data-id="2668"
data-slug="">
5
/
5
(
10
votes
)
Asal Usul Si Raja Batak
Daftar Isi Artikel
Asal permintaan suku Batak sangat sukar untuk ditelusuri dikarenakan minimnya situs peninggalan sejarah yg menceritakan perihal suku Batak, maka sering dibilang menelusuri asal ajakan suku Batak ialah orang yg kurang kerjaan. tetapi bagi aku nggak jadi masalah dikatakan kurang kerjaan, siapa tau ada dari para pembaca yg mampu lebih melengkapi tulisan ini aku akan sangat berterima kasih.
Dengan mengutip dari berbagai sumber tergolong goresan pena diberbagai blog dan juga buku2 yg menuls wacana Batak aku mencoba untuk menyajikannya bagi para pembaca Suku Batak yaitu salah satu dari ratusan suku yg terdapat di Indonesia,suku Batak terdapat di wilayah Sumatera Utara.Menurut legenda yang dipercayai sebahagian masyarakat Batak bahwa suku batak berasal dari pusuk buhit daerah sianjur Mula Mula sebelah barat Pangururan di pinggiran danau toba.
Kalau model andal sejarah Batak menyampaikan bahwa siRaja Batak dan rombonganya berasal dari Thailand yg menyeberang ke Sumatera melalui Semenanjung Malaysia dan hasilnya hingga ke Sianjur Mula mula dan menetap disana.
Sedangkan dari prasasti yg didapatkan di Portibi yg bertahun 1208 dan dibaca oleh Prof. Nilakantisari seorang Guru Besar hebat Kepurbakalaan yg berasal dari Madras,India menerangkan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya dan menguasai tempat Barus.pasukan dari kerajaan Cola kemunggkinan adalah orang-orang Tamil sebab ditemukan sekitar 1500 orang Tamil yang bertempat tinggal di Barus pada periode itu.Tamil ialah nama salah satu suku yg terdapat di India.
si Raja Batak diperkirakan hidup pada tahun 1200 (awal kurun ke13) Raja Sisingamangaraja keXII diperkirakan keturunan siRaja Batak generasi ke19 yg wafat pada tahun 1907 dan anaknya si Raja Buntal ialah generasi ke 20.
Dari temuan diatas mampu diambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar leluhur dari siRaja batak yakni seorang pejabat atau pejuang kerajaan Sriwijaya yg berkedudukan diBarus karena pada kala ke12 yg menguasai seluruh nusantara ialah kerajaan Sriwijaya diPalembang.
Akibat dari penyerangan kerajaan Cole ini maka diperkirakan leluhur siRaja Batak dan rombonganya terdesak hingga ke daerah Portibi sebelah selatan Danau Toba dan dari sinilah kemungkinan yg dinamakan siRaja Batak mulai memegang tampuk pemimpin perang atau boleh jadi siRaja Batak memperluas kawasan kekuasaan perangnya hingga mancakup kawasan sekitar Danau Toba, Simalungun, Tanah Karo, Dairi sampai sebahagian daerah Aceh dan memindahkan pusat kekuasaanya sidaerah Portibi disebelah selatan Danau Toba.
Pada simpulan periode ke12 sekitar tahun 1275 kerajaan Majapahit menyerang kerajaan Sriwijaya sampai kedaerah Pane,Haru,Padang Lawas dan sekitarnya yg diperkirakan tergolong tempat kekuasaan si Raja Batak.
Serangan dari kerajaan Majapahit inilah diperkirakan yg menjadikan si Raja Batak dan rombonganya terdesak hingga masuk kepedalaman disebelah barat Pangururan ditepian Danau Toba,tempat tersebut berjulukan Sianjur Mula Mula dikaki bukit yang berjulukan Pusuk Buhit,kemudian menghuni daerah tersebut bersama rombonganya.
terdesaknya siRaja Batak oleh pasukan dari kerajaan Majapahit kemungkinan akrab hubunganya dengan runtuhnya kerajaan Sriwijaya dipalembang alasannya mirip pada asumsi diatas siRaja Batak yakni kemungkinan seorang Penguasa perang dibawah kontrol kerajaan Sriwijaya.
Sebutan Raja kepada siRaja Batak bukanlah sebab beliau seorang Raja akan namun merupakan sebutan dari pengikutnya ataupun keturunanya sebagai penghormatan karena memang tidak ada didapatkan bukti2 yg memberikan adanya sebuah kerajaan yg dinamakan kerajaan Batak.
Suku Batak sangat menghormati leluhurnya sehingga hampir semua leluhur marga2 batak diberi gelar Raja sebagai gelar penghormatan,juga makam-makam para leluhur orang Batak dibangun sedemikian rupa oleh keturunanya dan dibuatkan tugu yang mampu menghabiskan ongkos milyartan rupiah.Tugu ini dimaksudkan selain penghormatan kepada leluhur juga untuk mengingatkan generasi muda akan silsilah mereka.
didalam sistim kemasyarakatan suku Batak terdapat apa yang disebut dengan Marga yang dipakai secara turun temurun dengan mengikuti garis keturunan laki laki.ada sekitar 227 nama Marga pada suku Batak.
Didalam Tarombo Naimarata dibilang bahwa siRaja Batak mempunyai 3 (tiga)orang anak yaitu:
- GURU TATEA BULAN (si Raja Lontung)
- RAJA ISOMBAON (si Raja Sumba)
- TOGA LAUT.
Ketiga anak si Raja Batak inilah yg diyakini meneruskan tampuk pimpinan siRaja Batak dan asal mula terbentuknya marga-marga pada suku Batak.
Pengantar
Kata karakter berasal dari bahasa Sansekerta dan bermakna abjad. Dalam bahasa Batak perumpamaan surat digunakan untuk merujuk pada karakter Batak: Surat Batak.
Surat Batak berisikan 19 ina ni surat dan 5 anak ni surat. Abjadnya mempunyai beberapa urutan, salah satunya digunakan sebelah kiri. Urutan lain ialah:
a ha ma na ra ta sa pa la ga ja da nga ba wa ya nya i u
Di samping itu masih ada beberapa model lainnya, namun yang di atas yang paling lazim.
Sebagaimana halnya dengan semua huruf keturunan India maka Surat Batak juga berisikan huruf yang senantiasa berakhir dengan vokal a, dan tanda diakritis yang dalam bahasa Batak disebut anak ni surat. Jumlah anak ni surat beraneka ragam dan di Toba berjumlah enam. Keenam anak ni surat mengubah induk ni surat dengan mengambil alih nilai /a/ dengan vokal e, i, o, u, dengan menambahkan ng, atau dengan meniadakan bunyi /a/ pada aksara induk. Keenam anak ni surat memiliki nama tersendiri dan kadang-kadang terdapat lebih dari satu nama tergantung pada daerah atau tradisi masing-masing.
Semua ina ni surat yang berupa konsonan rampung dengan bunyi /a/ (bp bapa).
Anak ni Surat
Untuk menambah bunyi vokal, suara sengau dan suara /h/ serta untuk mematikan bunyi /a/ perlu ditambah beberapa tanda diakritik (anak ni surat). Perhatikan bahwa dari semua bahasa Batak, bahasa Toba memiliki jumlah bunyi bahasa yang paling sedikit. Hanya bahasa Karo dan Pakpak yang memiliki bunyi e-pepet dan oleh sebab itu maka ada huruf tersendiri untuk e-pepet yang berbeda dengan e-keras. Dalam bahasa Batak lainnya bunyi e-pepet menjadi /o/: telu => tolu, besi => bosi.
Baik Toba maupun Mandailing tidak memiliki bunyi /h/ pada akhir suku kata sehingga: idah => ida, rumah => ruma, geluh => golu, reh =>ro.
Surat Batak ialah nama karakter yang dipakai untuk menuliskan bahasa Batak. Surat Batak masih berkerabat dengan abjad Nusantara yang lain. Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan daerah. Secara garis besar, ada lima varian surat Batak di Sumatra, ialah Karo, Toba, Dairi, Simalungun, dan Mandailing. Aksara ini wajib dikenali oleh para datu, adalah orang yang dihormati oleh penduduk Batak alasannya menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, abjad ini masih mampu ditemui dalam banyak sekali pustaha, ialah kitab tradisional masyarakat Batak.
Ciri khas Surat Batak
Surat Batak adalah suatu jenis huruf yang disebut abugida, jadi ialah suatu perpaduan antara alfabet dan huruf suku kata. Setiap abjad telah mengandung sekaligus konsonan dan vokal dasar. Vokal dasar ini yakni bunyi [a]. Namun dengan tanda diakritis atau apa yang disebut anak ni surat dalam bahasa Batak, maka vokal ini mampu diubah-ubah.
Huruf vokal dan konsonan dalam aksara Batak diurut berdasarkan tradisi mereka sendiri, adalah: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak umumnya ditulis pada bambu/kayu.[1] Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d’Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Jenis huruf dan penyebaran
Setiap bahasa Batak memiliki varian Surat Batak sendiri-sendiri. Namun varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Ada empat varian Surat Batak yang utama, sesuai rumpun bahasa Batak, yaitu: Karo, Toba , Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Angkola-Mandailing. Dengan membandingkan kelima aksara Batak dan menyelenggarakan analisa nama-nama aksara diakritik maka Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai’i at Manoa, dapat menunjukan bahwa karakter Batak mula-mula ada di Mandailing.
Dari Mandailing huruf Batak menyebar ke tempat Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo memberikan imbas baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d’Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
Anak ni surat
Anak ni surat dalam abjad Batak ialah unsur fonetis yang disisipkan dalam ina ni surat (tanda diakritik) yang berfungsi untuk mengubah pengucapan/lafal dari ina ni surat. Tanda diakritik tersebut dapat berbentuktanda vokalisasi, nasalisasi, atau frikatif. Anak ni surat ini terdiri dari:
- Bunyi [e] (hatadingan)
- Bunyi [ŋ] (paminggil)
- Bunyi [u] (haborotan)
- Bunyi [i] (hauluan)
- Bunyi [o] (sihora)
- Pangolat (tanda untuk menetralisir bunyi [a] pada ina ni surat)
Nama-nama tanda diakritis di atas hanya berlaku untuk bahasa Batak Toba. Dalam bahasa-bahasa Batak lainnya terdapat sejumlah variasi nama ina ni surat. Misalnya Pangolet dalam bahasa Karo dinamakan “penengen”.
Seperti halnya ina ni surat, anak ni surat dalam karakter Batak juga disusun menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: [e], [i], [o], [u], [ŋ], [x]. Tanda diakritik juga mempunyai varian bentuk antara suatu daerah dengan daerah yang lain yang memakai karakter yang serupa. Di bawah ini dihidangkan pola penggunaan tanda diakritik dengan huruf Ka, dan varian tanda pangolat.
Demikianlah postingan dari dosenmipa.com mengenai Aksara Batak : Font, Cara Tulis, Sejarah, Surat, Membaca, Pengertan, Sejarah, Raja, biar postingan ini berfaedah untuk anda semuanya.
Sumber yu.com






EmoticonEmoticon