class="kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left "
data-id="4807"
data-slug="">
2.3
/
5
(
3
votes
)
PENGERTIAN QIYAMUHU BINAFSIHI
Tuhan Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi.
Artinya yakni bahwa Allah berdiri sendiri dan tidak membutuhkan dukungan orang lain, mustahil membutuhkan pemberian orang lain. Kalau Ia memerlukan tunjangan orang lain maka Ia yaitu lemah, tidak sempurna dan tidak berhak menjadi Tuhan. Tuhan Allah Kuasa, gagah, tegak, berdiri sendiri, tidak membutuhkan bantuan siapapun juga. Ia sudah tepat tidak memerlukan apa-apa.
Baca Juga : mukhalafatu lil hawaditsi artinya
Seandainya seluruh insan setuju untuk menjadi kafir dan tidak menyembahNya, kesempuraanNya tidak berkurang. Begitu juga kalau seluruh insan berpakat untuk menyembah dan mengabdikan diri kepadaNya, kesempurnaanNya tidak bertambah. Allah tidak membutuhkan ibadah atau apa saja dari makhluk ciptaanNya. Sebaliknya merekalah yang berhajat dan memerlukan dukungan dari Allah setiap dikala.Tanpa tunjangan Allah tidak mungkin makhluk akan ada, hidup dan berbuat apa saja.
Allah ciptakan makhluk seperti manusia, gunung, sungai, hewan dan lain-lain setidak-tidaknya ada 2 tujuan:
Allah ingin memberikan kebesarannya,
Allah tidak berhajat pada itu semua. Allah ciptakan aneka macam bagai, tetapi Allah cuma berniat menunjukkan Allah Maha Besar, Maha Agung, Maha Hebat dan lain-lain.
Keperluan makhluk itu sendiri. Apa yang Allah ciptakan itu, faedahnya kembali pada makhluk bukan kepada Allah.
Dalil Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi ini dalam Al-Alquran:
Artinya: “Bahwasanya Allah tidak membutuhkan makhluk”
(Al-Ankabut: 6)
ALLOH mempunyai sifat Qiyamuhu Binafsihi, yang artinya ALLOH itu BERDIRI SENDIRI (TIDAK MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN). Dengan demikian, tidak mungkin Dia memerlukan bantuan, karena cuma makhluk-Nya saja yang membutuhkan santunan. Jika Dia membutuhkan dukungan, itu artinya Dia lemah, dan tidak pantas menjadi Tuhan.
Baca Juga : Al Muhshii Artinya
ALLOH Maha Kuasa, Maha Gagah, tegak berdiri sendiri, tidak membutuhkan apapun atau siapapun juga. Hal ini diperkuat dengan ayat-Nya dalam surat Al Ankabut(29):6,“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) dari semesta alam.”
Qiyamuhu Binafsihi
(Yaitu sipat yang kelima yang wajib dalam haqnya Alloh ta’ala)

Dan wajib dalam haqnya Alloh ta’ala adalah sipat alqiyamu binnafsi, adapun maknanya alqiyamu binnafsi, yaitu bergotong-royong Alloh ta’ala tidak memerlukan kepada kawasan dan tidak memerlukan siapapun yang menentukannya, adapun perlawanannya sipat alqiyamu binnafsi ialah al-ihtiyaju (butuh) terhadap daerah serta butuh terhadap yang memilih.
Sedangkan dalilnya yang memperkuat atas sipat alqiyamu binnafsi “sebenarnya (Alloh) seandainya jika membutuhkan kawasan maka terbukti bahwasannya Alloh hal-nya jadi sipat, kalau seandainya keberadaan Alloh hal-nya jadi sipat niscaya tidak mungkin. Selanjutnya jikalau Alloh butuh kepada sesuatu yang menentukanNya maka terbukti (Alloh) halnya baru, dan jikalau keberadaannya (Alloh) halnya yang baru pasti mustahil”►
Adapun kata wajib disini ialah wajib aqli, dalam arti dapat dimengerti oleh logika, bila menurut salbiyahnya ialah pasti serta mampu diketahui oleh logika ghorizi bahwa adanya Alloh tidak memerlukan dzat atau orang yang menciptakanNya, serta adanya Alloh tidak memerlukan kepada sesuatu untuk “bertempat” (mendiami = menetap).
Yang dimaksud oleh kata (alqiyamu binnafsi) disini, bukannya Alloh bangkit yang asalnya tidak ada kemudian dengan sendirinya berubah menjadi. Tapi yang dimaksud oleh (alqiyamu binnafsi) ialah Alloh berdiri sendiri oleh dzatNya sendiri, serta yang dimaksud dengan bangun sendiri disini, yaitu:
- Adanya tidak membutuhkan dzat atau orang yang menciptakan.
- Adanya tidak membutuhkan dzat atau orang yang menentukan.
- Adanya tidak membutuhkan suatu daerah untuk berdiam diri atau menetap.
Sipat (alqiyamu binnafsi) tergolong salah satu sipat salbiyah ialah adamiyah yang menjadi sipat oleh “tiada”nya, oleh alasannya adalah itu hakikat wujudnya dzat Alloh tidak memerlukan tempat untuk besemayan atau berdiam diri atau menetap, serta tidak membutuhkan siapapun yang menentukanNya.
Seumpamanya Alloh membutuhkan kepada dzat atau seseorang yang membuat, atau membutuhkan suatu daerah untuk bersemayan, maka akan menimbulkan daur atau tasalsul yang keduanya tidak mungkin terhadap Alloh.
Adapun definisi daur dan tasalsul:
Definisi Daur:
◄Menunggunya satu perkara terhadap masalah lainnya, yang mana masalah yang yang lain itu menunggu atas adanya itu masalah►
Seperti, menunggu yang kuasa yang kesatu atas diciptakan oleh tuhan yang kedua, yang kuasa yang kedua menunggu atas adanya diciptakan oleh ilahi yang ketiga, ilahi yang ketiga menanti atas adanya diciptakan oleh yang kuasa yang pertama tadi. Terus-terusan mutar tidak ada berhentinya.
Definisi Tasalsul:
◄Mengikutinya suatu perkara atas satu (kasus) setelah satu (perkara), Terhadap suatu perkara yang tidak ada ujungnya (akan perkara tersebut)►
Seperti, Alloh itu ilahi yang pertama diciptakan oleh dewa yang kedua, tuhan yang kedua diciptakan oleh tuhan yang ketiga, dewa yang ketiga diciptakan oleh dewa yang keempat. Terus-akses menyambung tidak ada ujungnya, bagaikan mata rantai yang tiada berujung.
Karena makna (alqiyamu binnafsi) tidak butuh daerah untuk bersemayan, maka tercabut dari Alloh semua kasus yang mencakup pertanyaan “DIMANA”, serta semua jawabannya dari jihat yang 10 (sepuluh):
- Depan
- Belakang
- Kiri
- Kanan
- Atas
- Bawah
- Luar
- Dalam
- Nempel
- Pisah
Oleh alasannya Alloh tersipati oleh sipat (alqiyamu binnafsi), maka batal i’tiqod yang menekadkan bahwa Alloh bersemayan di arasy, alasannya:
1. Seumpama Alloh bersemayan di arasy, pastinya Alloh butuh dengan arasy untuk berdiam diri, arasy-nya juga mesti qodim serta serba maha alasannya akan ditempati serta digunakan untuk berdiam oleh dzat yang qodim yang serba maha, sedangkan tidak mungkin ada mekhluk yang melebihi dari dzat yang serba maha.
2. Bertentangan dengan ayat:
◄Dan Dia-lah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi►
(Qs 43 Az-Zukhruf: 84)
3. Bertentangan dengan ayat:
◄Maka ke manapun kamu menghadap di situlah muka Allah►
(Qs 2 Al-Baqarah: 115)
4. Bertentangan dengan ayat:
◄padahal Allah mengepung dari belakang mereka yang meliputi►
(Qs 85 Al-Buruuj: 20)
5. Bertentangan dengan ayat:
◄Dan Kami lebih erat kepadanya dari pada urat lehernya,►
(Qs 50 Qaaf: 16)
6. Bertentangan dengan ayat:
◄Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu ihwal Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku yakni erat►
(Qs 2 Al-Baqarah: 186)
7. Bertentangan dengan ayat:
◄Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup baka lagi terus menerus mengorganisir (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur►
(Qs 2 Al-Baqarah: 255)
8. Bertentangan dengan ayat:
◄Dan, Dia bareng kau di mana saja kau berada►
(Qs 57 Al-Hadiid: 4)
Adapun firman Alloh yang dimaksud dalam surat (20 Thaahaa ayat 5), begini:
◄Adapun Arrahman (Tuhan Yang Maha Pemurah), menata (miyara=sunda) terhadap `Arasy►
Makna tersebut adalah makna hakiki bukan makna majazi, sebab makna istawa mempunyai 2 (dua) makna hakiki:
- Makna qorib (bersahabat), makna yang sering dipakai, makna yang qorib ini dimustahilkan oleh ayat-ayat yang sudah disebutkan tadi (dari 2 sampai 8).
- Makna ba’id (jauh), makna yang jarang dipakainya, makna yang ini sesuai dan pas tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang disebutkan tadi (dari 2 hingga 8)
Oleh karena itu, bila seandainya memperoleh satu lapad yang mempunyai dua makna (qorib&ba’id) terus dipakai dengan makna ba’id, maka kalam tersebut termasuk (kalamun badi’un tauriyyah) artinya suatu istilah yang indah.
Adapun balasan Rosul saat ditanya oleh seorang nenek-nenek, katanya:
◄Dimana Alloh itu ? Rosul menjawab – diatas►
Makara kalimat _fissama’_ itu,
Bilamana dipakai dengan makna qorib, maka makna tersebut akan lahir dengan artian “di langit”
Bilamana dipakai dengan makna ba’id, maka makna tersebut akan lahir dengan artian “di atas”
Oleh sebab itu, jika kalimat “fissama'” seandainya dimaknaan dengan makna qorib akan menimbulkan pertentangan dengan ayat-ayat yang lainnya (seperti yg sudah disebutkan diatas), maka kalimat “fissama'” dipakai dalam makna ba’id (dengan artian-diatas). Oleh alasannya adalah makna “diatas” masih mengandung makna ikhtimal (adanya kemungkinan lainnya), maka makna “diatas” mesti dita’wil/disalurkan.
Kaprikornus artian __*Ainalloh? qola fissama’*__ begini arti keseluruhannya “Dimana Alloh itu? Rosul menjawab, ada diatas dalam martabatnya, dalam kekuasaanya” . tegasnya _fauqo kulli syai’in = diatas segala perkara_ Seperti firman Alloh dalam alqur’an:
◄Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya►
(Qs 6 Al-An’am: 18 & 61 )
Jadi yg dimaksud dengan kalimat __di-ATAS itu__ bukan membuktikan terhadap daerah, sebab Alloh tidak bertempat, tetapi menerangkan diatas martabat kedudukan N kekuasaan Alloh.
Sorotan hukum syara’ kepada wajib aqli, bahwa Alloh tersipati oleh sipat qiyamuhu binafsihi:
- Hukum syara’ mewajibkan kepada setiap orang yang mukallaf mesti menekadkan terhadap wajib qiyamuhu binafsihi-nya di Alloh dengan resiko diberi pahala jikalau menekadkan terhadap wajib qiyamuhu binafsihi-nya di Alloh, serta tercukupi syaratnya keyakinan. Dan disiksa orang yang mukallaf kalau tidak menekadkan kepada wajib qiyamuhu binafsihi-nya di Alloh, serta di cap orang kafir.
- Hukum syara’ mewajibkan terhadap setiap orang mukallaf mesti menekadkan atas mustahil ihtiaju-nya di Alloh, alasannya adalah tidak sah menekadkan atas wajib qiyamuhu binafsihi-nya di Alloh saja bila tidak dengan menekadkan atas mustahilnya ihtiaju-nya di Alloh.
- Hukum syara’ memperkuat serta memberi dalil atas kebenarannya aturan nalar, dengan firman Alloh didalam alqur’an:
◄Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup serta Yang Berdiri sendiri►
(Qs 2 Al-Baqarah: 255)
Dalil aqli-nya sipat alqiyamu binnafsi:
◄Sedangkan dalilnya yang memperkuat atas sipat alqiyamu binnafsi “sebenarnya (Alloh) seandainya jikalau membutuhkan tempat maka terbukti bahwasannya Alloh hal-nya jadi sipat, kalau seandainya keberadaan Alloh hal-nya jadi sipat pasti tidak mungkin. Selanjutnya jikalau Alloh butuh kepada sesuatu yang menentukanNya maka terbukti (Alloh) halnya baru, dan jika keberadaannya (Alloh) halnya yang baru pasti mustahil”►
Dalam dalil aqli ini, ada kalimat (Alloh halnya jadi sipat), maksudnya adalah:
- Alloh yaitu Dzat bukan sipat.
- Dzat tidak akan bangun didalam dzat.
- Dzat tidak akan berdiri didalam sipat.
- Sipat tidak akan berdiri didalam sipat.
Baca Juga : Baqa Artinya
Makara yang benar, ialah sipat yang bangkit didalam dzat, misalnya ada suatu tembok yang warnanya hijau, tembok itu yaitu dzat yang disipati oleh sipat hijau, warna hijau jadi sipat dari suatu tembok tersebut.
Andaikata Alloh itu bangsa sipat tentunya Alloh tidak akan tersipati oleh sipat ma’ani, serta tidak akan tersipati oleh sipat ma’nawiyah, alasannya adalah sipat tidak akan bangkit didalam sipat.
Sumber yu.com
EmoticonEmoticon