Kamis, 21 Januari 2021

Mukhalafatu Lil Hawaditsi Artinya

class="kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left "
data-id="4805"
data-slug="">





































5
/
5
(
4

votes

)



Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi Beserta Artinya


Wajib bagi Allah mempunyai sifat ”Mukhalafatu lil bawadisi.” Artinya, tidak menyerupai dengan perkara baru (mahluk-Nya).


Maka, sifat ketidak-samaan Allah dengan makhluk merupakan suatu ibarat mengenai hilangnya sifat jisim, sifat benda, sifat kulli (keseluruhan), sifat ju’i (sebagian) dan beberapa hal yang menetap pada Allah. Adapun hal-hal yang menetap pada sifat jisim, berada pada tempat yang cukup.


Baca Juga : Al Muhshii Artinya


Yang menetap pada sifat benda, berada pada kasus lain (seperti buku dimeja, arloji di tangan atau kunci di saku) yang menetap pada sifat kulli (keseluruhan) adalah besar, pada sifat juz’i (sebagian) ialah kecil dan lain sebagainya.


Oleh sebab itu, jika setan melontarkan (membisikkan) kata-kata di dalam hati andabahwa: “Kalaulah sekiranya Allah itu tidak ialah jisim, benda, mempunyai bab atau sebagian, maka bagaimana pula hakikat Allah itu?” Maka jawabnya yakni: ”Tidak ada yang mampu mengerti akan hakikatAllah, kecuali Allah sendiri.


“Ditegaskan di dalam Al-Qu’r an sebagaimana firman-Nya:”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syura : 11)Oleh alasannya itu,


Allah bukanlah ialah jisim yang bisa digambarkan atau benda yang sangat terbatas oleh ruang dan waktu.Allah Ta’ala tidak mempunyai tangan, mata, pendengaran dan lain-lain mirip yang dipunyai mahluk-Nya.Allah tidak menyerupai benda yang mampu diukur dan dapat dibagi-bagi. Sebaliknya, benda pun tidak mampu menempati kedudukan (posisi) Allah.


Begitu juga tidak berupa sifat dan sifat pun tidak mampu menempati posisi Allah.Allah tidak ibarat kasus yang wujud, begitu pula kasus yang wujud tidak menyerupai Allah. Ukuran tidak akan mampu untuk meraih Allah dan arah tidak mampu memuat dan meliput-Nya.


Baca Juga : Al Hamid Artinya


Demikian pula bumi dan langit yang tidak memadai kalau ditempati oleh Allah.Allah Yang mengangkat derajat segala sesuatu dan lebih dekat dari urat nadi manusia.Allah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu.


Kedekatan Allah tidak mirip dengan dekatnya jisim.Allah Maha Luhur dari daerah yang mencakup-Nya, sebagaimana Allah Maha Bersih dari segala kala yang mau membatasi-Nya.Allah sudah wujud sebelum abad dan daerah diciptakan.


Dia (Allah) akan tetap berada di atas segala yang ada.Mustahil Bagi Allah Memiliki Sifat Mumatsalah (Menyerupai).Adapun musuh dari sifat ini ialah mumatsalah (menyerupai). Artinya, jika Allah  tidak menyerupai dengan mahluk, pasti Allah akan ibarat pada semua mahluk-Nya. Akan namun, persamaan tersebut yakni batal.


Sebab, bila Allah mirip pada kasus yang gres, sudah barang pasti Allah pun baru sepertinya. Karena, semua apa yang ada pada salah satu dari dua kesamaan, maka yang lain pun ada kesamaannya.Akan tetapi, bila keberadaan Allah merupakan hal yang baru, maka hal itu yakni muhal (mustahil) disebabkan oleh kuatnya dalil ihwal wajibnya Allah mempunyai sifat qidam.


Jika dipandang dari sisi, bahwa Allah wajib memiliki sifat mukhalafah lil hawadisi, maka tidak mungkin jika Allah memiliki sifat yang berlawanan dengan sifat tersebut, yaitu sifat mumatsalah. Mengenai gambaran mumatsalah (kesamaan) ada beberapa jenis, diantaranya:


Allah mempunyai jisim, baik tersusun (badan) maupun tidak tersusun. Juga dinisbatkan pada benda atau sifat.


Yang memerlukan tempat atau segi yang ada pada sebuah benda yang jadinya tidak akan berada di atas arsy dan tidak pula di bawahnya.Allah mempunyai sisi yang tidak akan berada di atas serta tidak pula di sebelah kanan dan kirinya.


Baca Juga : Al Waliyy Artinya


Atau Allah berada pada suatu tempat yang terbatas dengan kurun.Allah di lingkari oleh dua insiden baru, ialah malam dan siang. Atau Dzat Allah yang luhur itu bersifat mirip mahluk-Nya yang mempunyai kekuasaan gres, kehendak gres, bergerak atau diam, berwarna, kecil, besar (dalam arti banyak bagiannya).


Allah bersifat dengan beberapa kesengajaan di dalam segala pekerjaan dan aturan-Nya, mirip membuat Zaid bukanlah karena adanya maksud (dari maksud-maksud) tertentu. Artinya, ada kemaslahatan yang mampu mendorong Allah untuk melaksanakan pekerjaan itu.


Akan tetapi, ialah permainan saja (tidak mengandung pesan tersirat). Dan aturan Allah seperti mewajibkan salat kepada kita bukanlah karena adanya maksud-maksud tertentu.


Artinya, ada maksud kemaslahatan yang mendorong Allah untuk memutuskan aturan wajib itu.Semua hal tersebut  itu bagi Allah yakni mustahil. Oleh sebab itu, dari contoh yang telah diuraikan, maka sifat-sifat yang tidak mungkin tidak mungkin ada bagi Allah.


MUKHALAFAH LILHAWADITSI


Mukhalafah Lilhawaditsi (Tidak sama dengan yang baru) yakni sifat Salbiyah artinya  sifat yang mencabut atau menolak adanya persamaan Allah dengan yang gres.


Dalam arti lain bahwa Allah tidak sama dengan yang baru atau berbeda dengan makhluk ciptaa-Nya. Perbedaan Allah dengan makhluk-Nya mencakup segala hal, baik dalam dzat, sifat, dan perbuatannya. Allah berfirman:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


”Tidak ada sesuatupun yang sama dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura : 11).


Baca Juga ; Al Matin Artinya


Seumpanya terlintas dalam asumsi seseorang bahwa Allah itu seperti yang beliau hayalkan atau bayangkan, maka Maha Suci Allah, Dia tidak mirip apa yang dihayalkan atau di pikirkannya. Makanya jangan sekali kali memikirkan atau menghayalkan atau membahas dzat Allah alasannya adalah insan tidak akan bisa untuk melakukannya.


Adapun kebalikan dari Al-Mukhalafah Lil Hawaditsi yaitu Mumatsalah lil Hawaditsi, yaitu mustahil Allah sama dengan yang gres atau sama dengan makhluk-Nya. Tentu ini adalah hal yang tidak mungkin.


Contoh yang paling mudah yaitu dingklik yang dibuat dari kayu. Kursi dibuat oleh tukang. Mustahil kursi itu sama dengan tukang pembuat dingklik. Sifat ini menjelaskan bahwa tukang pembuat bangku berlawanan dengan hasil ciptaannya. Dan masih banyak lagi contoh teladan lainnya.


Apakah ada kesamaan antara pencipta dengan hasil ciptaannya? Tentu berlainan bukan? Bahkan robot yang dibentuk seperti dengan insan saja tidak akan sama dengan insan yang membuat robot itu.


Kalau itu sesama benda, apalagi Allah yang menciptakan seluruh alam semesta, telah niscaya berlawanan dengan ciptaan-Nya. Mustahil Allah itu sama dengan ciptaan-Nya. Jika  sama dengan makhluknya contohnya terbuat dari darah, daging dan tulang niscaya Allah itu bisa mati, mampu dibunuh atau bisa disalib oleh insan.


Makara tidak mungkin bila Allah itu dilahirkan, melahirkan, menyusui, buang air, tidur, lupa dan sebagainya. Itu semua adalah sifat manusia, bukan sifat Allah. Allah itu Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Hebat. Dan segala Maha-Maha yang manis yang lain mesti disifatkan terhadap sifat sifat Allah.


Kita mempercayai bahwa Allah itu hidup, tapi sifat hidup Allah berlawanan dengan sifat hidup makhluk Nya. Allah itu dari dahulu, kini, dan kapan saja hidup. Tidak ada batas dalam kehidupan Allah.


Sebaliknya makhluk-Nya seperti insan dulunya tidak ada, lalu dilahirkan, lalu berada dan hidup sesudah dilahirkan, setelah itu tidak ada lagi atau mati kemudian dikubur.


Baca Juga : Al Qawiyyu Artinya


Jadi walaupun sekilas sama arti hidup, namun sifat hidup Allah berlainan dengan makhluk-Nya. Bukan sifah hidup saja yang berlawanan tapi semua sifat sifat Allah yang lain juga berlawanan dengan sifat sifat makhluk-Nya, berbeda dan tidak serupa dengan makhluk-Nya.


Hikmah dan Atsar


Kita selaku muslim jangan sekali kali menimbang-nimbang atau menghayalkan atau membahas dzat Allah alasannya adalah kita tidak akan mampu untuk melakukannya.


قال أبو بكر الصديق فيما نقله الزركشي ورواه الرفاعي في البرهان المؤيد: العجزُ عن دَرْك الإدراكِ إدراكُ والبحثُ عن ذاتِهِ كفرٌ وإشراكُ


Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq ra berkata seperti yang dibilang Al-Zarkasyi dan diriwayatkan oleh Al-Rifae’i dalam kitab Al-Burhan Al-Muayyed: ”Ketidakmampuan untuk mengetahui Allah ialah sebuah kemampuan sedangkan membicarakan dzat Allah adalah kufur dan syirik”.


Maksudnya disini kalau kita mengakui akan kekurangan kita tentang dzat Allah, memiliki arti kita sudah mengenal Allah. Jika ruh saja sebagai makhluk yang ada pada tubuh manusia kita tidak mampu membahasnya, bagaimana kita ingin membicarakan dzatnya Allah.


Baca Juga : Al Wakil Artinya



Sumber yu.com


EmoticonEmoticon