Rabu, 10 Juni 2020

Mengapa Pria Melakukan Ghosting?

rumah makan ini. Saya sering makan malam di sana, karena cocok dengan masakannya, dan nyaman dengan suasananya. Rumah makan itu tenang dan sering sepi, khususnya malam hari, meski kadang juga ramai kalau pas akhir pekan. Intinya, saya suka makan di sana, dan sering menikmati makan malam sendirian di sana.

Selama waktu-waktu itu, saya kerap mendapati seorang wanita yang juga sering makan malam di sana—kadang sendirian, kadang bersama teman. Sebegitu sering, sampai kami seperti saling kenal, karena hafal wajah masing-masing. Sejak awal melihatnya, saya sudah tertarik. Karenanya, seusai makan, saya sering duduk menyandar dinding, dan merokok, sambil diam-diam curi pandang ke arahnya—kalau dia pas makan di sana.

Saya tahu, saya tertarik kepadanya. Tapi saya tidak tahu bagaimana cara mendekatinya. Jadi, saya hanya memandanginya saja, diam-diam. 

Lalu “keajaiban” terjadi. Suatu malam, kami bertemu di tempat parkir rumah makan. Saya baru datang, sementara dia akan pulang seusai makan. Di tempat parkir itu, kami berpapasan, dan, entah bagaimana, kami saling tersenyum—mungkin karena sudah biasa ketemu di sana. Dari senyum itu pula, saya memberanikan diri menyapa, “Lho, sudah mau pulang?”

Dia menjawab dengan ramah, dengan senyum indah yang membuat makan malam saya terasa lebih lezat.

Gara-gara insiden itulah, kami kemudian saling mendekat, dan saling mengenal satu sama lain. Tetapi, singkat cerita, saya akhirnya memilih menjauh, meski sebenarnya tertarik kepadanya.

Alasannya? Sederhana, saya menganggap dia “terlalu mewah” untuk saya. Ketika saya memilih menjauh dan akhirnya menghilang—dengan kata lain, ghosting—itu sama sekali bukan karena dia kurang ini atau kurang itu, tapi semata-mata karena saya menyadari bahwa... ya itu tadi, dia terlalu mewah untuk saya. Artinya, saya menjauh bukan karena dia punya kekurangan tertentu, tapi justru sebaliknya.

Sebagai pria, sejujurnya, saya merindukan wanita yang sederhana, menjalani kehidupan sederhana, dan nyaman dalam kesederhanaan. Karena saya orang sederhana, yang menjalani kehidupan seperti orang-orang biasa. 

Dalam bayangan ideal, kalau saya kelak memiliki pasangan, wanita pasangan saya adalah wanita seperti itu—yang sederhana, dan hidup dengan kesederhanaan, yang nyaman dan bahagia menjadi orang biasa (meski definisi “sederhana” di sini bisa relatif, ya).

Berdasarkan uraian ini, kita melihat sisi lain ghosting, yang mungkin belum sempat kita pikirkan. Bahwa ghosting belum tentu terjadi karena sesuatu yang bersifat negatif—misal karena si wanita punya kekurangan tertentu—tapi bisa pula karena hal lain, seperti yang tadi saya ceritakan.

Bisa jadi, wanita yang saya ceritakan tadi akan berpikir negatif, karena saya tiba-tiba menjauh darinya tanpa kejelasan. Bisa jadi pula, dia berpikir dan bertanya-tanya, “Apa kekurangan atau kesalahanku, sampai dia menjauh dan menghilang?” 

Saya ingin dia tahu, bahwa dia tidak punya kekurangan apalagi kesalahan apa pun, dan saya menjauh darinya semata-mata karena menganggap dia terlalu baik untuk saya—dalam arti harfiah. Mungkin akan lebih tepat jika dia berpasangan dengan pria yang sama-sama menjalani kehidupan glamor seperti dirinya, yang aktif di berbagai media sosial untuk menunjukkan eksistensi dan keinginan untuk dikenal dunia—bukan dengan pria sederhana seperti saya. 

Karenanya, wanita yang kebetulan menghadapi kenyataan semacam itu—pria yang mendekati tiba-tiba menjauh dan menghilang—tak perlu buru-buru berpikir negatif dan bertanya-tanya apa kekurangan atau kesalahan yang mungkin telah dilakukan. Ghosting yang terjadi mungkin bukan karena kau kurang sesuatu, dan bisa jadi memang begitu.


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/


EmoticonEmoticon