Senin, 01 Februari 2021

Karakter Jawa Dan Pasangan

class="kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left "
data-id="2695"
data-slug="">





































5
/
5
(
4

votes

)



Sejarah Tanah Jawa



Sejarah yang melatar belakangi eksistensi dan perjalanan dongeng akan bangsa kita, yang mana pastinya menjadi suatu kekayaan akan budaya bangsa kita yang populer adi luhung ( kaya akan pekerti baik ).




KALING


Sekitar tahun 618-906 di Jawa Tengah ada kerajaan berjulukan Kaling/Holing. Rakyat tenteram dan hidup sejahtera. Sejak tahun 674 diperintah oleh seorang raja wanita bernama Simo, yang memerintah menurut kejujuran mutlak, sungguh keras dan masingmasing orang mempunyai hak dan kewajiban yang tidak berani dilanggar. Sebagai teladan: putra mahkota pun dipotong kakinya karena menjamah barang yang bukan miliknya di daerah biasa .




MATARAM Lama (Jawa Tengah)


Di desa Canggal (barat daya Magelang) didapatkan suatu prasasti berangka tahun 732, berhuruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sanskerta. Isi utama menceritakan tentang peringatan didirikannya suatu lingga (lambang Siwa) di atas suatu bukit di tempat Kunjarakunja oleh raja Sanjaya, di sebuah pulau yang mulia berjulukan Yawadwipa yang kaya raya akan hasil bumi khususnya padi dan emas.


Mendirikan lingga secara khusus yakni mendirikan kerajaan. Tempat tepatnya ialah di gunung Wukir desa Canggal. Disini diketemukan sisa-sisa suatu candi induk dengan 3 (tiga) candi perwara di depannya. Sayangnya yang masih tersisa sungguh sedikit sekali, dimana lingganya telah tidak ada dan yang ada hanya landasannya yaitu suatu yoni besar sekali, disamping candinya pun juga sudah tidak berwujud lagi.


Yawadwipa mula-mula diperintah oleh raja Sanna, sangat lama, bijaksana dan berbudi halus. Lalu setelah wafat digantikan oleh Sanjaya, anak Sannaha (kerabat perempuan Sanna), raja yang hebat dalam kitab-kitab suci dan keprajuritan, membuat ketenteraman dan kesejahteraan yang mampu dinikmati rakyatnya. Dari prasasti-prasasti para raja yang berturut-turut menggantikannya, Sanjaya dianggap sebagai Wamsakarta dari kerajaan Mataram dan diakui betapa besarnya Sanjaya itu bagi mereka hingga periode X.




KANJURUHAN (Jawa Timur)


Di desa Dinoyo (barat maritim Malang) diketemukan suatu prasasti berangka tahun 760, berhuruf Kawi dan berbahasa Sanskerta, yang menceritakan bahwa dalam abad VIII ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (kini desa Kejuron) dengan raja bernama Dewasimha dan berputra Limwa (dikala menjadi pengganti ayahnya berjulukan Gajayana), yang mendirikan suatu tempat pemujaan untuk tuhan Agastya dan diresmikan tahun 760. Upacara pelantikan dikerjakan oleh para pendeta ahli Weda (agama Siwa). Bangunan kuno yang dikala ini masih ada di desa Kejuron ialah Candi Badut, berlanggam Jawa Tengah, sebagian masih tegak dan terdapat lingga (mungkin lambang Agastya).




SANJAYAWAMSA dan CAILENDRAWAMSA


Kecuali di desa Canggal, hingga pertengahan masa IX dari keturunan Sanjaya tidak ada lagi didapatkan prasasti lain, kecuali sehabis itu diketemukan prasasti-prasasti dari keluarga raja lain, yakni Sailendrawamsa, antara lain prasasti Kalasan. Dalam prasasti Kalasan, berhuruf Pra-nagari, berbahasa Sanskerta, berangka tahun 778, disebutkan bahwa para guru sang raja berhasil membujuk maharaja Tejahpurnapana Panangkarana/Kariyana Panangkarana untuk mendirikan bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta dalam kerajaan.


Selain itu terbukti bahwa antara keluarga Sanjaya dan keluarga Sailendra ada kerjasama yang bersahabat dalam hal-hal tertentu. Candi itu bernama Kalasan, di desa Kalasan (sebelah timur Yogyakarta), yang walau di dalam candi ini saat kini kosong, namun melihat singgasana dan biliknya maka arca Tara dahulu bertahta disini dan besar sekali, yang diperkirakan dari perunggu.


Menurut prasasti raja Balitung berangka tahun 907, Tejahpurna Panangkarana adalah Rakai Panangkaran, pengganti


Sanjaya. Kemudian dilanjutkan oleh Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalanga dan raja Balitung/Rakai Watukura dyah Balitung Dharmodaya Mahasambhu (yang menciptakan prasasti). Pada ketika pemerintahan Sanjayawamsa berjalan terus dengan daerah kekuasaan di bab utara Jawa Tengah dan beragama Hindu yang memuja Siwa, terbukti dari sifat candinya (thn 750-850 M), maka pemerintahan Sailendrawamsa juga berjalan terus dengan tempat kekuasaan di bagian selatan Jawa Tengah dan beragama Buda aliran Mahayana yang juga terbukti dari candinya. Namun kedua wamsa ini bersatu di pertengahan kurun IX, yang ditandai adanya perkawinan antara Rakai Pikatan dengan Pramodawardhani (raja putri dari keluarga sailendra).


Selain candi Kalasan yang diresmikan untuk memuliakan agama Buda, didapatkan juga prasasti dari Kelurak (Prambanan) yang berhuruf Pra-nagari dan berbahasa Sanskerta, yang berisi perihal pembuatan arca Manjusri (mengandung Buddha, Dharma dan Sanggha), rajanya bergelar sri Sanggramadananjaya, dengan bangunan untuk daerah arca yang diperkirakan (tidak jauh di sebelah utara Prambanan) bernama Candi Siwa.




SANJAYAWAMSA


Setelah sukses menghilangkan kekuasaan keluarga Sailendra, dalam prasasti tahun 856 dikatakan bahwa Rakai sebelum turun tahta bisa menggempur Balaputra yang bertahan di bukit Ratu Boko. Penggantinya adalah Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi (tahun 856-886) dengan istilah sri maharaja dan gelar abhiseka (penobatan raja) sri Sajjanotsawatungga (memperlihatkan bahwa beliau penguasa satu-satunya dan juga berdarah Sailendra). Rakai Kayuwangi menghadapi kesusahan rakyatnya, sebab selama 3/4 abad Sailendra banyak menghasilkan bangunan-bangunan suci yang megah dan glamor demi kebesaran raja, yang mengakibatkan lemahnya tenaga rakyat Mataram dan menekan hasil pertanian.




ISTANA (Jawa Timur)


Panggung sejarah pindah dari Jawa tengah ke Jawa Timur tanpa karena yang jelas, dengan rajanya Sindok (929-947). Pemerintahan berlangsung kondusif dan makmur. Sebuah kitab suci Budha (Sang Hyang Kamahayanikan) yang menguraikan pedoman dan ibadah agama Budha Tantrayana mampu dihimpun selama Sindok berkuasa, walau dia beragama Hindu. Ia memerintah bareng permaisurinya berjulukan Sri Parameswari Sri Wardhani pu Kbi. Anehnya, sebelum kawin dengan anak Wawa (mungkin) ia tidak memakai gelar raja (sri maharaja rake hino sri Icana Wikramadharmottunggadewa), namun menyebut dirinya rakryan sri mahamantri pu Sindok sang Srisanottunggadewawijaya (penguasa tertinggi sesudah raja).




KERAJAAN KADIRI


Sri Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu dengan prasasti berangka tahun 1104, menganggap selaku titisan Wisnu seperti halnya Airlangga, yaitu raja Kadiri yang muncul pertama di pentas sejarah.


Selanjutnya Kameswara (1115-1130), bergelar sri maharaja rake sirikan sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, lencana kerajaan berbentuk tengkorak bertaring yang disebut candrakapala, dan adanya mpu Dharmaja yang telah menggubah kitab Smaradahana (berisi kebanggaan yang mengatakan raja adalah titisan ilahi Kama, ibukota kerajaan berjulukan Dahana yang dikagumi keindahannya oleh seluruh dunia, permaisuri yang sangat manis bernama sri Kirana dari Jenggala).


Mereka dalam kesusasteraan Jawa terkenal dalam dongeng Panji. Pengganti Kameswara yakni Jayabhaya (1130-1160), bergelar sri maharaja sri Dharmmeswara Madhusudanawataranindita Suhrtsingha Parakrama Digjayotunggadewa, lencananya adalah Narasingha, dikekalkan namanya dalam kitab Bharatayuddha (sebuah kakawin yang digubah Mpu Sedah di tahun 1157 dan teratasi oleh Mpu Panuluh yang juga populer dengan kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya).




KERAJAAN SINGHASARI


Menurut dongeng di kitab Pararaton dan Nagarakrtagama, raja pertama berjulukan sri Ranggah Rajasa Amurwabhumi yang terkenal dipanggil Ken Arok, yakni anak seorang Brahmana bernama Gajah Para dengan Ibu berjulukan Ken Endok dari desa Pangkur, yang semula berprofesi selaku pencuri/penyamun yang sungguh sakti dan senantiasa menjadi buronan alat- alat negara. Atas pinjaman seorang pendeta yang membuatnya selaku anak pungut, dia dapat mengabdi kepada seorang akuwu (setara bupati) yang berjulukan Tunggul Ametung. Namun akuwu itu kemudian dibunuhnya dan si janda, Ken Dedes dalam keadaan hamil dikawininya, yang anak itu nantinya diberi nama Anusapati.




KERAJAAN MAJAPAHIT


Raden Wijaya yang sedang mengejar prajurit Kediri ke utara terpaksa melarikan diri sehabis tahu Singhasari jatuh, sedangkan Arddharaja berbalik memihak Kadiri. Dengan dukungan lurah desa Kudadu Raden Wijaya dapat menyeberang ke Madura, guna mencari derma dan pinjaman dari Wiraraja di Sungeneb. Atas usulan dan jaminan Wiraraja, Raden Wijaya menghambakan diri ke Jayakatwang di Kadiri, dan ia dianugerahi tanah di desa Tarik, yang atas pinjaman orangorang Madura dibuka dan menjadi desa subur dengan nama Majapahit.




PERANG BUBAT (Menurut Kidung Sundayana)


Tersebut negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra tangguhkesayangan seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan tuhan Kama, berbudi luhur, akil bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam pertempuran. Inilah raja paling besar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya hingga Papua dan menjadi pujian empu Prapanca dalam Negarakertagama. Makmur negaranya, kondang kemana mana. Namun sang raja belum kawin rupanya.


Mengapa demikian ? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri.


Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai rakyat dan pujian raja Majapahit. Dalam penelusuran seorang kandidat permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan bagus jelita yang mengawali dari Kidung Sundayana. Apakah arti kehormatan dan keharuman sang raja yang bertumpuk dipundaknya, seluruh Nusantara ada di hadapannya. Tetapi engkau cuma satu jiwanya yang selalu memohon pada ilahi akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar bahwa ada raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan elok rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.


Setelah selesai musyawarah sang raja Hayam Wuruk mendelegasikan untuk meminang putri Sunda tersebut lewat mediator yang berjulukan tuan Anepaken, delegasi sang raja datang di kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya untuk di pinang sang prabu Hayam Wuruk.


Ratusan rakyat menghantar sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tetapi tiba-tiba dilihatnya maritim berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tandatanda jelek bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik kepadaraja tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.


Sepuluh hari telah berlalu sampailah di desa Bubat, adalah daerah penyambutan dari kerajaan Majapahit berjumpa . Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang berkeberatan menyambut putri raja Kahuripan tersebut, dimana beliau menganggap putri tersebut akan “dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan dari pihak kerajaan Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang raja.


Dalam dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya sesuatu pertempuran besar antara keduanya hingga terbunuhnya raja Sunda dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah akhir pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati kandidat pinangannya sudah meninggal, sehingga sang raja tak mampu menanggung kepedihan hatinya, yang tak lama kemudian kesudahannya mangkat. Demikian inti Kidung Sindanglaya ini.


Sementara di Jawa Barat telah ada :



  • Berdirinya kerajaan nafas hindu : Sunda dengan rajanya Sri Jayabupati. 1190 : Kerajaan Galuh dengan rajanya Ratu Pusaka

  • Kerajaan Pajajaran, dengan ibu kota Pakuan. Rajanya Ratu Purnama


Selain selaku negarawan, Gajah mada terkenal pula sebagai hebat aturan. Kitab aturan yang beliau susun sebagai dasar hukum di Majapahit yaitu Kutaramanawa, berdasarkan kitab aturan Kutarasastra (lebih tua) dan kitab hukum Hindu Manawasastra, serta diubahsuaikan dengan hukum etika yang berlaku. Gajah Mada meninggal tahun 1364, dan digantikan oleh 4 (empat) orang menteri yang berfungsi untuk mengekalkan negara serta lebih ditujukan terhadap kemakmuran rakyat dan keselamatan daerah. Beberapa hasil karya semasa Hayam Wuruk yang lain antara lain:



  • Pemeliharaan kawasan-kawasan penyeberangan melintasi bengawan Solo dan Brantas;

  • Perbaikan bendungan Kali Konto (sebelah timur Kadiri);

  • Memperindah Candi untuk Tribhuwanottunggadewi di Panggih;

  • Perbaikan dan ekspansi daerah suci Palah (Panataran);

  • Penyempurnaan Candi Jabung dekat Kraksaan (1354);

  • Membuat Candi Surawana dan Candi Tigawangi di dekat Kadiri (1365);

  • Membuat Candi Pari (akrab Porong) bercorak dari Campa di tahun 1371;

  • Kitab Nagarakrtagama yang ialah kitab sejarah Singhasari dan Majapahit, dihimpun oleh mpu Prapanca di tahun 1365;

  • Cerita-cerita Arjunawijaya dan Sutasoma oleh Tantular;

  • Habisnya riwayat Sriwijaya di tahun 1377, yang dibinasakan oleh Majapahit.


Hayam Wuruk wafat tahun 1369, yang diperkirakan dimuliakan di Tayung (tempat Brebek Kediri), yang digantikan oleh keponakannya, Wikramawardhana, suami dari anak perempuannya, Kusumawarddhani. Sedangkan anak Hayam Wuruk dari isteri bukan permaisuri, Bhre Wirabhumi, diberi pemerintahan di ujung Jawa Timur.


Wikramawardhana (1369-1428) dan Wirabhumi di tahun 1401-1406 berperang, yang diketahui dengan nama perang Paregreg, dimana Wirabhumi terbunuh. Disini Tiongkok mengenali bahwa perang saudara itu melemahkan Majapahit, sehingga segera berusaha memikat kawasan-daerah luar Jawa untuk mengakui kedaulatannya. Misalnya Kalimantan Barat yang dalam tahun 1368 telah diganggu oleh bajak maritim dari Sulu sebagai alat dari Kaisar Tiongkok, semenjak tahun 1405 tunduk terhadap Tiongkok.


Juga Palembang dan Malayu di tahun yang serupa, mengarahkan pandangannya ke Tiongkok dengan tidak menghiraukan Majapahit. Malaka selaku pelabuhan dan kota dagang penting yang beragama Islam (1400), juga dianggap majapahit sudah hilang. Demikian tempat-tempat yang lain, dan ada juga yang masih mengaku Majapahit selaku atasannya tetapi dalam prakteknya tidak banyak hubungan dengan sentra.


Sehingga saat Wikramawardhana meninggal di tahun 1428, kerajaan Majapahit yang besar dan bersatu telah tidak ada lagi. Ada cerita menawan ihwal kondisi kota Majapahit dan rakyatnya, dari uraian Ma Huan yang orisinil dari Tiongkok dan beragama Islam dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan, yang ditulis dikala mengiringi Cheng-Ho (utusan kaisar Tiongkok ke Jawa) dalam perjalananya yang ketiga ke kawasan-tempat lautan selatan, antara lain :



  • Kota Majapahit dikelilingi tembok tinggi yang dibuat dari bata;

  • Penduduknya kira-kira 300.000 keluarga;

  • Rakyat menggunakan kain dan baju;

  • Untuk laki-laki mulai usia 3 tahun menggunakan keris yang hulunya indah sekali dan yang dibuat dari emas, cula warak atau gading;

  • Para pria jika bertengkar dalam waktu singkat siap dengan kerisnya; Biasa menyantap sirih;

  • Para pria pada setiap perayaan menyelenggarakan perang-perangan dengan tombak bambu;

  • Senang bermain bersama diwaktu terang bulan dengan diserai nyanyian-nyanyian berkelompok dan bergiliran antara kelompok perempuan dan laki-laki;

  • Senang nonton wayang beber (wayang yang setiap adegan ceritanya di gambar di atas sehelai kain, kemudian dibentangkan antara dua bilah kayu, yang jalan ceritanya diuraikan oleh Dalang);

  • Penduduk terdiri dari 3 (tiga) kelompok, orang-orang Islam yang datang dari baratdan menemukan penghidupan di ibukota, orang-orang Tionghoa yang banyak pulaberagama Islam, dan rakyat selebihnya yang menyembah berhala dan tinggalbersama anjing mereka.


Setelah wafatnya Wikramawardhana di tahun 1429 hingga sekitar 1522 tidak banyak dimengerti perihal Majapahit, sedangkan keterangan dari Pararaton sangat semrawut. Yang nyata, bintang Majapahit yang tadinya mempersatukan Nusantara semakin suram dan makin pudar, yang ditandai dengan perang kerabat antar keluarga raja, hilangnya kekuasaan pusat di kawasan, dan adanya penyebaran agama Islam yang semenjak sekitar tahun 1400 berpusat di Malaka disertai timbulnya kerajaan-kerajaan Islam yang menentang kedaulatan Majapahit.


Yang memerintah Majapahit sehabis Wikramawardhana ialah anak perempuannya yakni Suhita (1429-1447), dimana ibunya yaitu anak dari Wirabhumi. Masa pemerintahannya ditandai berkuasanya kembali anasir-anasir Indonesia, antara lain didirikannya aneka macam kawasan pemujaan dengan bangunan-bangunan yang disusun sebagai punden berundakundak di lereng-lereng gunung ( contohnya Candi Sukuh dan Candi Ceta di lereng gunung Lawu). Selain itu terdapat pula watu-batu untuk persajian, tugu-tugu kerikil seperti menhir, gambar-gambar hewan gila yang mempunyai arti sebagai lambang tenaga mistik, dan lainlain.


Suhita digantikan oleh adik tirinya, Krtawijaya (1447-1451). Kemudian dongeng sejarah dan pergantian raja-rajanya sehabis 1451 tidak dapat dimengerti dengan niscaya. dari kitab Pararaton kita kenal raja Raja Suwardhan selaku pengganti Krtawijaya, tetapi beliau berKaraton di Kahuripan dari tahun 1451 hingga 1453. Tiga tahun tanpa raja, kemudian


dilanjutkan oleh Bre Wengker (1456-1466) bergelar Hyang Purwawisesa. Di tahun 1466 dia digantikan oleh Bhre Pandansalas yang nama aslinya Suraprabhawa dan berjulukan resmi Singha wikramawardhana, berKaraton di Tumapel selama 2 (dua) tahun.


Dalam tahun 1468 beliau terdesak oleh Krtabhumi (anak bungsu Rajasa wardhana), yang kemudian berkuasa di Majapahit. Sedangkan Singhawikramawardhana memindahkan kekuasaannya ke Daha, dimana beliau wafat di tahun 1474. Di daha ia digantikan anaknya, Ranawijaya yang bergelar Bhatara Prabu Girindrawardhana, yang berhasil menundukkan Krtabhumi dan merebut Majapahit di tahun 1474.


Menurut prasastinya di tahun 1486 dia menamakan dirinya raja Wilwatika Daha Janggala Kadiri, tetapi kapan berakhirnya memerintah tidak dimengerti. Demikian wacana riwayat Majapahit makin gelap, kecuali informasi-info dari Portugis bahwa Majapahit di tahun 1522 masih bangkit dan bertahun-tahun lalu kekuasaannya berpindah ke kerajaan Islam di Demak.


Akan namun, masih ada juga kerajaan-kerajaan yang meneruskan corak kehinduan Majapahit contohnya, yakni Pajajaran yang hasilnya lenyap sehabis ditundukkan oleh Sultan Yusuf dari Banten di tahun 1579, juga Balambangan yang di tahun 1639 baru bisa ditundukkan oleh Sultan Agung dari Mataram, disamping penduduk di pegunungan tengger yang hingga ketika ini masih mempertahankan corak Hindunya dengan memuja Brahma, dan Bali yang masih tetap dapat menjaga kebudayaan lamanya.


Penerus Majapahit yang tetap di Majapahit (selain Purbawisesa yang beKaraton di Kahuripan) adalah Kertabumi/Brawijaya, yang memerintah di tahun 1453-1478. Tidak diketahui mengenai perjalanan kerajaannya. Namun dia memiliki salah satu putra yang berjulukan raden Patah atau Jin Bun, yang diberi kedudukan sebagi Bupati Demak.


Hanya saja yang menarik, dia mengundurkan diri dan pindah ke gunung Lawu, lalu masuk agama Islam, dimana pengikut setianya ialah Sabdapalon dan Noyogenggong sangat menentang kepindahan agamanya. Sehingga, dikenal adanya semacam sumpah dari Sabdopalon dan Noyogenggong, yang salah satunya mengatakan bahwa sekitar 500 tahun kemudian, akan tiba waktunya, hadirnya kembali agama akal, yang kalau ditentang, akan menjadikan tanah Jawa hancur lebur luluh lantak.




Kerajaan Demak


Seorang Bupati putra dari Brawijaya yang beragama Islam disekitar tahun 1500 bernama raden Patah/Jin Bun/R. Bintoro dan berkedudukan di Demak, secara terbuka memutuskan ikatan dari Majapahit yang telah tidak berdaya lagi, dan atas perlindungan tempat-kawasan lain yang sudah Islam (seperti Gresik, Tuban dan Jepara), dia mendirikan kerajaan Islam yang berpusat di Demak. Putra lainnya bernama Bondan Kejawan/ Lembupeteng di Tarub mengawini Rr. Nawangsih (anak dari hasil perkawinan antara Joko Tarub dan Rr. Nawangwulan) memiliki cucu dari anaknya bernama Kyai Ageng Getas/R. Depok di Pandowo, yaitu Kyai Ageng Selo/Bagus Songgom/Risang Sutowijoyo/Syeih Abdurrahman.


Putra lain dari Brawijaya yang berjulukan Lembupeteng juga berkedudukan di Gilimangdangin/Sampang, mempunyai cucu buyut berjulukan raden Praseno yang menjadi adipati Sampang, berjuluk Cakraningrat I, yang mana putranya yang bernama pangeran Undakan menggantikannya dan bergelar cakraningrat II, sedang putra yang satunya lagi memiliki anak yaitu Trunojoyo. Sedang putri dari Brawijaya adalah Ratu Pambayun yang kawin dengan Pn. Dayaningrat mempunyai 2 (dua) anak berjulukan Kebokanigoro dan Kebokenongo/Ki Ageng Pengging yang menjadi sobat bersahabat seorang wali kontraversial ialah Syeh Siti Jenar.


Ia balasannya juga bisa meruntuhkan Majapahit dan selaku raja Islam pertama bergelar Sultan Demak ia mencapai kejayaan, tetapi sebagai lambang dari tetap berlangsungnya kerajaan kesatuan Majapahit dalam bentuk baru, semua alat upacara dan pusaka dibawa ke Demak. Ia wafat di tahun 1518 dan digantikan oleh putranya berjulukan Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor bergelar Sultan Demak yang hanya 3 tahun memerintah alasannya meninggal.


Lalu beliau digantikan saudaranya yakni pangeran Trenggono bergelar Sultan Demak yang memerintah sampai tahun 1548. Dalam memerintah Trenggono mampu memperluas kerajaan hingga di daerah Pase Sumatra Utara yang dikuasai Portugis, dimana seorang ulama dari Pase bernama Fatahillah menyeberang ke Demak dan dikawinkan dengan adik raja. Karena Fatahillah, maka Demak sukses merebut daerah tempat perdagangan kerajaan Pajajaran di Jawa Barat yang belum Islam, ialah Cirebon dan Banten (risikonya diserahkan Fatahillah oleh Demak).


Di tahun 1522 orang Portugis tiba ke Sunda Kalapa (Jakarta sekarang) melakukan pekerjaan sama dengan raja Pajajaran menghadapi Islam, dimana Portugis diijinkan mendirikan benteng di Sunda Kalapa itu. Lalu di tahun 1527 orang Portugis tiba kembali dimana Sunda Kalapa sudah berubah nama menjadi Jayakarta, dibawah kekuasaan Fatahillah yang tinggal di Banten, sehingga Portugis kalah perang dan meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Trenggono sendiri walau sukses menaklukkan Mataram dan Singhasari, tapi kawasan Pasuruan serta Panarukan mampu bertahan dan Blambangan tetap menjadi bab dari Bali yang tetap Hindu, yang mana di tahun 1548 dia wafat balasan perang dengan Pasuruan.




Ciri-Ciri Aksara Jawa


Aksara Jawa adalah metode goresan pena Abugida yang ditulis dari kiri ke kanan. Setiap karakter di dalamnya melambangkan suatu suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/, yang mampu diputuskan dari posisi karakter di dalam kata tersebut.


Penulisan aksara Jawa dikerjakan tanpa spasi (scriptio continua)[3], dan karena itu pembaca mesti paham dengan teks bacaan untuk dapat membedakan tiap kata. Selain itu, dibanding dengan alfabet Latin, abjad Jawa juga kekurangan tanda baca dasar, seperi titik dua, tanda kutip, tanda tanya, tanda seru, dan tanda hubung.


Aksara Jawa dibagi menjadi beberapa macam menurut fungsinya. Aksara dasar terdiri dari 20 suku kata yang dipakai untuk menulis bahasa Jawa terbaru, sementara jenis lain meliputi huruf bunyi, tanda baca[4], dan angka Jawa[2]. Setiap suku kata dalam huruf Jawa mempunyai dua bentuk, yang disebut nglegena (abjad telanjang), dan pasangan (ini ialah bentuk subskrip yang dipakai untuk menulis gugus konsonan).


Kebanyakan karakter selain huruf dasar ialah konsonan teraspirasi atau retrofleks yang digunakan dalam bahasa Jawa Kuno sebab dipengaruhi bahasa Sanskerta. Selama pertumbuhan bahasa dan abjad Jawa, abjad-huruf ini kehilangan representasi suara aslinya dan berganti fungsi.


baca juga : Aksara Jawa


Sejumlah tanda diakritik yang disebut sandhangan berfungsi untuk mengganti vokal (layaknya harakat pada aksara Arab), menambahkan konsonan akhir, dan menunjukan ejaan ajaib[3]. Beberapa tanda diakritik mampu dipakai bersama-sama, namun tidak semua variasi diperbolehkan.


Aksara-jawa-dan-pasangan


Aksara-jawa-dan-pasangan




Demikianlah postingan dari dosenmipa.com mengenai Aksara Jawa dan Pasangan : Sandangan, Contoh Tulisan, Murda, Contoh, Kuno, Ibu, Kalimat, Cakra – agar postingan ini bermanfaat bagi anda semuanya.



Sumber yu.com


EmoticonEmoticon