data-id="4819"
data-slug="">
Pengertian Hayat
Hayat (Hidup) yakni Sifat Ma’ni artinya sifat wujud Allah yang qadim (dahulu), berdiri pada dzat-Nya. Allah Maha Hidup, dan hidup Allah yaitu kehidupan awet, tidak pernah musnah dan tidak akan mati.
Dia mempunyai tujuh sifat yang terorganisir yaitu sifat Qudrat, Iradat, Ilmu, Sama’, Bashar dan Kalam yang berjalan terus, baka dan tidak musnah.
اللَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup baka lagi terus menerus mengelola (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di segi Allah tanpa izin-Nya.
Baca Juga : Ilmun Artinya
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (al-Baqarah: 255)
Adapun sifat tidak mungkin al-hayatu yaitu al-mautu, artinya mati. Hidupnya Allah berlainan dengan hidupnya insan. Perbedaan itu antara lain dapat kita lihat bahwa Allah hidup tanpa ada yang membangkitkan. Sedangkan insan dan makhluk hidup yang lain hidup alasannya ada yang menghidupan. Mereka dihidupkan oleh Allah.
Allah hidup tidak bergantung dengan lainnya, sedang insan hidupnya sungguh bergantung dengan lainnya.
Sifat Allah adalah hidup selama-lamanya, tidak mati, tidak dibunuh, atau disalib. Kalau bisa mati, dibunuh atau disalib mempunyai arti bukan Allah, mempunyai arti manusia. Allah yang Hidup baka lagi terus menerus ini mengelola semua makhluk-Nya; tidak pernah ngantuk dan tidak pernah tidur terlebih mati.
Maka dari itu kita harus selalu waspada dalam segala langkah-langkah, alasannya adalah gerak-gerik yang kita lakukan senantiasa diawasi dan dicatat oleh Allah, tak ada yang terlalaikan. Kelak di akhirat seluruh amalan yang kita lakukan akan dipersoalkan.
Baca Juga : Iradat Artinya
Hikmah Dan Atsar
Al-hayatu ( الحياة ) ialah salah satu sifat Allah, yaitu Allah hidup. Hidupnya Allah berbeda dengan hidupnya manusia. Dia hidup tanpa ada yang menghidupkan. Sedangkan semua makhluk hidup alasannya adalah ada yang menghidupan.
Mereka dihidupkan oleh Allah. Allah ialah hidup selama-lamanya, tidak mati, tidak dibunuh, atau disalib. Hidupnya Allah awet lagi terus menerus. Allah hidup memilik sumber kehidupan, kekal selama lamanya, tidak berawal dan tidak selsai.
Hua Al-Hayyu; Dialah yang sebenar hidup. Dialah sumber segala kehidupan yang bergotong-royong. Dialah dewa, dialah Allah. Tidak ada yang bergotong-royong hidup, melainkan Dia.
Sebab segala yang kelihatan hidup ini, bersumber dari hidup itu dan kembali ke dalam hidup itu. Maka hidup yang sebenar hidup itu tidaklah pernah merasai mati. Dia hidup terus. (Hamka, dalam tafsir al-azhar).
Kehidupan yang menjadi sifat Allah Yang Maha Esa ini yakni kehidupan dzatiyah yang tidak datang dari sumber lain seperti hidupnya makhluk yang ialah pemberian dan karunia dari Allah Penciptanya.
Oleh sebab itu, Allah Esa (bersendirian) dengan kehidupan dalam pemahaman ini. Kehidupan-Nya itu ialah kehidupan yang azali dan abadi, yang tidak berawal dari sebuah awal dan tidak rampung pada sebuah kesudahan. Kehidupan Allah yaitu kehidupan yang lepas dari ikatan waktu dan dimensi yang senantiasa menyertai kehidupan makhluk yang terbatas, berpermulaan, dan berkesudahan.
Tujuan kehidupan makhluk Nya merupakan fasilitas untuk berzakat demi kehidupan yang abadi baka di darul baka. Allah ialah dzat yang selalu mengurus makhluk-Nya. Artinya, Allah hidup dengan sendiri-Nya dan membuat lainnya menjadi hidup.
Baca Juga : Qudrat Artinya
Menurut ibn Abbas, “al-Qayyum” kehidupan Allah itu berarti tidak binasa dan tidak berganti. Menurut Mujahid, al-Qayyum yakni yang bangun sendirinya, sedangkan lainnya bergantung kepada Nya. Menurut Qattadah, al-Qayyum yakni dzat yang mengontrol makhluk-Nya.
Sayyid Quthb mengartikan al-Qayyum yakni bahwa Allah selalu mengurusi segala yang hidup. Maka, tidak ada persoalan sesuatu melainkan bersandar terhadap eksistensi dan pengaturan-Nya.
Karena itu, kehidupan, keberadaan manusia dan keberadaan segala sesuatu di sekitarnya selalu berafiliasi dengan Allah Yang Maha Esa, yang mengontrol urusannya dan urusan segala sesuatu di sekitarnya, sesuai dengan hikmah dan aturanNya
Dalam kehidupan Allah, Dia tidak tidur dan ngantuk. Itulah kesempurnaan hidup Allah. Karena, rasa ngantuk dan tidur cuma hinggap pada makhluk yang bisa merasa letih, lemah, dan binasa. ngantuk dan tidur tidak akan ada pada Dzat pemilik keagungan, kekuasaan, dan kemuliaan.
Sebab, tidur itu ialah pergeseran dari satu keadaan ke kondisi lainnya. Sedangkan Allah sama sekali tidak berubah. Jika seandainya berobah, maka perubahan itu merupakan sesuatu yang gres.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ – الشورى ﴿١١
“Dan Allah tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Dia Maha mendengar lagi Maha menyaksikan. (ash-Syura:11).
Baca Juga : Wahdaniyah Artinya
Sumber yu.com
EmoticonEmoticon