Minggu, 24 Januari 2021

Abjad Sunda

class="kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left "
data-id="2721"
data-slug="">





































5
/
5
(
13

votes

)



Sejarah Suku Sunda







  • ROGER L. DIXON




Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah lebih kurang 33 juta jiwa, pada umumnya dari mereka hidup di Jawa Barat. Diperkirakan 1 juta jiwa hidup di propinsi lain. Berdasarkan sensus tahun 1990 didapati bahwa Jawa Barat memiliki populasi terbesar dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia yaitu 35,3 juta orang.


Demikian pula masyarakatkota mencapai 34,51%, sebuah jumlah yang cukup mempunyai arti yang dapat dijangkau dengan berbagai media. Kendatipun demikian, suku Sunda yakni salah satu kalangan orang yang paling kurang dikenal di dunia. Nama mereka sering dianggap selaku orang Sudan di Afrika dan salah dieja dalam ensiklopedi. Beberapa koreksi ejaan dalam komputer juga menggantinya menjadi Sudanese.


Sejarah singkat pra-periode 20 ini dimaksudkan untuk memperkenalkan orang Sunda di Jawa Barat terhadap kita yang melayani di Indonesia. Pada masa ini, sejarah mereka telah terjalin melalui bangkitnya nasionalisme yang hasilnya menjadi Indonesia terbaru.




SISTEM KEPERCAYAAN MULA-MULA


Suku Sunda tidak seperti kebanyakan suku lainnya, dimana suku Sunda tidak memiliki mitos tentang penciptaan atau catatan mitos-mitos lain yang menerangkan asal mula suku ini. Tidak seorang pun tahu dari mana mereka datang, juga bagaimana mereka menetap di Jawa Barat. Agaknya pada kurun-kurun pertama Masehi, sekelompok kecil suku Sunda menjelajahi hutan-hutan pegunungan dan melaksanakan budaya babat bakar untuk membuka hutan. Semua mitos paling awal mengatakan bahwa orang Sunda lebih selaku pekerja-pekerja di ladang daripada petani padi.


Kepercayaan mereka membentuk fondasi dari apa yang sekarang disebut selaku agama asli orang Sunda. Meskipun mustahil untuk mengetahui secara pasti mirip apa iktikad tersebut, tetapi isyarat yang terbaik didapatkan dalam puisi-puisi epik antik (Wawacan) dan di antara suku Badui yang terpencil. Suku Badui menyebut agama mereka selaku Sunda Wiwitan [orang Sunda yang paling mula-mula].


Bukan hanya suku Badui yang hampir bebas sama sekali dari unsur- bagian Islam (kecuali mereka yang ditentukan ada lebih dari 20 tahun yang kemudian), namun suku Sunda juga menawarkan karakteristik Hindu yang sedikit sekali. Beberapa kata dalam bahasa Sansekerta dan Hindu yang berhubungan dengan mitos masih tetap ada.


Dalam monografnya, Robert Wessing mengutip beberapa sumber yang memperlihatkan suku Sunda secara umum, “The Indian belief system did not totally displace the indigenous beliefs, even at the court centers.”[1] Berdasarkan pada metode tabu, agama suku Badui bersifat animistik. Mereka percaya bahwa roh-roh yang menghuni watu-kerikil, pepohonan, sungai dan objek tidak bernyawa lainnya. Roh-roh tersebut melakukan hal-hal yang baik maupun jahat, tergantung pada ketaatan seseorang terhadap sistem tabu tersebut. Ribuan iman tabu digunakan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.




PENGARUH HINDUISME


Tidak seorang pun yang tahu kapan persisnya pola-acuan Hindu mulai meningkat di Indonesia, dan siapa yang membawanya. Diakui bahwa contoh- teladan Hindu tersebut berasal dari India; mungkin dari pantai selatan. Tetapi huruf Hindu yang ada di Jawa menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawabannya. Misalnya, sentra-pusat Hindu yang utama, bukan di kota-kota jualan di kawasan pesisir namun lebih di pedalaman.


Tampaknya terperinci bahwa ilham-pandangan baru keagamaanlah yang telah menaklukkan pedoman orang pribumi, bukan prajurit. Sebuah teori yang berpandangan bahwa kekuatan para penguasa Hindu/India sudah menawan orang-orang Indonesia terhadap iktikad-kepercayaan roh magis agama Hindu. Entah bagaimana, banyak faktor dari sistem dogma Hindu diserap ke dalam fatwa orang Sunda dan juga Jawa.


Karya sastra Sunda yang tertua yang populer adalah Caritha Parahyangan. Karya ini ditulis sekitar tahun 1000 dan mengagungkan raja Jawa Sanjaya sebagai tentara besar. Sanjaya yakni pengikut Shivaisme sehingga kita tahu bahwa kepercayaan Hindu telah berurat dan berakar dengan besar lengan berkuasa sebelum tahun 700. Sangat mengherankan, kira-kira pada waktu ini, agama India kedua, Budhisme, menciptakan performa pemunculan dalam waktu yang singkat. Tidak usang setelah candi-candi Shivaisme dibangun di dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah, monumen Borobudur yang indah sekali dibangun akrab Yogyakarta ke arah selatan.


Candi Borobudur ialah monumen Budha yang terbesar di dunia. Diperkirakan agama Budha yaitu agama resmi Kerajaan Syailendra di Jawa Tengah pada tahun 778 sampai tahun 870. Hinduisme tidak pernah digoyahkan oleh bagian kawasan lain di pulau Jawa dan tetap berpengaruh hingga kurun 13. Struktur kelas yang kaku berkembang di dalam penduduk . Pengaruh Sansekerta menyebar luas ke dalam bahasa penduduk di pulau Jawa. Gagasan ihwal ketuhanan dan kedudukan selaku raja dikaburkan sehingga keduanya tidak mampu dipisahkan.


Di antara orang Sunda dan juga orang Jawa, Hinduisme bercampur dengan penyembahan nenek moyang kuno. Kebiasaan peringatan hari-hari ritual setelah maut salah seorang anggota keluarga masih berlangsung hingga sekarang. Pandangan Hindu ihwal kehidupan dan kematian mempertinggi nilai ritual-ritual mirip ini. Dengan variasi-kombinasi yang tidak terbatas pada tema tentang badan spiritual yang datang bersama-sama dengan badan natural, orang Indonesia sudah memadukan filsafat Hindu ke dalam keadaan-keadaan mereka sendiri.


J. C. van Leur berteori bahwa Hinduisme menolong mengeraskan bentuk-bentuk kultural suku Sunda. Khususnya doktrin magis dan roh memiliki nilai sewenang-wenang dalam kehidupan orang Sunda. Salah seorang pakar budpekerti istiadat Sunda, Prawirasuganda, menyebutkan bahwa angka tabu yang bekerjasama dengan seluruh faktor penting dalam lingkaran kehidupan perayaan-peringatan suku Sunda sama dengan yang ada dalam kehidupan suku Badui.




PENGARUH ORANG JAWA


Menurut Bernard Vlekke, sejarawan terkenal, Jawa Barat ialah daerah yang bodoh di pulau Jawa sampai abad 11. Kerajaan-kerajaan besar bangun di Jawa Tengah dan Jawa Timur namun hanya sedikit yang berubah di antara suku Sunda. Walaupun terbatas, pengaruh Hindu di antara orang-orang Sunda tidak sekuat pengaruhnya mirip di antara orang-orang Jawa.


Kendatipun demikian, sebagaimana tidak berartinya Jawa Barat, orang Sunda mempunyai raja pada zaman Airlangga di Jawa Timur, kira-kira tahun 1020. Tetapi raja-raja Sunda semakin berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Jawa yang besar. Kertanegara (1268-92) ialah raja Jawa pada akhir periode Hindu di Indonesia. Setelah pemerintahan Kertanegara, raja-raja Majapahit memerintah sampai tahun 1478 namun mereka tidak penting lagi sesudah tahun 1389. Namun, dampak Jawa ini berlangsung terus dan memperdalam efek Hinduisme terhadap orang Sunda.




PAJAJARAN DEKAT BOGOR


Pada tahun 1333, hadir kerajaan Pajajaran di dekat kota Bogor kini. Kerajaan ini dikalahkan oleh kerajaan Majapahit di bawah pimpinan perdana menterinya yang populer, Gadjah Mada. Menurut kisah romantik Kidung Sunda, putri Sunda hendak dinikahkan dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit. Namun, Gadjah Mada menentang ijab kabul ini dan sesudah orang-orang Sunda berkumpul untuk acara akad nikah, beliau mengubah persyaratan.


Ketika raja dan para aristokrat Sunda mendengar bahwa sang putri cuma akan menjadi selir dan tidak akan ada ijab kabul mirip yang telah dijanjikan, mereka berperang melawan banyak rintangan tersebut sampai semuanya mati. Meski permusuhan antara Sunda dan Jawa berlangsung selama bertahun-tahun setelah episode ini (dan mungkin masih berlangsung), tetapi pengaruh yang diberikan oleh orang Jawa tidak pernah berkurang terhadap orang Sunda.


Hingga dikala ini, Kerajaan Pajajaran dianggap sebagai kerajaan Sunda tertua. Sungguhpun kerajaan ini cuma berjalan selama tahun 1482-1579, banyak acara dari para bangsawannya dikemas dalam legenda. Siliwangi, raja Hindu Pajajaran, digulingkan oleh persekutuan antara golongan Muslim Banten, Cirebon dan Demak, dalam persekongkolan dengan keponakannya sendiri.


Dengan jatuhnya Siliwangi, Islam menggantikan kendali atas sebagian besar wilayah Jawa Barat. Faktor kunci keberhasilan Islam ialah perkembangan kerajaan Demak dari Jawa Timur ke Jawa Barat sebelum tahun 1540. Dari sebelah timur menuju ke barat, Islam menembus sampai ke Priangan (dataran tinggi bagian tengah) dan meraih seluruh Sunda.




KEMAJUAN ISLAM


Orang Muslim telah ada di Nusantara pada permulaan tahun 1100 namun sebelum Malaka yang berada di selat Malaya menjadi kubu pertahanan Muslim pada tahun 1414, kemajuan agama Islam pada kurun itu hanya sedikit. Aceh di Sumatra Utara mulai mengembangkan dampak Islamnya kira-kira pada 1416. Sarjana-sarjana Muslim menahan tanggal kehadiran Islam ke Indonesia sampai hampir ke zaman Muhammad. Namun beberapa insiden yang mereka catat mungkin tidak penting.


Kedatangan Islam yang bergotong-royong tampaknya terjadi saat misionaris Arab dan Persia masuk ke pulau Jawa pada awal tahun 1400 dan lambat laun memenangkan para mualaf di antara kalangan yang berkuasa.




KEJATUHAN MAJAPAHIT


Sebelum 1450, Islam telah mendapatkan daerah berpijak di istana Majapahit di Jawa Timur. Van Leur memperkirakan hal ini ditolong oleh adanya disintegrasi budaya Brahma di India. Surabaya (Ampel) menjadi pusat belajar Islam dan dari sana para pebisnis Arab yang populer meluaskan kekuasaan mereka. Jatuhnya kerajaan Jawa ialah kerajaan Majapahit pada tahun 1468 dikaitkan dengan intrik dalam keluarga raja sebab fakta bahwa putra raja, Raden Patah masuk Islam. Tidak seperti pemimpin-pemimpin Hindu, para misionaris Islam mendorong kekuatan militer semoga memperkuat kesempatan-potensi mereka.


Memang tidak ada tentara aneh yang menyerbu Jawa dan memaksa orang untuk yakin. Namun dipergunakan kekerasan untuk menciptakan para penguasa menerima doktrin Muhammad. Baik di Jawa Timur maupun Jawa Barat, pemberontakan dalam keluarga-keluarga raja digerakkan oleh tekanan militer Islam. Ketika para aristokrat berubah akidah, maka rakyat akan ikut. Meskipun demikian, kita mesti mengenang apa yang ditunjukkan Vlekke bahwa perang-perang keagamaan jarang terjadi di sepanjang sejarah Jawa.




KERAJAAN DEMAK


Raden Patah menetap di Demak yang menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa. Ia mencapai puncak kekuasaannya menjelang 1540 dan pada waktunya menaklukkan suku-suku sampai ke Jawa Barat. Bernard Vlekke menyampaikan bahwa Demak mengembangkan daerahnya hingga Jawa Barat alasannya adalah politik Jawa tidak begitu berkepentingan dengan Islam. Pada waktu itu, Sunan Gunung Jati, seorang pangeran Jawa, mengirim putranya Hasanudin dari Cirebon untuk mempertobatkan orang-orang Sunda secara ekstensif.


Pada 1526, baik Banten maupun Sunda Kelapa (Jakarta) berada di bawah kontrol Sunan Gunung Jati yang menjadi sultan Banten pertama. Penjajaran Cirebon dengan Demak ini telah mengakibatkan Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Islam. Pada kuartal kedua kala 16, seluruh pantai utara Jawa Barat berada di bawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam dan penduduknya sudah menjadi Muslim.


Karena menurut data statistik penduduk tahun 1780 terdapat kira-kira 260.000 jiwa di Jawa Barat, dapat kita asumsikan bahwa pada era ke-16 jumlah masyarakatjauh lebih sedikit. Ini memberikan bahwa Islam masuk saat orang-orang Sunda masih merupakan suku kecil yang berlokasi terutama di pantai- pantai dan di lembah-lembah sungai mirip Ciliwung, Citarum dan Cisadane.




NATUR ISLAM


Ketika Islam masuk ke Sunda, memang ditekankan lima pilar utama agama namun dalam banyak bidang yang lain dalam pemikiran keagamaan, sinkretisme berkembang dengan cara pandang orang Sunda mula-mula. Sejarawan Indonesia Soeroto percaya bahwa Islam disediakan untuk hal ini di India. “Islam yang pertama-tama datang ke Indonesia mengandung banyak komponen filsafat Iran dan India.


Namun justru unsur-komponen merekalah yang membuat lebih mudah jalan bagi Islam di sini.” Para sarjana percaya bahwa Islam menerima jikalau adat istiadat yang menguntungkan penduduk mesti dipertahankan. Dengan demikian Islam bercampur banyak dengan Hindu dan budpekerti istiadat asli penduduk . Perkawinan beberapa agama ini umumdisebut “agama Jawa.” Akibat percampuran Islam dengan tata cara iktikad beragam (yang belakangan ini sering disebut aliran kebatinan) memberi deskripsi akurat terhadap kekompleksan agama di antara sukui Sunda dikala ini.




KOLONIALISME BELANDA


Sebelum kedatangan Belanda di Indonesia pada 1596, Islam telah menjadi pengaruh yang lebih banyak didominasi di antara kaum ningrat dan pemimpin masyarakat Sunda dan Jawa. Secara sederhana, Belanda berperang dengan sentra-sentra kekuatan Islam untuk menertibkan jual beli pulau dan hal ini membuat permusuhan yang memperpanjang pertentangan perang Salib masuk ke arena Indonesia.


Pada 1641, mereka mengambil alih Malaka dari Portugis dan memegang kendali atas jalur-jalur laut. Tekanan Belanda kepada kerajaan Mataram sungguh besar lengan berkuasa hingga mereka bisa merebut hak- hak ekonomi khusus di tempat pegunungan (Priangan) Jawa Barat. Sebelum 1652, daerah-daerah besar Jawa Barat ialah persediaan mereka. Ini memulai 300 tahun eksploitasi Belanda di Jawa Barat yang hanya rampung pada ketika Perang Dunia kedua.


Peristiwa-insiden pada periode 18 menghadirkan serangkaian kesalahan Belanda dalam bidang sosial, politik dan keagamaan. Seluruh dataran rendah Jawa Barat menderita di bawah persyaratan-standar yang bersifat opresif yang dipaksakan oleh para penguasa lokal. Contohnya yakni tempat Banten. Pada tahun 1750, rakyat mengadakan revolusi menentang kesultanan yang dikendalikan oleh seorang wanita Arab, Ratu Sjarifa.


Menurut Ayip Rosidi, Ratu Sjarifa yaitu kaki tangan Belanda. Namun, Vlekke berpendapat bahwa “Kiai Tapa,” sang pemimpin ialah seorang Hindu dan bahwa pemberontakan itu lebih diarahkan terhadap pemimpin-pemimpin Islam ketimbang kolonialis Belanda. (Sulit untuk melaksanakan rekonstruksi sejarah dari beberapa sumber sebab masing- masing golongan memiliki kepentingan sendiri yang mewarnai cara pencatatan insiden.)




AGAMA BUKANLAH ISU HINGGA TAHUN 1815


Selama 200 tahun pertama Belanda memerintah di Indonesia, sedikit masalah yang dikaitkan dengan agama. Hal ini terjadi sebab secara mudah Belanda tidak melaksanakan apa-apa untuk membawa kekristenan kepada penduduk asli. Hingga tahun 1800, ada “gereja kompeni” ialah “gereja” yang cuma namanya saja alasannya adalah cuma berfungsi melayani keperluan para pekerja Belanda di East India Company. Badan ini menertibkan seluruh kegiatan Belanda di kepulauan Indonesia. Hingga era 19 tidak ada sekolah bagi belum dewasa pribumi sehingga rakyat tidak memiliki cara untuk mendengar Bibel.


Pada pergantian era 19, East India Company melarat dan Napoleon menduduki Belanda. Pada 1811, Inggris menjadi pengelola Dutch East Indies. Salah satu inisiatif mereka yakni membuka negeri ini kepada acara misionaris. Walaupun terjadi kejadian penting ini, hanya sedikit yang dikerjakan di Jawa sampai pertengahan masa tersebut. Kendati demikian, beberapa fondasi telah ditaruh di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang menjadi versi bagi pekerjaan di antara orang Sunda.




SISTEM BUDAYA


Kesalahan politik yang paling populer yang dilakukan Belanda dimulai pada tahun 1830. Kesalahan politik ini disebut selaku Sistem Budaya tetapi sebetulnya lebih sempurna bila disebut metode perbudakan. Sistem ini mengintensifkan usaha-usaha pemerintah untuk menguras hasil bumi yang lebih banyak yang dihasilkan dari tanah ini. Sistem budaya ini memeras seperlima hasil tanah petani sebagai pengganti pajak.


Dengan menyelenggarakan hasil panen yang baru mirip gula, kopi dan teh, maka lebih besar lagi tanah pertanian yang diolahnya. Pengaruh ekonomi ke pedesaan bersifat dramatis dan percabangan sosialnya penting. Melewati pertengahan kurun, investasi swasta di tanah Jawa Barat mulai berkembang dan mulai muncul perkebunan-perkebunan. Tanah diambil dari tangan petani dan diberikan kepada para tuan tanah besar. Menjelang 1870, hukum agraria dipandang perlu untuk melindungi hak-hak rakyat atas tanah.




PERTUMBUHAN POPULASI DI JAWA


Pada tahun 1851, di Jawa Barat suku Sunda berjumlah 786.000 jiwa dan orang Eropa berjumlah 217 jiwa. Dalam jangka waktu 30 tahun jumlah masyarakatmenjadi dua kali lipat. Priangan menjadi titik pusat perdagangan barang yang diikuti arus penguasa dari Barat serta imigran-imigran Asia (kebanyakan orang Tionghoa). Pada permulaan abad 19, diperkirakan bahwa sepertujuh atau seperdelapan pulau Jawa merupakan hutan dan tanah kosong.


Pada tahun 1815, seluruh Jawa dan Madura hanya memiliki 5 juta penduduk. Angka tersebut bertambah menjadi 28 juta menjelang simpulan periode tersebut dan meraih 108 juta pada tahun 1990. Pertumbuhan populasi di antara orang Sunda mungkin ialah aspek non religius yang terpenting dalam sejarah mereka.




KONSOLIDASI PENGARUH ISLAM


Karena lebih banyak tanah yang dibuka dan perkampungan-perkampungan baru bermunculan, Islam mengirim guru-guru untuk tinggal gotong royong dengan penduduk sehingga dampak Islam bertambah di setiap habitat orang Sunda. Guru-guru Islam bersaing dengan Belanda untuk mengontrol kaum bangsawan guna menjadi pemimpin di antara rakyat.


Menjelang tamat kurun, Islam diakui sebagai agama resmi masyarakat Sunda. Kepercayaan-iman yang berpengaruh kepada banyak jenis roh dianggap selaku bagian dari Islam. Kekristenan, yang datang ke tanah Sunda pada pertengahan periode menunjukkan efek yang sedikit saja kepada orang-orang di luar kantong Nasrani Sunda yang kecil.




REFORMASI ABAD 20


Kisah dari masa ini dimulai dengan reformasi di banyak bidang. Pemerintah Belanda menyelenggarakan Kebijakan Etis (Ethical Policy) pada tahun 1901, alasannya dipengaruhi oleh kritik yang tajam di banyak sekali bidang. Reformasi ini khususnya terjadi dalam bidang ekonomi, mencakup perkembangan bidang pertanian, kesehatan dan pendidikan. Rakyat merasa diasingkan dari tradisi aristokrat mereka sendiri dan Islam menjadi jurubicara mereka menentang ekspansi imperialistik besar yang sedang berlangsung di dunia melalui serangan ekonomi negara-negara Eropa. Islam ialah salah satu agama utama yang menjajal menyesuaikan diri dengan dunia terbaru.


Gerakan reformator yang dimulai di Kairo pada tahun 1912 diekspor ke mana-mana. Gerakan ini menciptakan dua kalangan utama di Indonesia. Kelompok tersebut yakni Sareket Islam yang diciptakan untuk sektor perdagangan dan bersifat nasionalis. Kelompok lainnya yaitu Muhammadiyah yang tidak bersifat politik namun berjuang menyanggupi kebutuhan rakyat akan pendidikan, kesehatan dan keluarga.




TIDAK ADA KARAKTERISTIK SEJARAH SUNDA


Apa yang menonjol dalam sejarah orang Sunda yaitu kekerabatan mereka dengan kelompok-kelompok lain. Orang Sunda cuma mempunyai sedikit karakteristik dalam sejarah mereka sendiri. Ayip Rosidi menguraikan lima rintangan yang menjadi argumentasi sulitnya mendefinisikan huruf orang Sunda. Di antaranya, ia menawarkan teladan orang Jawa selaku satu kelompok orang yang mempunyai identitas jelas, bertolak belakang dengan orang-orang Sunda yang kurang dalam hal ini.


Secara historis, orang Sunda tidak memainkan suatu peranan penting dalam permasalahan-permasalahan nasional. Beberapa insiden yang sungguh penting sudah terjadi di Jawa Barat tetapi biasanya insiden-insiden tersebut bukanlah peristiwa yang mempunyai karakteristik Sunda. Hanya sedikit orang Sunda yang menjadi pemimpin baik dalam hal konsepsi maupun implementasi dalam acara-acara nasional. Memang banyak orang Sunda yang dilibatkan dalam berbagai peristiwa pada abad 20, tetapi secara statistik dikatakan, mereka tidak begitu mempunyai arti. Pada kurun ini, sejarah orang Sunda pada hakekatnya ialah sejarah orang Jawa.




ORIENTASI KEAGAMAAN ABAD 20


Agama di antara orang Sunda yakni mirip bentuk-bentuk kultural mereka yang lain. Pada lazimnya , merefleksikan agama orang Jawa. Perbedaan yang penting yakni kelekatan yang lebih berpengaruh terhadap Islam dibanding dengan apa yang dapat kita peroleh di antara orang Jawa. Walaupun kelekatan ini tidak sedahsyat rakyat Madura atau Bugis, tetapi cukup penting untuk menerima perhatian khusus jikalau kita melihat sejarah orang Sunda.


Salah satu faktor sungguh penting dalam agama-agama orang Sunda yaitu dominasi keyakinan-akidah pra-Islam. Kepercayaan itu ialah konsentrasi utama dari mitos dan ritual dalam upacara-upacara dalam bulat kehidupan orang Sunda. Upacara-upacara tali paranti (tradisi-tradisi dan hukum budpekerti) senantiasa diorientasikan utamanya di seputar penyembahan terhadap Dewi Sri (Nyi Pohaci Sanghiang Sri).


Kekuatan roh yang penting juga yaitu Nyi Roro Kidul, tetapi tidak sebesar Dewi Sri. Ia ialah ratu bahari selatan sekaligus pelindung semua nelayan. Di sepanjang pantai selatan Jawa, rakyat takut dan senantiasa menyanggupi tuntutan dewi ini sampai kini. Contoh lain ialah Siliwangi. Siliwangi yaitu kuasa roh yang ialah kekuatan dalam kehidupan orang Sunda. Ia mewakili kuasa teritorial lain dalam struktur kosmologis orang Sunda.




MANTERA-MANTERA MAGIS


Dalam penyembahan terhadap ilah-ilah ini, sistem mantera magis juga memainkan tugas utama berhubungan dengan kekuatan-kekuatan roh. Salah satu tata cara tersebut adalah Ngaruat Batara Kala yang dirancang untuk menemukan kemurahan dari ilahi Batara Kala dalam ribuan suasana langsung. Rakyat juga memanggil roh-roh yang tidak terhitung banyaknya termasuk arwah orang yang sudah meninggal dan juga menempatkan roh-roh (jurig) yang berbeda jenisnya.


Banyak kuburan, pepohonan, gunung- gunung dan kawasan-tempat serupa lainnya dianggap keramat oleh rakyat. Di daerah-tempat ini, seseorang dapat menemukan kekuatan-kekuatan supernatural untuk memulihkan kesehatan, menambah kekayaan, atau meningkatkan kehidupan seseorang dalam aneka macam cara.




DUKUN-DUKUN


Untuk menolong rakyat dalam keperluan spiritual mereka, ada pelaksana- pelaksana ilmu magis yang disebut dukun. Dukun-dukun ini aktif dalam menyembuhkan atau dalam praktek-praktek mistik mirip numerology (penomoran). Mereka menyelenggarakan kontak dengan kekuatan-kekuatan supernatural yang melaksanakan perintah para dukun ini. Beberapa dukun ini akan melakukan black magic namun banyaknya yakni jikalau dianggap sangat bermanfaat bagi orang Sunda.


Sejak lahir hingga mati hanya sedikit keputusan penting yang dibentuk tanpa meminta pinjaman dukun. Kebanyakan orang mengenakan jimat-jimat di badan mereka serta meletakkannya pada daerah-tempat yang menguntungkan dalam harta milik mereka. Beberapa orang bahkan melaksanakan mantera atau jampi-jampi sendiri tanpa dukun. Kebanyakan aktivitas ini terjadi di luar daerah Islam dan ialah oposisi kepada Islam. Tetapi orang-orang ini tetap dianggap sebagai Muslim.




Aksara Sunda






  • Aksara Ngalagena




aksara-sunda


Berdasarkan letak penulisannya, 14 rarangkén dikelompokkan selaku berikut:



  • rarangkén di atas aksara = 5 macam

  • rarangkén di bawah abjad = 3 macam

  • rarangkén sejajar abjad = 5 macam





  • Rarangkén di atas abjad




aksara-sunda


aksara-sunda






  • Rarangkén di bawah aksara




aksara-sunda






  • Rarangkén sejajar abjad




aksara-sunda


aksara-sunda







  • Angka Aksara




aksara-sunda




Demikianlah artikel dari dosenmipa.com perihal Aksara Sunda : Font, Kaganga, Lengkap, Kalimat, Contoh, Kaligrafi, Angka, Teks, Aplikasi, Cerita, Sajak, Tanda Penulisan, Fungsi, Bilangan, Nyaeta, Artinya, agar artikel ini berfaedah untuk anda semuanya.



Sumber yu.com


EmoticonEmoticon