Senin, 01 Februari 2021

Huruf Jawa

class="kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left "
data-id="2681"
data-slug="">





































4.8
/
5
(
30

votes

)



Naskah babad tanah jawa sudah berulang kali diterjemahkan kemudian di terbitkan oleh pihak yang berlainan-beda. Hal ini menjadikan hadirnya beberapa versi yang sedikit berlainan namun secara esensi sama. Adapun Babad tanah Jawa ini diterjemahkan dari buku yang berjudul PUNIKA SERAT BABAD TANAH JAWI WIWIT SAKING NABI ADAM DOEMOEGI ING TAOEN 1647 dan di Susun oleh W.L. Olthof di leiden, Belanda, Pada Tahun 1941


Asal Muasal Tanah Jawa


Inilah babad para raja di tanah jawa, Di Awali dari Nabi Adam, ber-putra Sis, Esis berputra Nurcahya, Nurcahya berputra Nurasa. Nurasa berputra Sang Hyang Wening, Sang Hyang Wening berputra Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal berputra Batara Garu,  Batara Guru berputra Lima berjulukan:



  1. Batara Sambo

  2. Batara Brama

  3. Batara Maha-Dewa

  4. Batara Wisnu

  5. Dewi Sri



  • Batara Wisnu menjadi Raja di Pulau Jawa Bergelar Prabu Set.

  • Kerajaan Batara Guru Berada di Sura-laya.


“Batara Guru mempunyai “tabungan” putri manis  di Negara mendang. Niatnya putri tadi mau di angkat ke Surga serta ingin di jadikan permaisurinya.


Tatkala Batara Wisnu sedang berkelana ia tertarik  melihat putri Mendang tadi.  Batara Wisnu tidak menyadarinya bahwa bahu-membahu putri tersebut adalah simpanan ayahnya, Lalu di peristri oleh Batara wisnu. Hal itu membuat murka Batara Guru. Sang Hyang Narada lalu ditugaskan untuk memberikan  Murkanya, serta mengambil alih kerajaannya. Batara Wisnu Mengetahui hal itu kemudian pergi dari negeri nya, bertapa ditengah hutan, di bawah pohon beringin berjajar tujuh batang. Istrinya, putrinya, dari mendang itu pun ditinggalkannya.


Alkisah dari Negeri Giling Wesi Rajanya bergelar Watu-gunung yang bernama Prabu SilaCala. Memmpunyai 2 orang permaisuri yang pertama berjulukan Dewi Sinta dan yang ke dua Dewi Landep. Berputra 27 orang. Semuanya laki-laki, yang berjulukan : 1. Wukir 2. Kurantil 3. Tolu 4. Gumbreg 5. Warigalit 6. Wari Agung 7. Julung Wangi 8. Sungsang 9. Galungan 10. Kuningan 11. Langkir 12. Manda Siya, 13.Julung-Pujut, 14. Pahang 15. Kuru Welut 16. Marakeh 17. Tambir 18. Mandangkungan 19. Maktal  20. Puye 21. Menahil 22. Prang Bakat  23. Baal  24. Wugu 25. Wayang 26. Kulawu 27. Dukut. Semua keturunan dari Permaisuri Dewi Sinta.


D alam Tahun Wijaya, terhitung tahun 401 S dengan sengkalan Janma Angrusak Pakarti, atau 413 C, Gunung Wong Dadi Barakan. Bersamaan dengan periode Kaetika. Saat itu Negeri Giling Wesi terjadi huru hara besar. Banyak rakyat kecil yang menderita, kuliner sukar didapat, sering terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan, hujan salah ekspresi dominan, gempa tujuh kali dalam sehari. Itu sebagai kode Negeri Giling Wesi akan rusak. Prabu silacala (batu gunung) sangat duka melihat penderitaan rakyat nya.


Suatu hari Prabu SilaCala sedang duduk diperaduan yang yang dibuat dari gading dan bercengkerama dengan permaisuri Dewi Sinta sambil mengemong anak mereka yang baru disapih. Lama-lama prabu SilaCala membaringkan kepalanya di pangkuan Dewi Sinta minta dicarikan kutunya. Pada dikala itu Dewi Sinta terkejut   melihat kepala prabu botak di bagian atas. Dewi Sinta mengajukan pertanyaan mengapa terjadi demikian. Prabu SilaCala menceritakan alasannya musabab gundul dibagian kepalanya. Pada waktu kecil dipukul centong oleh ibunya yang berjulukan Dewi Basundari. Lalu ia ceritakan kelanjutan perjalanan hidupnya hingga menjadi Raja.


Setelah mendengar dongeng demikian, Dewi Sinta terpana kemudian ingat dikala pergi anaknya yang berjulukan Raden Wudhug atau Raden Radite alasannya adalah di pukul centong kepalanya hingga keluar darah. Letak menghantam nya persis pada segi kepala Prabu SilaCala yang menjadi botak.


Dewi Sinta merenung dalam hati, bahwa tidak salah, Prabu SilaCala yakni anaknya yang dipukul itu, lalu menjadi suaminya. Dewi Sinta sungguh menyesal, dan mengeluh terhadap ilahi alangkah celaka hidupnya. Demi, takut ketahuan anak nya, Dewi Sinta lalu berkata: “Paduka, apakah benar paduka mengasihi hamba?”…


Prabu SilaCala mendengar perkataan permaisurinya sungguh kagethatinya, dan segera bangun dari pangkuan. Lalu Dewi Sinta di rangkul, di gendong, di cumbu rayu, di ciumi pipinya dan prabu berkata: “Duhai nyawa, pemimpin semua di bumi, siapa yang tidak akan jatuh cinta melihat putri mutiara secantik dinda. “duh aduh pujaan ku adinda, kasih ku hanya pada mu, mengapa engkau masih ragu.


“mana sih di antara istri ku yang ku cintai lebih dari adinda? Terlebih hanya adinda yang berputra laki-laki dan ganteng paras muka nya?” Dewi Sinta berkata: “Paduka suami junjungan hamba, bila paduka benar-benar mengasihi hamba, izinkan hamba memohon terhadap paduka bila kurang tata bahasa hamba mohon di maafkan, lagi pula sejak ketika ini paduka jangan meminta bermain asmara dengan hamba, alasannya adalah hamba hendak menjalani tapa brata, memuja terhadap dewa minta keselamatan dan kemakmuran paduka dalam melakukan pemerintahaan, hingga permohonan hamba di kabulkan oleh dewata”.


Sabda prabu SilaCala,”Duhai adinda, permataku yang tak pernah lepas dari mataku, jantung hatiku, apa yang menjadi keinginanmu saya turuti, tapi jangan usang-usang oleh mu memuja brata. Karena aku tidak tahan menyaksikan manisnya keperempuanmu lebih dari dua kali purnama”.Dewi Sinta menyanggupi sambil memohon doa agar di terima oleh dewa.


Dewi Sinta kemudian di turunkan dari gendongan. Dewi Sinta menciumi anaknya, Raden Radeya sambil berpeluh tangis. Kata sang Dewi, “Paduka, anak mu Raden Radeya layak di berinama Raden Sindhula”.


Prabu SilaCala menuruti kehendak permaisurinya, lalu permaisuri pergi ketempat pemujaan. Memohon terhadap yang kuasa biar di ampuni dosa-dosanya karena telah samar dengan putranya sendiri dan memohon biar kasih Prabu SilaCala terhadap dirinya berkurang. Tidak usang permohonannya di terima oleh ilahi. Kelihatan cinta Prabu SilaCala padanya sudah menyusut. disamping itu Raden Radeya juga telah populer dengan sebutan Raden Sindhula, yang artinya air atau sperma yang salah kawasan.


Pada tahun 402 S ditandai Nembah Mesat Wahana Sirna, atau 414 C ditandai Pakartining Janma Warna Muksa. berbarengan dengan periodeKartika, Prabu SilaCala menemui Dewi Sinta, mencumbu rayu tidak tahan lagi mengajak bercinta. akan namun Dewi Sinta pura-pura  jikalau sedang datang bulan. Prabu SilaCala kemudian berhenti. Esok harinya, dmikian pula Dewi Sinta berargumentasi jika sedang tiba bulan.


sejak saat itu walaupun tiada henti-henti prabu SilaCala berkehendak untuk mengajak permaisurinya berjimak dengan kata cumbu rayu sepreti kumbang hendak menghisap sari madu, akan tetapi Dewi Sinta tetap tidak mau. Prabu SilaCala heran menyaksikan tindak tanduk permaisurinya yang merepotkan diajak bercinta, hingga timbul niatnya untuk menganiayanya. pada saat itu Dewi Sinta kebingungan hendak menolaknya, kemudian beliau menerima akal dan berkata, “Wahai paduka suami junjungan hamba yang berkuasa di dunia, mohon kurangi nafsu, redakan pamrih.


siapakah yang memiliki jasad hamba ini kecuali paduka. akan namun hamba mesti tahu seberapa besar cinta Paduka kepada hamba. kalau paduka benar-benar cinta, sebuah kata mutiara mengatakan, “Bukti cinta sejati adalah lapang dada, letak ke ikhlasan yaitu kesediaan menyanggupi permintaan wanita. maka hamba hendak mengajukan permohonan terhadap paduka”.


Prabu Silacala menjawab sambil merintih, Duhai adinda, jantung hatiku, katakanlah apa yang menjadi undangan mu. Jangankan cuma emas permata yang indah-indah, jika engkau meminta di bongkarnya gunung batuwara, menjembatani laut jawa, niscaya aku turuti. Janji saya menerima kesembuhan asmara ku, adinda”.


Dewi Sinta menjawab, “Paduka, bantu-membantu hamba meminta madu tujuh bidadari dari Suralaya supaya tambah keluhuran paduka. bila Paduka berkenan, hamba memohon semoga paduka mengawini Dewi Supraba, Dewi Gotama, Dewi Warsiki, Dewi Surendra, Dewi Gagar mayang, Dewi Irim irim, Dewi Tunjung biru”. Prabu Silacala sesudah mendengar perkataan Dewi Sinta, lalu menjawab dengan tertawa, “Duhai adinda, cantik sekali permintaanmu. Akan tetapi setuju, akan aku turuti”.


Prabu Silacala lalu keluar, memanggil adiknya Patih Suwelacala dan Brahmana Suktina. Prabu Silacala memerintahkan keinginannya untuk mengawini tujuh bidadari Suralaya. Apa bisa yang menjadi akomodasi untuk mewujudkan hal ini? kata Brahmana Suktina, “Paduka, kehandak yang sedemikian besar itu, mesti di jalani dengan Tapa Brata, di songsong dengan darma, di panah dengan cipta damai, di gagas dengan ketajaman akal. Maknanya, jangan hingga putus meminta ampunan kepada tuhan.


jikalau tepat, maka sangat yang di harapkan akan di kabulkan, yang di kehendaki ada, yang di minta datang”. Kata Prabu Silacala, “Hai Brahmana Suktina, Jalan yang demikian itu sangat sulit, Bagaiman caranya membuka agar jangan terlalu susah dan gampang di lewati?”


Arya Suwelacala berkata, “Paduka, jika sulit itu melakukannya dengan keseriusan niat. kalau besar lengan berkuasa niatnya, lama lama pasti bisa dijalani”. Prabu Silacala diam kemudian pergi masuk ke taman sari menyaksikan bunga bunga sambil mencari logika.


Diceritakan ditaman tadi ada seorang Raksasa kerdil yang menjadi juru taman yang bernama brekuthu. Ia menyampaikan kepada Prabu silacala, “Paduka, Dewa itu sungguh murah Asih, niscaya memenuhi segala usul hambanya. kemarin bunga wiluta yang ada di jambangan, kembangnya rusak dikonsumsi ulat. alasannya hamba jengkel, hamba memohon kepada tuhan walaupun dikonsumsi ulat namun yang buruk buruk saja. kemudian pagi ini hamba menyaksikan bunga bunga yang cantik tidak ada yang di makan ulat”.


Prabu Silacala lalu melihat jambangan. Sungguh bunga bunga yang anggun utuh semua, tidak ada yang dikonsumsi ulat. Prabu Silacala merenung dalam hati, kemudian berkata terhadap brekuthu,”Hai, Brekuthu, jika kamu di kasihi Dewa, maka mohonkan untuk ku tujuh Bidadari dari Suralaya”.


Kata Brekuthu, “Duhai, Paduka sesembahan hamba, jika demikian keinginanpaduka, hamba mohon di marahi, alasannya adalah hamba merasa belum di terima oleh Dewa. Hamba tidak kuat Prihatin, akan tetapi hamba punya orang bau tanah Raksasa yang berjulukan Pulasya yang mengabdi di setra  Gandamayit. Sepertinya ia sudah di teria Dewa, sebab sudah pernah naik ke Kahyangan Suralaya di utus oleh  SangHyang Kala.


Dia mungkin bisa memohonkan apa yang menjadi hasratPaduka itu”. Kata Prabu Silacala, “Ditya Pulasya itu apa mau saya panggil? serta apa kau ini anaknya betul?” Kata Ditya brekuthu, “ Akan aku coba mengundangnya , akan namun kata hamba kapada SangHyang masa, Paduka yang meminta”. Prabu, Silacala berkenan. Ditya Brekuthu ditugaskan untuk berngkat. Pesan Brekuthu, ”Paduka, sesudah kepergian hamba, mohon Paduka menyembelih seekor lembu di olah mentah dan disajikan ke setiap tempat yang seram, dan mata air yang wingit, serta pohon yang gila.


ini selaku persembahan kepada Eyang hamba SangHyang Kala”. Prabu Silacala menyetujuinya. Ditya Brekuthu melesat mengangkasa. Sesampai di Setra Gandamayit, Brekuthu menyampaikan terhadap SangHyang Kala, wacana kedatangannya sebagai delegasi. Kata SangHyang Kala, “Sudah Aku kabulkan, sebab aku sudah mendapatkan persembahan di daerah-kawasan yang angker semua”. Lalu Ditya Pulasya di perintahkan untuk secepatnya berangkat.


Sesampai di Kerajaan Giling Wesi bertemu dengan Prabu Silacala. Ia di sambut dengan ramah dan di katakan apa yang menjadi kehendak Prabu Silacala. Ditya Pulasya menyanggupi lalu melesat ke angkasa. sesampai di Suralaya, menghadap SangHyang Indra, “Hai, Ditya Pulasya, belum pernah terjadi insan mengawini Bidadari kecuali dengan maut yang sempurna. Karena badan halus itu jodohnya tubuh halus”. Ditya Pulasya kemudian mundur merasa aib. demikian juga Ia malu Untuk kembali ke Giling Wesi, maka Ia kembali Setra Gandamayit.


Pada tahun manmata 403 S, ditandai Guna Tanpa Dadi, atau tahun 415 C, Wisaya Nunggal Warna. serentak dengan masa Kartika, diceritakan Prabu Silacala memanggil Brekuthu menanyakan mengapa usang sekali perjalanan Ditya Pulasya. Kata Brekuthu, “Paduka, hamba rasa tidak terlalu usang perjalanan ke Suralaya. Hamba pikir dikala ini Ditya Pulasya sudah ada di Setra Gandamayit”.


Prabu Silacala memerintahkan untuk mencarinya ke Setra Gandamayit. Brekuthu kemudian melesat. sesampai di Setra Gandamayit kemudian menghadap kepada SangHyang Kala. Ia menyampaikan bahwa kedatangannya di perintahkan untuk mencari info wacana Ditya Pulasya. Kata SangHyang Kala, terhadap Brekuthu, “Hai, Brekuthu, Raja mu punya panah erawanabusurnya bajra, itu sampaikan pada Raja mu agar di persembahkan ke Suralaya.


Kamu yang memperlihatkan kepada SangHyang Indra. mungkin dengan demikian, akan menerima tali asih yang kuasa kepada raja mu, karena untuk menerima cinta kasih kerap kali mesti di bayar dengan suatu pengorbanan”. Ditya Brekuthu menyembah dan pamit kembali. Sesampai di kerajaan Giling Wesi, Brekuthu melaporkan segalanya dari permulaan sampai tamat. Prabu Silacala membisu karena sedih. perkataan Ditya Brekuthu masih di pikirkannya




Belajar Aksara Jawa


Tulisan Aksara Jawa Lengkap ( Belajar aksara Jawa lengkap ) 16:56 Bahrul Dududth 16 comments Apa itu abjad Jawa? Aksara Jawa yang dalam hal ini ialah Hanacaraka (diketahui juga dengan nama Carakan) yaitu abjad turunan abjad Brahmi yang digunakan atau pernah dipakai untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, Makasar, Madura, Melayu, Sunda, Bali, dan Sasak.


Bentuk Hanacaraka yang kini digunakan telah tetap semenjak kurun Kesultanan Mataram (abad ke-17) namun bentuk cetaknya gres timbul pada era ke-19. Aksara ini yakni adaptasi dari karakter Kawi dan ialah abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah abjad (huruf) dalam huruf latin. Sebagai teladan aksara Ha yang mewakili dua huruf yaitu H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh jika dibandingkan dengan kata “hari”.


Aksara Na yang mewakili dua abjad, ialah N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh jika daripada kata “nabi”. Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah karakter dalam suatu penulisan kata jika ketimbang penulisan abjad Latin. Penulisan Aksara Jawa Pada bentuknya yang orisinil, karakter Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi.


Namun pada pengajaran modern menuliskannya di atas garis. Aksara Hanacaraka memiliki 20 aksara dasar, 20 aksara pasangan yang berfungsi menutup suara vokal, 8 abjad “utama” (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan aksara utama, lima karakter swara (aksara vokal depan), lima abjad rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan selaku pengatur vokal, beberapa karakter khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada). 1. Huruf Dasar (Aksara Nglegena) Aksara Nglegena yakni aksara inti yang berisikan 20 suku kata atau lazimdisebut Dentawiyanjana, ialah: ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga.


Aksara-jawa


Huruf Pasangan (Aksara Pasangan) Aksara pasangan digunakan untuk menekan vokal konsonan di depannya. Misal, untuk menuliskan mangan sega (makan nasi) akan dibutuhkan pasangan untuk “se” semoga “n” pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan “s” tulisan akan terbaca manganasega (makanlah nasi). Berikut daftar Aksara Pasangan:


aksara-jawa


Huruf Utama (Aksara Murda) Aksara Murda yang dipakai untuk menuliskan permulaan kalimat dan kata yang menawarkan nama diri, gelar, kota, forum, dan nama-nama lain yang jika dalam Bahasa Indonesia kita gunakan karakter besar. Berikut Aksara Murda serta Pasangan Murda:


aksara-jawa


Sampai disini sesungguhnya telah mampu langsung dicoba dan lazimnya dianggap sah-sah saja tanpa komplemen abjad-huruf yang lain (seperti kutulis di bawah). Karena yang berikutnya rada riweuh juga mempelajarinya.


Huruf Vokal Mandiri (Aksara Swara) Aksara swara yakni karakter hidup atau vokal utama: A, I, U, E, O dalam kalimat. Biasanya dipakai pada awal kalimat atau untuk nama dengan awalan vokal yang mengharuskan penggunakan karakter besar.


aksara-jawa


Huruf vokal tidak berdikari (Sandhangan) Berbeda dengan Aksara Swara, Sandangan digunakan untuk vokal yang berada di tengah kata, dibedakan termasuk berdasarkan cara bacanya.

aksara-jawa


Huruf aksesori (Aksara Rekan) Aksara Rekan yakni karakter yang berasal dari serapan bahasa ajaib, ialah: kh, f, dz, gh, z.


aksara-jawa


. Tanda Baca (Pratandha) Dalam penulisan kalimat dalam Aksara Jawa diharapkan pula pembubuhan tanda baca, yang berbeda-beda dalam penggunaannya.


aksara-jawa


Selain aksara, Aksara Jawa juga punya bilangan (Aksara Wilangan)

aksara-jawa




Demikianlah artikel dari dosenmipa.com mengneai Aksara Jawa : Sandangan, Contoh Tulisan, Murda, Contoh, Kuno, Ibu, Kalimat, Cakra, supaya artikel ini bermanfaat bagi anda seluruhnya.



Sumber yu.com


EmoticonEmoticon