data-id="4810"
data-slug="">
Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Wahdaniyah Beserta Artinya
Wajib bagi Allah Ta’ala memiliki sifat ”Wahdaniah” di dalam sifat, Dzat dan tindakan (Af’al)-Nya. Adapun makna Wahdaniah dalam Dzat ialah bahwa Dzat Allah Ta’ala tidak tersusun dari bagian yang banyak, karena hal itu dapat dikatakan ”Kam muttashil” (susunan dari bilangan yang bersambung) di dalam Dzat-Nya.
Tidak akan ada Dzat yang serupa dengan Dzat Allah Ta’ala atau ”Kam munfashil” (susunan dari bilangan yang terpisah) di dalam Dzat. Akan tetapi, Esa di dalam Dzat memiliki arti; tidak adanya susunan dari beberapa bagian itu bukti (dalil) dari sifat mukhalafatu lil hawadisi sebagaimana uraian yang sudah kemudian.
Adapun arti dari sifat Wahdaniah di dalam Dzat ialah tidak adanya banyak sifat. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala tidak mempunyai dua sifat, baik sebutan ataupun makna.
Baca Juga : Qiyamuhu Binafsihi Artinya
Jelasnya, bahwa Allah Ta’ala tidak mempunyai dua sifat dan seterusnya dari jenis yang satu, seperti dua sifat Qudrat atau dua sifat Ilmu dan sebagainya.
Karena tidak terdapatnya bilangan didalam sifat, maka dibilang ”Kam Muttashil” di dalam sifat-Nya.
Dan tidak adanya masalah yang menyamai di dalam sifat, ialah tidak adanya segala sifat bagi mahluk yang mirip pada sifat Allah Ta’ala dan sebaliknya, maka dibilang ”Kam Munfashil” di dalam sifat-Nya.
Sedang makna Wahdaniah di dalam perbuatan (af’al) adalah, bahwa tidak ada satupun perbuatan mahluk yang serupa dengan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, hal tersebut dibilang ”Kam Muttashil” di dalam perbuatan.
Dan kalau dicontohkan dengan aneka macam af’al, maka hal itu sangat terang, Bahkan tidak sah (tidak mungkin) menghapus sejumlah tindakan, alasannya adalah af’al Allah Ta’ala berbagai mirip; menciptakan mahluk, memberi rezeki, membangkitkan, mematikan dan lain sebagainya.
Dan jika dicontohkan dengan sekutu Allah Ta’ala, maka sekutu itupun akan tertolak oleh sifat Wahdaniah Allah Ta’ala dalam af ”al-Nya. Makara, Allah Ta’ala adalah Esa di dalam mengakibatkan dan menciptakan yang tak pernah ada sebelumnya.
Dia yang membuat mahluk dan segala perbuatan mereka sekaligus memilih rezeki dan ajalnya. Ringkasnya, bahwa sifat Wahdaniah yang ada pada Dzat Allah Ta’ala (sifat dan af’al yang Esa) dapat menolak pada ”Kam” yang lima, adalah:
Baca Juga : mukhalafatu lil hawaditsi artinya
- Kam muttashil di dalam Dzat, yaitu tersusunnya Allah Ta’ala dari beberapa bab.
- Kam munfashil di dalam Dzat, yakni bilangan yang sekiranya terdapat tuhan kedua dan seterusnya. (Dua Kam, yakni point 1 dan 2 tertolak oleh sifat tunggal Dzat). ‘
- Kam muttashil di dalam sifat, adalah bilangan bagi sifat Allah Ta’ala dalam satu jenis, seperti sifat (hidrat dan sebagainya.
- Kam munfashil di dalam sifat, ialah jika selain Allah Ta’ala memiliki sifat yang menyerupai sifat Allah Ta’ala. Seperti bagi Zaid mempunyai sifat kuasa (derat), di mana dengan sifat ini beliau bisa mewujudkan atau1 meniadakan sesuatu. Dan sifat-sifat lainnya mirip lradat dan ilmu. Ke dua ”Kam” inipun tertolak oleh sebab tunggalnya Allah Ta’ala di dalam sifat.
- Kam munfashil dalam tindakan, adalah apa yang dinisbatkan terhadap selain Allah Ta’ala dengan jalan mencari dan memilih atau melakukan pekerjaan dan berupaya. Dan ”Kam” inipun tertolak oleh sifat tunggal Allah Ta’ala di dalam af’al.
Adapun lawannya yaitu bilangan yang dalil sifat Wabdaniahnya berada di dalam Dzat tidak adanya bilangan yang bertemu dalam Dzat tersebut yakni dalil sifat Mukhalafatu lil hawadisi yang telah diuraikan di atas.
Adapun dalil Wahdaniab di dalam sifat, di mana tidak adanya bilangan yang berjumpa dengan sifat tersebut tidak mungkin diputuskan oleh angan-angan maupun ucapan.
Sedangkan dalil Wahdaniyah dalam arti tidak adanya yang menyamai Allah Ta’ala di dalam Dzat dan sifat-Nya, ialah kalau eksistensi Allah Ta’ala itu berbilang, niscaya tidak akan pernah ada mahluk. Akan namun, tidak adanya mahluk juga batal dikarenakan telah terwujud kenyataan (eksistensi insan ketika ini).
Karenanya, pernyataan yang menyampaikan bahwa Allah Ta’ala itu berbilang yakni batal. Dan jika berbilangnya Allah Ta’ala batal, maka jelaslah Allah Ta’ala bersifat tunggal.
Sudah mampu ditentukan bahwa banyaknya Tuhan akan menimbulkan hancurnya alam ini (tidak mungkin terbentuk).
Karena, adakalanya (keduanya) bersepakat dan adakalanya berselisih. Apabila keduanya bersepakat, maka mustahil keduanya mampu mewujudkan alam ini secara bersama-sama dan supaya tidak terjadi perpaduan dua reaksi pada satu titik sasaran.
Baca Juga : Al Muhshii Artinya
Dan tidak pula mampu (keduanya) mewujudkan alam ini dengan cara bergantian, salah satunya lebih dahulu mewujudkan alam, kemudian disusul yang lainnya. Tidak mungkin keduanya bersekutu di dalam mewujudkan alam, dengan cara yang menerima bab setengah dan yang lain sebagian sisanya.
Dengan diadakannya komplotan, sudah terlihat kelemahan masing-masing. Sebab, ketika salah satunya menggantungkan kekuasaan di dalam mewujudkan sebagian alam, maka akan menutup jalan Tuhan lain di dalam menggantungkan kekuasaannya untuk mewujudkan sebagian alam sisanya Tuhan yang lain pun tidak bisa menentangnya dan hal ini merupakan kelemahan.
Inilah yang dinamakan dalil saling tolak-menolak, alasannya adalah di dalamnya terdapat dua Tuhan yang saling bertentangan dalam melakukan satu pekerjaan.
Apabila keduanya bertentangan dengan cara salah satunya ingin merealisasikan sesuatu dari alam, sedangkan lainnya tidak menginginkannya, maka tidaklah mungkin mampu tercapai keinginankeduanya.
Sebab, hal ini nantinya akan terjadi perpaduan antara dua Tuhan yang saling bertempur dan tidak mungkin impian mereka akan samasama terpenuhi, alasannya adalah telah terang kelemahannya. Dan mustahil yang satu mampu mencapai keinginannya, sedang lainnya tidak tercapai.
Karena, niscaya kelemahan Tuhan yang tidak tercapai tujuannya akan sama dengan yang lain, disebabkan adanya kesamaan di antara keduanya. Maka, dalil seperti ini dinamakan dengan dalil yang saling tarik-menarik, alasannya keduanya saling merintangi dan saling ihwal-menentang.
Adapun dalil sifat Wahdaniah di dalam af’al alasannya adalah tidak adanya “Kam muttashil” di dalamnya (tidak adanya komplotan Tuhan lainnya dalam perbuatan dengan Allah Ta’ala), maka hal ini termasuk pula di dalam uraian yang telah tersebut pada dalil yang saling tolak-menolak.
Baca Juga : Al Hamid Artinya
Sedangkan dalil sifat Wahdaniah di dalam af’al karena tidak adanya ”Kam munfashil” di dalam (sebetulnya selain Allah Ta’ala memiliki kesan pada perbuatan dan semua yang dijalankan oleh dirinya sendiri), maka mampu ditebak, bahwa kesan tersebut yakni memang watak yang dimiliki oleh selain Allah Ta’ala.
Sudah barang pasti hal tersebut memberi tidak memerlukan Allah Ta’ala. Mengapa tidak dibutuhkan, sedangkan Allah Ta’ala selalu dibutuhkan oleh mahluknya?
Apabila anda mengira bahwa pada apa yang mampu memberi kesan itu di sebabkan adanya kekuatan yang dijadikan oleh Allah Ta’ala di dalamnya (mirip prasangka kebanyakan orang mukmin yang masih awam), maka mereka akan meyakinkan beberapa sebab yang bersifat kebiasaan itu mampu memberi kesan dengan adanya kekuatan yang dijadikan Allah Ta’ala di dalam karena itu.
Apabila Allah Ta’ala mencabutnya, maka sebab-alasannya adalah tersebut tidak akan memberi kesan apa-apa. Seperti pengertian orang awam, bekerjsama makan mampu memberi kesan (wujudnya) kenyang, minum dapat memberi kesan segar, api dapat memberi kesan terbakar, pisau dapat memberi kesan dalam memangkas dengan sebab kekuatan yang dijadikan oleh Allah Ta’ala di dalam semuanya itu, maka prasangka awam ini pun batal juga.
Dengan demikian, Allah Ta’ala di dalam mewujudkan tindakan akan membutuhkan mediator. Akan namun, keadaan yang bantu-membantu, secara mutlak Allah Ta’ala tidak membutuhkan perlindungan terhadap siapapun. Namun, orang yang mempunyai kepercayaan tersebut tidaklah menjadi kafir. Hanya saja, ia masuk dalam klasifikasi orang yang fasik (keluar dan jalan yang haq serta kesalihan).
Yang mendekati akidah orang awam ialah kaum mu’tazilah. Mereka meyakini bahwa seorang hamba dapat berbuat untuk dirinya apa-apa yang sifatnya ikhtiari, yakni dengan kekuatan yang dijadikan oleh Allah Ta’ala kepadanya.
Makara, barangsiapa meyakinkan, bahwa alasannya-alasannya yang bersifat kebiasaan mirip; api, kuliner, minuman, pisau dan lain-lain dapat memberi kesan kepada obyeknya mirip; kebakaran, kenyang, segar, putus, maka ia yakni kafir berdasarkan Ijma’ ulama.
Baca Juga : Al Waliyy Artinya
Atau meyakinkan jikalau kesan yang diberikan itu disebabkan adanya kekuatan yang dijadikan Allah Ta’ala pada api, kenyang, segar, penggalan dan lain-lain, maka di sini ada dua usulan.
Pendapat yang benar adalah beliau tidak menjadi kafir, alasannya adalah pengakuan mereka bahwa kekuasaan seorang hamba untuk menciptakan pekerjaan ini dari Allah Ta’ala. Hanya saja fasik dan termasuk dalam golongan andal bid’ah.
Yang sama dengan keyakinan tersebut adalah pertimbangan orangorang Mu’tazilah. Mereka mengatakan, bahwa seorang hamba mampu berkehendak sendiri dengan kekuatan yang dijadikan Allah Ta’ala kepadanya.
Barangsiapa meyakini, bahwa yang memberi kesan adalah Allah Ta’ala dan Dia menjadikan sebab akibat yang saling memutuskan menurut akal. Sebagai sebuah kepastian, maka begitu timbul karena muncul pula akibat.
Dengan kata lain, setiap ada reaksi niscaya ada dampaknya dan yang mempunyai kepercayaan seperti itu ialah bodoh.
Barangsiapa mempunyai dogma, bahwa yang memberi akhir yaitu Allah Ta’ala.
Hanya saja, antara karena dan akibat saling menetapkan menurut kebiasaan (dari sisi tidak adanya kepastian), maka orang yang mempunyai iktikad mirip ini dinamakan mukmin yang selamat.
Jika sekiranya Allah Ta’ala wajib mempunyai sifat Wahdaniah, maka akan tidak mungkin Allah Ta’ala mempunyai sifat banyak (lawan dari sifat Esa).
Ketahuilah, bahwa pembahasan tentang sifat Wahdaniah adalah menupakan suatu pembahasan yang mulia dan indah. Karena itu, banyak sekali peringatan-peringatan didalam Al-Qu’an yang disini penulis tidak menyebutkannya.
Adapun enam sifat yang diawali dari sifat Wujud dinamakan sifat “Nafsiah’, alasannya sifat-sifat ini tidak menawarkan makna yang melebihi kondisi dzat. Dan lima sifat sesudahnya dinamakan sifat “Salbiah” sebab memberikan Nafinya hal-hal yang tidak cocok dengan Allah Ta’ala.
Baca Juga : Al Matin Artinya
Menurut usulan yang lebih otentik, sifat salbiab tidak terbatas, karena sifat kurang itupun tidak ada batasnya seluruhnya dirahasiakan oleh Allah Ta’ala. Dan yang lima tersebut ialah pokok, sebab yang lainnya (tidak adanya isteri, anak dan pembantu bagi Allah Ta’ala) akan kembali kepada lima sifat tersebut.[1]
Sumber yu.com
EmoticonEmoticon