumahnya, setelah terjadi hujan meteor malam sebelumnya. Atas penemuan itu, Forth Worth Museum of Science and History menyelenggarakan observasi, dan menemukan bahwa pabrik baterai di erat situ menciptakan limbah berwarna ungu. Jadi mungkin ada korelasi antara gumpalan ungu tersebut dengan limbah pabrik.

Meski menggunakan pendekatan sains, teori ini tidak mampu menerangkan laporan penemuan Star Jelly sejak kala 17, jauh sebelum industri bertumbuh di Amerika dan Eropa. Dengan kata lain, belum tentu juga Star Jelly merupakan hasil polusi industri.

Sisa-sisa badan binatang

Sementara itu, The Book of British Amphibians and Reptiles yang ditulis oleh M. Smith menjelaskan bahwa Star Jelly bantu-membantu sisa-sisa oviduct kodok. Oviduct adalah susukan reproduksi di dalam tubuh kodok yang menghasilkan substansi berupa jelly, yang menyelubungi ovum hewan amfibi ini.

Menurut Smith, burung dan mamalia lain yang menyantap kodok lazimnya menyisakan oviduct, yang lalu bermetamorfosis jelly ketika bereaksi dengan udara. Namun, sama seperti teori polusi industri, teori ini juga mempunyai kelemahan.

Para peneliti dari National Geographic, yang meneliti sampel Star Jelly yang didapatkan di Amerika, tidak mampu mendapatkan DNA di dalamnya. Jika gumpalan jelly itu berasal dari binatang, tentu akan ada jejak-jejak DNA hewan di dalamnya.

Lagi pula, jika Jelly itu yaitu sisa-sisa badan kodok yang disantap burung, bagaimana menjelaskan penemuan jelly dengan diameter lebih dari satu meter? Berapa banyak kodok yang disantap dan dimuntahkan oleh burung?

Nostoc

Teori lain menyebut bahwa Star Jelly yaitu Nostoc, yaitu sejenis cyanobakteri air tawar, yang mempunyai kesempatanmembentuk koloni di area terbuka. Jika dalam keadaan biasa, koloni ini tidak akan tampakoleh manusia. Namun, saat hujan turun, koloni Nostoc akan menjelma gumpalan jelly yang mampu jadi disalahartikan selaku substansi yang gres jatuh dari langit.

Namun, teori ini tidak terlampau mempesona perhatian, sebab gumpalan jelly yang dihasilkan koloni Nostoc ternyata tidak mirip dengan gumpalan Star Jelly yang banyak ditemukan.

Tampaknya, sampai ketika ini, sains masih belum bisa menjawab bagaimana asal permintaan benda abnormal yang disebut Star Jelly. Para ilmuwan bersepakat bahwa sungguh gila jika benda itu disebut dibawa meteor dari luar angkasa ke bumi, karena niscaya telah hancur dan menguap sebelum meteor itu sampai di bumi. Tapi berbagai teori lain yang mencoba menjawab asal permintaan benda itu juga termentahkan.

Hans Sluiman, seorang ahli alga yang juga meneliti sampel Star Jelly, sungguh yakin bahwa Star Jelly bukan hewan juga bukan tumbuhan. Kalau memang bukan hewan dan bukan flora, lalu apa? Pertanyaan itu masih misteri.


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/


EmoticonEmoticon