Minggu, 31 Januari 2021

Huruf Lampung

class="kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left "
data-id="2705"
data-slug="">





































4.8
/
5
(
33

votes

)



Sejarah Lampung



Lampung lahir pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung ialah Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatra Selatan.


Kendatipun Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 maret 1964 tersebut secara administratif masih merupakan bagian dari Provinsi Sumatra Selatan, namun kawasan ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah memperlihatkan potensi yang sungguh besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khasanah adab budaya di Nusantara yang tersayang ini. Oleh alasannya adalah itu pada zaman VOC kawasan Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda.


Tatkala Banten di bawah pimpinan Sultan Agung Tirtayasa (1651-1683) Banten berhasil menjadi sentra jual beli yang mampu menyaingi VOC di perairan Jawa, Sumatra dan Maluku. Sultan Agung ini dalam upaya meluaskan kawasan kekuasaan Banten mendapat hambatan alasannya dihalang-halangi VOC yang bercokol di Batavia. Putra Sultan Agung Tirtayasa yang bernama Sultan Haji diserahi tugas untuk mengambil alih kedudukan mahkota kesultanan Banten.


Dengan kejayaan Sultan Banten pada saat itu tentu saja tidak mengasyikkan VOC, oleh karenanya VOC senantiasa berusaha untuk uasai kesultanan Banten. Usaha VOC ini sukses dengan jalan membujuk Sultan Haji sehingga berselisih paham dengan ayahnya Sultan Agung Tirtayasa. Dalam perlawanan menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Haji meminta pinjaman VOC dan sebagai imbalannya Sultan Haji akan menyerahkan penguasaan atas kawasan Lampung terhadap VOC. Akhirnya pada tanggal 7 April 1682 Sultan Agung Tirtayasa dikesampingkan dan Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten.


Dari negosiasi-perundingan antara VOC dengan Sultan Haji menghasilkan sebuah piagam dari Sultan Haji tertanggal 27 Agustus 1682 yang isinya antara lain menyebutkan bahwa sejak saat itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas tempat Lampung diserahkan oleh Sultan Banten terhadap VOC yang sekaligus menemukan monopoli perdagangan di daerah Lampung.


Pada tanggal 29 Agustus 1682 iring-iringan armada VOC dan Banten mencampakkan sauh di Tanjung Tiram. Armada ini dipimpin oleh Vander Schuur dengan membawa surat mandat dari Sultan Haji dan ia mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yang pertama ini ternyata tidak sukses dan ia tidak mendapatkan lada yag dicari-carinya. Agaknya jual beli eksklusif antara VOC dengan Lampung yang dirintisnya mengalami kegagalan, karena ternyata tidak semua penguasa di Lampung eksklusif tunduk begitu saja kepada kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni, tetapi banyak yang masih mengakui Sultan Agung Tirtayasa selaku Sultan Banten dan menganggap kompeni tetap selaku musuh.


Sementara itu muncul keragu-raguan dari VOC apakah benar Lampung berada di bawah Kekuasaan Sultan Banten, kemudian gres diketahui bahwa penguasaan Banten atas Lampung tidak mutlak.


Penempatan wakil-wakil Sultan Banten di Lampung yang disebut “Jenang” atau kadangkadang disebut Gubernur hanyalah dalam mengorganisir kepentingan jual beli hasil bumi (lada).




SEJARAH ASAL USUL NAMA LAMPUNG


Wilayah Kabupaten Lampung Tengah terletak persis dibagian tengah dari Provinsi Lampung. Berbagai riwayat, hikayat maupun dongeng-kisah rakyat berlatar belakang sejarah kawasan telah pula mewarnai sosok Lampung Tengah. Sehingga dari sisi historis sejarah Kabupaten Lampung Tengah tidak terlepas dari sejarah Lampung secara biasa .




Asal Muasal Kata Lampung


Sejarah asal mula kata Lampung berasal dari beberapa sumber. Salah satu sumber menyebutkan bahwa pada zaman dahulu provinsi ini jika di lihat dari kawasan lain seperti melampung/terapung. Sebab daerahnya sendiri pada waktu itu sebagian besar dikelilingi oleh sungai-sungai dan hanya dihubungkan formasi Bukit Barisan di tanah Andalas. Karena kawasan ini pada ketika itu tampak terapung, kemudian muncullah istilah lampung (melampung).


Sumber lain menurut suatu legenda rakyat menyebutkan, zaman dulu di tempat ini ada seorang yang sakti mandraguna serta memiliki kepandaian yang merepotkan ada tandingannya bernama Mpu Serutting Sakti. Sesuai dengan namanya, salah satu keampuhan Mpu tersebut dapat terapung diatas air. Kemudian di ambil dari kepandaian Mpu Serutting Sakti itu, tersebutlah kata lampung (terapung).


Riwayat lain menyebutkan bahwa pada zaman dahulu ada sekelompok suku dari daerah Pagaruyung Petani, dipimpin kepala rombongan berjulukan Sang Guru Sati. Suatu ketika Sang Guru Sati mengembara bareng ketiga orang anaknya, masing-masing berjulukan Sang Bebatak, Sang Bebugis dan Sang Bededuh. Karena abad itu tanah Pagaruyung telah dianggap tak mampu lagi mampu memberikan penghidupan yang pantas, lalu ketiga keturunan ini akhirnya mencari daerah kehidupan baru.


Dalam riwayat ini disebutkan, Sang Bebatak menuju ke arah utara, menurunkan garis keturunan suku bangsa Batak. Sang Bebugis menuju ke arah timur, menurunkan garis keturunan suku bangsa Bugis dan Sang Bededuh menuju ke arah timur-selatan yang ialah garis keturunan suku Lampung.


Singkat kisah, keturunan selanjutnya dari Sang Guru Sati kemudian tinggal di Skala Brak. Saat rombongan tersebut memasuki suatu kawasan yang di sebut dengan Bukit Pesagi, Appu Kesaktian, salah seorang ketua rombongan menyebut kata “lampung”; maksudnya menanyakan siapa berdomisili di daerah ini.




Sejarah Perkembangan Daerah


Semasa kekuasaan marga-marga Hindu/Animisme, pada abad ke 14 masehi terdapat kekuasaan Ratu Sekar-mong (Sekromong) di Skala Brak Bukit Pesagi dan kala 14-15 kekuasaan Paksi-pak, Ratu di Puncak, Ratu Pemanggilan, Ratu di Balau dan Ratu di Pugung.


Semasa kekuasaan Islam dan efek VOC, kurun ke 15-16 masehi terdapat kekuasaan Ratu Darah Putih, penyimbang-penyimbang Lampung seba di Banten. Abad 16 hingga dengan 18 masehi, daerah Lampung dibawah dampak Banten, lalu masuknya imbas kekuasaan ekonomi VOC. Tahun 1668, VOC bercokol di tanah Lampung dan mendirikan Benteng Petrus Albertus di Tulang Bawang.


Tahun 1684, penyimbang-penyimbang marga di Lampung melakukan jual beli lada dengan VOC melalui pelabuhan Sungai Way Tulang Bawang. Tahun 1738, penyimbang-penyimbang marga dari kebuaian Abung (Ratu di Puncak) memboikot jual beli lada dengan VOC dan melaksanakan pemasaran ke Palembang. Pada ketika itu, Palembang berada dibawah pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam, salah satu kerajaan Islam di tanah Sumatera. Akibatnya VOC mendirikan Benteng Valken Oog di Bumi Agung, Way Kanan.


Saat kekuasaan Raden Intan dan imbas Inggris pada tahun 1750 terjadi penyerahan daerah Lampung kepada VOC oleh Ratu Fatimah. Namun Banten tidak diakui rakyat Lampung. Lalu muncullah gerakan perlawanan Raden Intan I dari Keratuan Darah Putih. Penyimbang-penyimbang marga di daerah Krui akhirnya berafiliasi dengan Inggris. Tahun 1799 VOC bubar, pemerintahan marga-marga di Lampung terancam bahaya perompakan bajak maritim, kelaparan dan wabah penyakit.




Bahasa Lampung


Bahasa Lampung, yakni suatu bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung di Provinsi Lampung, selatan palembang dan pantai barat Banten.


Bahasa ini tergolong cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Melayu, dan sebagainya.


Berdasarkan peta bahasa, Bahasa Lampung mempunyai dua subdilek. Pertama, dialek A (api) yang dipakai oleh ulun Sekala Brak, Melinting Maringgai, Darah Putih Rajabasa, Balau Telukbetung, Semaka Kota Agung, Pesisir Krui, Ranau, Komering dan Daya (yang beradat Lampung Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Kedua, subdialek O (nyo) yang digunakan oleh ulun Abung dan Tulangbawang (yang beradat Lampung Pepadun).


Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, ialah Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow.




Suku Lampung


Etnis Lampung yang umum disebut (Ulun Lampung, Orang Lampung) secara tradisional geografis yakni salah satu dari rumpun melayu di pulau Sumatra yang menempati seluruh provinsi Lampung dan sebagian provinsi Sumatra Selatan bagian selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura, Muaradua di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Merpas di sebelah selatan Bengkulu serta Cikoneng di pantai barat Banten. Suku Lampung memilik sub suku yaitu Suku Komering dan Suku Daya di Sumatra Selatan itu semua terlihat dari kesamaan budaya dan bahasa antara Suku Lampung dan Suku Komering.




Adat-istiadat Masyarakat adat Lampung Saibatin


Masyarakat Adat Lampung Saibatin mendiami wilayah budbahasa: Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Marga Punduh, Punduh Pedada, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di Provinsi Sumatra Selatan, Cikoneng di Pantai Banten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin kadang kala juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:



  • Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)

  •  Bandar Enom Semaka (Tanggamus)

  • Bandar Lima Way Lima (Pesawaran)

  • Melinting Tiyuh Pitu (Lampung Timur)

  • Marga Lima Way Handak (Lampung Selatan)

  • Pitu Kepuhyangan Komering (Provinsi Sumatra Selatan)

  • Telu Marga Ranau (Provinsi Sumatra Selatan)

  • Enom Belas Marga Krui (Pesisir Barat)

  • Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten)




Masyarakat etika Lampung Pepadun


Masyarakat beradat Pepadun/Pedalaman terdiri dari:



  • Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah akhlak: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.

  • Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat kawasan adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.

  • Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan kawasan budbahasa: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.

  • WayKanan Buway Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yakni lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Way Kanan mendiami kawasan etika: Negeri Besar, Pakuan Ratu, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

  • Sungkay Bunga Virgo (Semenguk, Harrayap, Liwa, Selembasi, Indor Gajah, Perja, Debintang)Masyarakat Sungkay Bunga Mayang menempati wilayah etika: Sungkay, Bunga Mayang, Ketapang dan Negara Ratu.




Aksara Lampung


Aksara lampung yang disebut dengan Had Lampung ialah bentuk tulisan yang memiliki kekerabatan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tetapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan memakai tanda di belakang, masing-masing tanda memiliki nama tersendiri.


Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur adalah Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung mempunyai bentuk hubungan dengan abjad Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari karakter induk, anak karakter, anak aksara ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan ungkapan KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.


Aksara lampung telah mengalami kemajuan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung antik jauh lebih kompleks. Sehingga dijalankan penyempurnaan hingga yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang ialah hasil dari penyempurnaan tersebut.






  • Aksara Lampung




Aksara Lampung atau umumdisebut dengan Had Lampung adalah bentuk goresan pena masyarakat Suku Lampung. Para hebat beropini bahwa abjad ini berasal dari kemajuan karakter devanagari yang lengkapnya disebut Dewdatt Deva Nagari atau abjad Pallawa dari India Selatan. Aksara tersebut berupa suku kata seperti halnya abjad Jawa ca-ra-ka atau bahasa Arab alif-ba-ta.


Had Lampung berisikan karakter induk yang berjumlah 20 buah, adalah: ka–ga–nga–pa–ba–ma–ta–da–na–ca–ja–nya–ya–a –la–ra–sa–wa–ha–gha. Serta atribut lain seperti; anak huruf, anak aksara ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambang, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan perumpamaan Kaganga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan.


Maka pemerian vokal dan diftongnya menggunakan tanda-tanda serupa fathah pada baris atas dan gejala kasrah pada baris bawah, tetapi tidak memakai tanda dammah pada baris depan, melainkan memakai tanda di belakang. Tiap-tiap penunjukvokal dan diftong tersebut mempunyai nama tersendiri.


Nama masing-masing anak aksara yang berisikan 12 buah itu yaitu selaku berikut: Anak huruf yang terletak di atas aksara: ulan, bicek, tekelubang (ang), rejenjung (ar), datas (an). Anak aksara yang terletak dibawah huruf: bitan dan tekelungau (au). Anak huruf yang terletak di belakang huruf: tekelingai (ai), keleniah (ah), nengen (tanda karakter mati).


aksara-lampung


Anak Hukuf Aksara Lampung


Berdasarkan letak penulisannya anak huruf dibagi tiga:


Anak Surat di atas huruf induk:



  1. Ulan – I

  2. Ulan – e

  3. Bicek –e

  4. Datas – an

  5. Tekelubang – ang

  6. Rejenjung – ar


Anak karakter di bawah aksara induk



  1. Bitan – o

  2. Bitan – u

  3. Tekelingau – au


Anak huruf disamping Huruf Induk



  1. Kelengiah – ah

  2. Tekelingai – ai

  3. Tanda nengen /


Sumber :




Sumber yu.com


EmoticonEmoticon