data-id="2865"
data-slug="">
4.4
/
5
(
105
votes
)
Dongeng Pendek Sebelum Tidur
Ada seorang anak berjulukan Didik, ia yakni seorang siswa di SD. Dua kali ia tidak naik kelas, banyak sahabat-sobat yang mengejeknya, tapi dia terlihat cuek dan tidak menghiraukan. Di sekolah beliau memiliki julukan Bobo atau bocah kurang pandai. “Hei bobo, kau sudah mengejakan PR belum?” hardik Wawan. “Memangnya ada PR, Wan?” tanya Didik sambil galau. “Dasar Bobo..PR nya matematika” jawab Wawan. “Waduh aku lupa nih, Wan” jelas Didik. “Cepat dilakukan dahulu PR nya, nanti keburu bel masuk” suruh Wawan.
“Kring…kring….kring…” bel masuk telah berbunyi. Kemudian Pak Bagus memasuki ruang kelas. “Selamat pagi belum dewasa” sapa pak Bagus. “Selamat pagi pak” jawan anak-anak serentak. Setelah itu pak elok menuruh Wawan selaku ketua kelas untuk mempimpin doa sebelum pelajaran di mulai. “Sekarang kumpulkan PR kalian di atas meja” suruh pak Bagus. “Siapa yang belum menjalankan PR?” tambah pak Bagus. “Saya pak” Didik tunjuk jari. “Ya, ampun Didik, sudah berapa kali kau tidak mengerjakan PR?, sekarang kamu maju ke depan” bentak pak Bagus.
Pak Bagus memerintahkan Didik Mengerjakan PR di papan tulis, Didik seperti orang gundah, ia tidak mampu menjalankan sama sekali. Pak Bagus geleng-geleng kepala melihat Didik. “Apa kau mesti tinggal kelas lagi Didik?” tanya pak Bagus. Didik hanya terdiam seribu bahasa. “Wawan, kau kini duduk sebelah Didik, kau kan juara kelas, kamu bisa mengajari Didik” suruh pak Bagus. “Iya pak” jawab Wawan. Didik pun di suruh duduk kembali dan pelajaran di lanjutkan ke bahan selanjutnya.
“Jangan malas belajar, biar sahabat tidak mengejekmu dikala kau tak bisa apa-apa. Dan jangan memanggil teman dengan istilah yang kurang patut, seberapa bodohnya ia, pasti memiliki keunggulan yang kau tak memiliki.”
Baca Dongen Lainnya : https://www.indojayareadymix.com/harga-readymix/
Peri Sungai
Judul Cerpen Peri Sungai
Cerpen Karangan: Mr. I
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 September 2016
“Peri itu gak ada” itulah yang senantiasa diucapkan sahabat temanku di sekolah seraya mencemooh dan mencemoohku. Namaku Rino dan aku sudah duduk di bangku SMP kelas 1. Memang aneh bagiku seorang anak laki laki yang suka dengan hal hal berbau dongeng. Apalagi untuk ukuran anak SMP, peri terang terang bukanlah hal yang konkret dan tak layak untuk dipercayai. Dan saya hampir saja melupakan hal yang namanya peri maupun cerita.
Tapi semua ajaran itu berganti sejak aku pergi ke desa di rumah nenekku di kawasan cicalengka jawa barat. Hari itu aku jalan jalan sendirian alasannya adalah tak ada anak yang sebaya denganku disana. Aku pergi ke sebuah sungai di desa itu, air yang pribadi dari gunung itu mengalir menciprat kakiku dan terasa sangat sejuk. Entah sebab keasyikan ataupun kelelahan seusai perjalanan aku pun tertidur di tepi sungai itu.
Seketika berdiri dari tidur aku sungguh terkejut menyaksikan sesosok gadis cantik yang mempunyai sayap mirip capung di punggungnya dengan mengenakan pakaian berwarna hijau. Aku pikir ini hanyalah mimpi, tetapi setelah saya cubit pipiku saya bahkan merasa kesakitan. Tak cuma dengan munculnya gadis bersayap itu, aku juga dikejutkan dengan benda benda di sekitarku yang tadinya hanya seukuran jempol kakiku berkembang menjadi seukuran rumah.
“hei… ada apa ini?” tanyaku gundah terhadap gadis itu
“eh? kau mampu melihatku?” tanya gadis itu
“Memang tak ada yang bisa melihatmu?” tanyaku heran
“Tentu saja… saya ini bangsa peri yang tak bisa dilihat oleh para manusia” jawabnya
Aku menelan air liurku seraya tak yakin dengan apa yang aku lihat ini. Setelah itu peri itu menerangkan semua yang terjadi.
Aku bermetamorfosis kecil alasannya adalah memang diriku mempunyai rasa yakin dengan peri yang amat berlebih sehingga mengganti diriku menjadi sekecil peri. Itu juga merupakan alasan kenapa aku bisa menyaksikan peri itu. Lalu kami pun bermain bareng sehari penuh.
“ih… kamu jangan iseng deh badak!” teriak peri kecil itu
“gak apa apa wen, peri kan juga harus mandi” ledekku sambil mencipratinya air
Kami bermain sampai sore hari dan saat itu tiba juga untukku pulang. Tapi saya tak bisa pulang dengan keadaan tubuh sekecil ini.
“Wendy, kau mampu balikin ukuran tubuhku?” tanyaku
“Rino, bergotong-royong aku bohong sama kamu. Aku yang udah ngubah kau jadi sekecil ini” Jelas wendy “Tapi tenang aja, kau bakal kembali ke ukuranmu setelah matahari terbenam” kata wendy
“ya udah sambil nunggu mending kita kisah aja yang lainnya” ajakku
“Maaf ya Rino, bantu-membantu ini terakhir kali kita bisa ketemu. Bangsa peri saat ini sudah punah, dan mengubah ukuran tubuhmu yakni hal terakhir yang mampu saya kerjakan. Aku akan secepatnya menyusul keluarga periku lainnya” ujar wendy
“Berarti? Kita… pisah?” tanyaku
“yap… selamat tinggal Rino… kita gak mampu ketemu lagi… aku sayang kau” ucap peri itu sambil meneteskan air mata
Tepat sesudah ucapan Wendy, matahari pun terbenam. Tubuhku mengeluarkan cahaya dan badanku kembali menjadi wajar . Aku pun tidak sempat mengucapkan kata kata perpisahan kepada wendy dan saya telah tak bisa melihatnya lagi.
Saat itu tubuhku menjadi lemas dan terduduk lesu alasannya adalah pertemuan yang indah ini harus rampung dengan singkat.
“Tuhan… padahal baru saja aku menyukainya” ucapku sambil tetesan air mata yang mulai mengalir di pipiku.
Cerpen Karangan: Mr.I
Facebook: Fujisaki Ilham
Cerita Peri Sungai merupakan dongeng pendek karangan Mr. I, kau mampu mendatangi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen modern buatannya.
Baca Dongen Lainnya : https://www.indojayareadymix.com/harga-readymix/
Sumber yu.com
EmoticonEmoticon