Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juli 2020

Kasus Pembunuhan Axeman yang Tak Terungkap

Ilustrasi/pratidintime.com
Kisah-kisah pembunuhan berantai mungkin menyenangkan untuk dibaca sebagai kisah fiksi, tapi benar-benar mengerikan ketika terjadi di dunia nyata. Khususnya bagi orang-orang yang mengalaminya. Hal itulah yang dialami penduduk New Orleans dan sekitarnya pada 1918 hingga 1919. Selama 15 bulan, mereka dibuat ketakutan gara-gara munculnya seorang pembunuh berantai, yang dijuluki The Axeman.

The Axeman kerap mendatangi korbannya pada malam hari, ketika korban sedang tidur. Sepanjang peristiwa pembunuhan berantai itu, dia diduga telah melakukan 12 kali penyerangan dan 6 kali pembunuhan.

Yang mungkin unik, The Axeman tidak menggunakan senjatanya sendiri dalam menyerang dan membunuh korban-korbannya, tapi memakai kapak yang ada di rumah korban, kemudian meninggalkan kapak itu begitu saja, setelah ia membunuh korbannya. Kapak yang berlumuran darah itulah yang belakangan selalu muncul setiap kali The Axeman melakukan aksinya.

Berdasarkan sejarah, pembunuhan pertama yang dilakukan oleh The Axeman terjadi pada 23 Mei 1918, dengan korban sepasang suami istri bernama Catherine dan Joseph Maggio. Mereka tinggal di Magnolia Street, New Orleans. Keduanya tewas diserang menggunakan kapak, dan leher mereka tampak seperti disayat pisau tajam.

Kepala Catherine hampir semuanya terpenggal, sedangkan kepala Joseph masih utuh di tempatnya, meski tubuhnya mengalami banyak luka parah. Mayat keduanya ditemukan oleh saudara laki-laki Joseph, yang tinggal di rumah yang sama. Saat pembunuhan terjadi, saudara laki-laki Joseph sama sekali tidak mendengar atau melihat sesuatu yang mencurigakan. 

Pemeriksaan yang dilakukan mendapati tidak ada satu pun barang berharga yang hilang. Pemeriksaan itu juga menemukan beberapa sidik jari, namun tidak cukup untuk dijadikan sebagai bukti. 

Lalu dari mana The Axeman, sang pembunuh, masuk? Polisi mendapati panel pintu dapur bagian bawah rusak, dan di sana ditemukan sebuah kapak. Tampaknya, The Axeman masuk ke rumah dengan cara merusak bawah pintu dapur, sekaligus menemukan kapak di sana.

Satu bulan kemudian, pada 28 Juni 1918, pembunuhan kembali terjadi, kali ini menimpa Louis Besumer dan Anna Lowe. Keduanya tinggal di daerah LeHarpe Street, dan tubuh mereka yang tergeletak bersimbah darah ditemukan oleh seorang tukang roti bernama John Zanka, yang sedang mengirim roti untuk mereka.

Saat ditemukan, Louis Besumer dan Anna Lowe belum mati, meski kondisi mereka sangat mengenaskan. Belakangan, Louis Besumer mampu bertahan dan melewati masa-masa kritis, sementara Anna Lowe hanya mampu bertahan selama 7 minggu, sebelum akhirnya meninggal. Ia sempat mengatakan pada polisi bahwa seorang laki-laki berkulit putih membawa kapak telah menyerang mereka.

Sama seperti peristiwa yang terjadi di rumah suami istri Maggio, panel pintu dapur bagian bawah rusak, dan di sana juga ditemukan sebuah kapak berlumuran darah.

Kemudian, pada 5 Agustus 1918, Ed Schneider baru sampai di rumah ketika mendapati tubuh istrinya tergeletak berlumuran darah. Ed Schneider segera melarikan istrinya ke rumah sakit, dan si istri berhasil selamat setelah melewati masa-masa kritis. Belakangan, setelah penyelidikan dilakukan atas kasus itu, polisi mendapati kapak milik Ed Schneider hilang dari gudang.

Lima hari setelah itu, pada 10 Agustus 1918, Joseph Romano yang berumur 80 tahun ditemukan tewas. Ia tinggal di kawasan Gravier Street, dan dua keponakannya menemukan tubuh Joseph Romano, setelah mendengar pria itu seperti sedang bergulat dengan seseorang.

Kedua keponakan Joseph Romano juga sempat melihat orang yang memukul paman mereka. Mereka mengatakan, orang itu berperawakan tinggi, berpakaian serba gelap, dan memakai topi. Joseph Romano meninggal dua hari kemudian.

Tujuh bulan sejak peristiwa itu, pada 10 Maret 1919, seseorang mendatangi rumah pasangan Rose dan Charles Cortimiglia, dan menyerang pasangan itu beserta putri mereka. Charles sempat melawan, walaupun akhirnya terluka, namun dia dan istrinya berhasil selamat dari peristiwa tersebut. Sementara anak mereka, bernama Mary, akhirnya tewas. Mereka bertiga diserang menggunakan kapak yang merupakan milik mereka sendiri.

Lima hari kemudian, muncul sesuatu yang tak terduga. Di New Orleans, ada sebuah penerbit koran bernama The Times Picayune. Mereka menerima surat yang diakui dikirim oleh The Axeman. Dalam surat itu, The Axeman mengancam pihak kepolisian agar “tidak usah mencampuri urusannya”, dan mengingatkan semua orang bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang lebih buruk.

Yang paling mencengangkan adalah ancamannya terhadap seluruh penduduk New Orleans. Pada malam tanggal 19 Maret 1919, semua penduduk harus memainkan musik jazz di rumah masing-masing. Jika ada satu rumah saja yang tidak memperdengarkan suara musik jazz, The Axeman akan mendatangi klub malam yang memainkan musik jazz, dan akan membunuh siapa pun yang ada di sana.

Lalu peristiwa paling aneh dalam sejarah New Orleans pun terjadi. Tepat pada malam 19 Maret 1919, semua rumah penduduk di sana memperdengarkan musik jazz dengan sarana apa pun yang mereka miliki. Malam itu berlalu dengan ketegangan, namun The Axeman tampaknya menepati janji. Tidak ada pembunuhan di malam itu.

Tetapi bukan berarti The Axeman sudah berhenti beraksi. Pada 10 Agustus 1919, Steve Boca terluka parah di rumahnya. Dia sedang tertidur lelap, ketika menyadari tubuhnya kesakitan. Saat mulai tersadar dari tidur, dia mendapati seseorang di dalam kamarnya, sedang memegang kapak.

Steve Boca berhasil melarikan diri dari serangan itu, dan berlari menuju ke rumah tetangga. Setelah itu dia masih sempat menelepon polisi, yang segera datang ke rumahnya. Namun, Steve Boca tidak bisa menceritakan banyak hal, karena ia dalam keadaan baru sadar dari tidur, dan panik ketika peristiwa itu terjadi.

Kemudian, di awal September 1919, Sarah Laumann yang berumur 19 tahun diserang oleh seseorang yang memasuki rumahnya lewat jendela yang terbuka. Dia berhasil selamat dari penyerangan, meski menjalani masa-masa kritis di rumah sakit. Namun, ketika akhirnya sadar, dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi.

Satu bulan setelah itu, pada 27 Oktober 1919, di sudut Ulloa Street, The Axeman kembali beraksi, dan kali ini korbannya adalah pasangan Esther dan Mike Pepitone. Sekitar pukul 01.00 pagi, Esther terbangun karena mendengar teriakan suami di sampingnya. 

Dalam keadaan belum sadar benar, dan di kamar yang relatif gelap, Esther sempat melihat dua bayangan orang berada di kamarnya, tapi tidak bisa mengetahui dengan jelas, karena mereka segera kabur. Sementara suami Esther, Mike Pepitone, akhirnya meninggal dua jam kemudian di rumah sakit.

Kasus penyerangan yang menimpa Mike Pepitone menarik perhatian polisi, karena tidak adanya kapak yang ditemukan sebagaimana pada korban-korban The Axeman sebelumnya. Yang mereka temukan di lokasi kejadian justru paku besar yang biasa digunakan sebagai pengaman tenda sirkus. 

Paku besi berukuran besar itulah yang diduga digunakan sebagai senjata untuk menyerang Mike Pepitone. Kebetulan, dua blok dari rumah Pepitone terdapat sebuah sirkus yang sedang berlangsung pada malam itu.

Gara-gara pembunuhan terhadap Mike Pepitone, spekulasi berkembang. Sebagian orang mulai curiga, bahwa tidak semua penyerangan yang terjadi dilakukan oleh The Axeman. Beberapa orang di sana berspekulasi bahwa dugaan penyerangan terakhir, yang dilakukan terhadap Mike Pepitone, sebenarnya dilakukan oleh mafia. Pasalnya, ayah Mike pernah membunuh seseorang di masa lalu.

Serangan The Axeman lain yang diteliti secara cermat adalah penyerangan kedua terhadap Louis Besumer dan Anna Lowe. Saat penyerangan terjadi, Anna tewas, sedangkan Louis hanya mengalami luka parah. Setelah itu, Louis dihukum atas kematian Anna, dengan tuduhan yang dianggap aneh.

Waktu itu, polisi menemukan bahwa Louis mampu menulis dalam bahasa Yahudi dan Rusia. Karena latar belakang tertentu, mereka menyimpulkan bahwa Louis adalah mata-mata Jerman atau mata-mata untuk Rusia. Dan penyerangan yang dia serta Anna alami tidak ada hubungannya dengan The Axeman.

Sebelum meninggal, Anna sempat mengatakan bahwa Louis adalah seorang “mata-mata Nazi”. Waktu itu juga muncul spekulasi bahwa Anna dan Louis berselisih, hingga Louis menyerang Anna. Meskipun begitu, akhirnya Louis dibebaskan. 

Sementara sebagian orang lain tetap berkeyakinan bahwa penyerangan terhadap Louis dan Anna dilakukan oleh The Axeman. Karena saat penyerangan itu terjadi, mereka berdua sedang tidur.

Penyelidikan yang dikembangkan polisi belakangan mengarah pada seorang tersangka, bernama Joseph Mumfre. Siapakah dia? Untuk mengetahui siapa Joseph Mumfre, kita harus kembali melihat peristiwa yang terjadi pada pasangan Esther dan Mike Pepitone.

Ketika pasangan Esther dan Mike Pepitone diserang oleh seseorang, Esther berhasil selamat, sementara suaminya tewas. Setelah itu, Esther pindah ke Los Angeles, dan menikah dengan seorang laki-laki bernama Angelo Albano.

Dua tahun kemudian, Angelo Albano menghilang dan tidak pernah ditemukan. Esther sempat mengingat bahwa sebelum dia dan Angelo menikah, Angelo pernah mengakhiri hubungan bisnis dengan seseorang yang mempunyai banyak nama, salah satunya adalah Joseph Mumfre.

Pada 5 Desember 1921, Joseph Mumfre pernah mengunjungi rumah Esther dan Angelo di Los Angeles. Mumfre meminta uang sebesar $500, dan semua perhiasan milik Esther. Mumfre juga sempat mengancam bahwa dia akan membunuh Esther, sama seperti dia membunuh suaminya terdahulu, Mike Pepitone.

Waktu itu, karena terkejut dan geram, Esther sempat meraih revolver milik Angelo, dan menembakkannya pada Joseph Mumfre. Pria itu tewas, dan Esther ditangkap karena membunuh Mumfre. 

Esther menyatakan bahwa Mumfre adalah The Axeman, sosok yang telah membunuh suaminya terdahulu, Mike. Namun pihak kepolisian tidak menemukan bukti hubungan antara Mumfre dengan kematian Mike. Belakangan, Esther dibebaskan atas pembunuhan yang dia lakukan terhadap Mumfre.

Sebenarnya, ada beberapa hal yang bisa menjadi bukti bahwa Mumfre adalah The Axeman yang sebenarnya, meski mungkin sulit dibuktikan. Mumfre menjadi pemimpin sebuah kelompok pemerasan di New Orleans, yang korbannya adalah orang-orang Italia. 

Mumfre juga keluar masuk penjara dalam waktu 10 tahun terakhir. Dan secara kebetulan, waktu Mumfre keluar penjara, bersamaan dengan munculnya penyerangan yang dilakukan oleh The Axeman.

Namun, meski begitu, tetap tidak ada bukti yang secara langsung menghubungkan Mumfre dengan penyerangan yang sudah beberapa kali terjadi. Saksi mata yang melihat bisa saja salah. Selain itu, hanya bukti tidak langsung yang membuat orang-orang percaya bahwa Mumfre adalah pelakunya. 

Esther Pepitone juga dulu mengatakan bahwa dia sempat melihat dua bayangan orang di malam ketika suaminya, Mike Pepitone, dibunuh. Jadi, Esther mungkin berbohong, atau mungkin The Axeman adalah dua orang yang berbeda. Yang jelas, sampai kini, penduduk New Orleans masih tidak tahu siapa pembunuh berantai yang pernah meneror kota mereka.


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/

Rabu, 22 Juli 2020

Kasus Wanita Misterius yang Menjadi Saksi Pembunuhan

Ilustrasi/mentalfloss.com
John F. Kennedy adalah salah satu Presiden Amerika yang tewas terbunuh, ketika sedang dalam iring-iringan pawai di Dallas, AS. Kasus pembunuhan itu dikenal misterius, karena di dalamnya terdapat banyak hal misterius. Orang yang menembak Kennedy tidak pernah jelas alasannya melakukan pembunuhan itu, sementara ia lalu dibunuh orang lain, dan si orang lain ini belakangan juga mati.

Kemudian, di saat peristiwa penembakan John F. Kennedy terjadi, ada sosok wanita misterius, yang belakangan menjadi salah satu sosok paling membingungkan di dunia. Wanita misterius itu dikenal dengan nama Babushka Lady.

Peristiwa penembakan itu terjadi pada 22 November 1963, saat John F. Kennedy berada di area Dealey Plaza, Dallas, di tempat terbuka, disaksikan banyak orang, layaknya pawai di mana pun. 

Penembakan itu mengakibatkan Kennedy tewas. Polisi menangkap Lee Harvey Oswald sebagai satu-satunya tersangka. Namun, sebelum sempat menjelaskan motivasinya membunuh Kennedy, Lee Harvey Oswald ditembak mati oleh Jack Ruby. Alasan Jack Ruby menembak Oswald karena “dendam akibat Oswald membunuh Kennedy”. Setelah itu, Jack Ruby mati saat di penjara.

Kasus itu pun buntu.

Ketika foto-foto yang merekam peristiwa pembunuhan Kennedy mulai dikumpulkan dan dipelajari, pihak FBI menemukan adanya sosok wanita misterius berada di dekat lokasi Kennedy tertembak, dan wanita itu juga tampak memegangi kamera. 

FBI pun berharap wanita itu bersedia muncul untuk menyerahkan foto-foto yang dibuatnya, karena bisa jadi foto-foto yang ia buat dapat menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi. Wanita itulah yang disebut Babushka Lady. Dan dia tak pernah muncul.

Tidak ada yang tahu siapa wanita misterius itu. Ia dijuluki Babushka Lady, karena terlihat memakai syal penutup kepala, yang serupa dengan yang biasa digunakan para manula di Rusia. Kata ‘babushka’ berarti ‘nenek’ atau ’perempuan tua’ dalam bahasa Rusia.

Seiring dengan kegemparan publik Amerika karena presiden mereka tewas tertembak, polisi dan FBI bekerja keras untuk mengungkap kasus itu. Dalam upaya tersebut, mereka meminta masyarakat menyerahkan semua rekaman dan foto yang diambil di lokasi peristiwa, untuk mencari petunjuk lebih lanjut. 

Salah satu rekaman terbaik mengenai peristiwa itu didapat dari seorang warga bernama Abraham Zapruder. Rekaman Zapruder inilah yang kemudian menunjukkan adanya seorang wanita misterius yang dijuluki Babushka Lady.

Di dalam film yang dibuat Abraham Zapruder tersebut, Babushka Lady terlihat berdiri di atas rumput, di antara Elm Street dan Main Street, sambil memegang kamera. Ia juga sempat terekam dalam beberapa film dan foto lainnya, yang diambil di Dealey Plaza, tanggal 22 November 1963.

Beberapa saat setelah penembakan Kennedy, wanita misterius itu terlihat bergabung dengan kerumunan massa, dan naik ke Grassy Knoll (bukit kecil berumput) di dekat lokasi tersebut. Ia terlihat terakhir kali saat berjalan ke arah timur Elm Street. Sejak itu, wanita misterius tersebut—beserta foto-foto yang mungkin dibuatnya—tidak pernah muncul ke publik.

Polisi dan FBI menyimpulkan, wanita itu mungkin bisa menjadi saksi kunci, dan foto-foto yang dibuatnya mungkin bisa memberikan informasi tambahan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Dealey Plaza, saat penembakan itu terjadi.

Dalam upaya melacak wanita itu dan foto-fotonya, FBI mendatangi seluruh toko cuci cetak foto di Dallas dan sekitarnya, dan menanyakan apakah ada wanita yang telah meminta foto-foto pembunuhan Kennedy dicuci cetak, yang diambil dari sudut pengambilan Babushka Lady.

Dari penyelidikan itu, sebuah petunjuk muncul dari seorang teknisi Kodak, bernama Jack Harrison. Ia mengatakan bahwa pada 22 November 1963, seorang wanita berambut merah berumur 30-an meminta dia untuk memproses foto-foto yang mirip dengan angle pengambilan gambar Babushka Lady. Namun, foto-foto itu ternyata kabur dan tidak jelas. Tidak diketahui dengan pasti apakah wanita tersebut adalah Babushka Lady.

Identitas wanita misterius ini, dan keengganannya muncul ke publik, kemudian memicu banyak teori mengenai pembunuhan Kennedy. Sebagian orang mengatakan bahwa wanita itu adalah pembunuh Kennedy yang sebenarnya. Benda yang terlihat seperti kamera itu mungkin senjata rumit yang telah digunakan untuk menembak. Namun teori ini terpatahkan dengan kenyataan peluru yang membunuh Kennedy ditembakkan dari atas.

Beberapa orang lainnya mengatakan, wanita misterius itu mungkin telah tersangkut kasus lain, sehingga tidak mau memunculkan diri ke publik, karena bisa membuat kasusnya kembali terungkap.

Lalu, pada 1970, sebuah petunjuk baru muncul ke permukaan, ketika J. Gary Shaw bertemu seorang perempuan muda bernama Beverly Oliver. Gary Shaw adalah peneliti kasus-kasus pembunuhan ternama di Amerika. Ia bertemu Beverly Oliver setelah selesai mengikuti kebaktian di sebuah gereja kecil di Joshua, Texas, pada November 1970. Oliver mengaku kepada Gary, bahwa dirinya adalah Babushka Lady yang sebenarnya.

Beverly Oliver lahir pada 1946, bekerja sebagai penari dan penyanyi di Colony Club yang terletak di sebelah Carousel Club, yang dimiliki oleh Jack Ruby. Jack Ruby adalah pria yang membunuh Lee Harvey Oswald, tersangka utama pembunuh Kennedy pada 24 November 1963, hanya dua hari setelah Kennedy terbunuh. 

Jack Ruby mengaku membunuh Oswald karena ingin membalas dendam atas kematian Kennedy. Jack Ruby kemudian meninggal di penjara pada 1967, karena kanker paru-paru.

Oliver bercerita kepada Gary Shaw. Pada waktu kejadian penembakan Kennedy, ia sedang berdiri di selatan Elm Street. Dalam posisi itu, bisa dibilang ia salah satu saksi yang berada paling dekat dengan Kennedy.

Setelah mendapat pengakuan Oliver, Gary Shaw pun menerbitkan beberapa artikel terkait pertemuannya tersebut. Namun banyak pihak yang menuduh Oliver hanya mencari sensasi, dan semua yang ia katakan hanyalah kebohongan, meski ada pula sebagian peneliti yang percaya bahwa Beverly Oliver benar-benar Babushka Lady.

Jadi, apakah wanita itu benar-benar Babushka Lady yang misterius?

Untuk memahami cara pandang yang pro dan kontra dengan pengakuannya, berikut ini beberapa argumen yang melatarbelakangi pendapat masing-masing pihak.

Argumen kontra

Argumen-argumen yang menolak klaim Beverly Oliver:

Oliver mengaku merekam pawai yang lewat, menggunakan kamera Super-8 Yashica yang diberikan oleh kekasihnya, Larry Ronco. Namun, kamera jenis ini ternyata belum dijual pada tahun 1963, dan baru tersedia untuk dijual ke publik pada 1967.

Oliver mengatakan hasil rekamannya disita oleh seorang agen FBI, pada 25 November 1963. Oliver kemudian mengidentifikasi kalau agen FBI tersebut adalah Regis Kennedy (meski nama belakangnya sama, dia tidak punya hubungan dengan presiden Kennedy). Namun, tuduhan ini dibantah, karena pada tanggal itu Regis sedang berada di New Orleans, mewawancarai Jack Martin, seorang penyelidik swasta yang mengaku punya informasi mengenai pembunuhan Kennedy.

Kemudian, tidak ada satu saksi pun yang dapat mengonfirmasi keberadaan Oliver di Dealey Plaza saat kejadian penembakan tersebut.

Oliver mengatakan bahwa ia melihat kepala Kennedy terlihat seperti meledak, dan darah berhamburan di belakang mobil Limo yang ditumpanginya. Kesaksian ini tidak sesuai dengan deskripsi saksi dan rekaman-rekaman lainnya.

Oliver mengatakan, dua minggu sebelum pembunuhan, di Carousel Club, Jack Ruby memperkenalkan seseorang kepadanya, dan menyebut orang itu sebagai “Lee Oswald dari CIA”. Perkenalan itu, disebutnya, disaksikan oleh seorang penari bernama Jada, yang ternyata membantah klaim ini. Jada juga mengaku tidak pernah melihat Oswald. 

Warren Commission, yang dibentuk oleh pemerintah Amerika untuk menyelidiki kasus kematian Kennedy, juga menyimpulkan kalau Oswald dan Ruby tidak saling mengenal.

Oliver mengaku berbicara dengan Jada pada malam sebelum pembunuhan terjadi. Namun, Jada mengaku sudah tidak bekerja di Carousel sejak 31 Oktober, dan tidak berada di sana pada 21 November.

Oliver mengaku, pada malam sebelum pembunuhan, ia makan malam dengan Jack Ruby, yang memberinya baju bermotif polkadot. Namun teman-teman Jack, yang juga makan bersama Jack malam itu, mengatakan tidak melihat keberadaan Oliver bersama mereka.

Argumen pro

Argumen-argumen yang mempercayai klaim Beverly Oliver:

Babushka Lady yang terekam dalam film Zapruder (dan juga film-film lainnya) memiliki kemiripan dengan Oliver, seperti tinggi badan, berat, dan umur. Dalam rekaman itu juga terlihat kalau Babushka Lady berdiri dengan posisi yang sedikit canggung. Oliver memang memiliki sedikit cacat pada kaki kiri.

Dalam sebuah dokumen yang tersimpan dalam arsip nasional mengenai John F. Kennedy, terdapat sebuah kalimat akhir yang cukup menarik. Bunyinya, “Apakah Undang-undang kebebasan informasi dapat membuat film Babushka Lady muncul dari arsip FBI ke permukaan?” Kalimat ini mengindikasikan klaim Oliver bahwa rekamannya disita oleh agen FBI benar adanya.

Beverly Oliver tidak pernah berusaha mengambil keuntungan dari pengakuannya. Kisahnya baru dibukukan oleh penulis Coke Buchanan pada 1994, atau 31 tahun setelah peristiwa tragis itu. Jika ia memang bermaksud mendapatkan keuntungan dari pengakuan itu, mengapa harus menunggu selama 31 tahun?

Tidak ada orang lain selain Oliver yang muncul dan mengaku sebagai Babushka Lady. Tentu aneh kalau Oliver mengarang kisah bohong. Apakah ia tidak khawatir Babushka Lady yang asli muncul ke publik, jika ia membuat pengakuan palsu?

Memang, disebutkan bahwa tidak ada saksi yang bisa meneguhkan Oliver ada di Dealey Plaza saat terjadi pembunuhan. Tapi juga tidak ada saksi yang bisa mengatakan kalau Oliver ada di tempat lain saat peristiwa itu terjadi.

Ketika Gary Shaw pertama kali bertemu Oliver pada 1970, Gary tidak percaya begitu saja dengan pengakuannya. Ia meminta Oliver menunjukkan lokasi berdirinya ketika peristiwa penembakan terjadi. Oliver dengan tepat bisa menunjukkannya. 

Padahal, rekaman Zapruder belum tersebar luas saat itu. Lagi pula, reputasi Gary sebagai peneliti ternama tentu tidak akan menerima begitu saja klaim dari seorang wanita yang belum ia kenal. Jika Oliver berbohong, Gary tentu tidak akan serius menanggapinya.

Sampai saat ini, FBI belum pernah menyangkal kisah Beverly Oliver (walaupun juga tidak membenarkannya), dan mereka juga tidak pernah menyangkal klaim Oliver bahwa FBI menyita hasil rekaman filmnya (walaupun mereka juga tidak membenarkannya).

Masing-masing pandangan yang pro dan kontra itu menarik, karena bisa jadi Beverly Oliver memang jujur dalam menceritakan kisahnya, meski bisa jadi pula ia berbohong terkait pengakuannya. Dalam hal itu, kita mungkin tidak bisa yakin seratus persen apakah dia benar berbohong atau memang mengatakan yang sejujurnya.

Pasalnya, dalam kesaksian yang belakangan ia berikan, juga muncul berbagai pro kontra yang menjadikan orang sulit percaya atau tidak percaya. Misalnya, dalam kesaksian di hadapan komite (sejenis pansus) Amerika pada 12 Maret 1977, Oliver mengatakan bahwa yang dibawanya adalah kamera video, bukan kamera foto. 

Ia juga mengatakan tidak pernah menyebut kamera super-8, melainkan kamera 8 milimeter. Namun, dalam buku yang ditulisnya, Gary Shaw mengatakan Oliver menyebut Super-8. Siapa yang benar, dan siapa yang salah?

Sebagian orang membayangkan bahwa Beverly Oliver terjebak dalam sebuah konspirasi terkait peristiwa pembunuhan Kennedy. Spekulasi itu juga tidak pernah jelas kebenarannya.

Yang jelas, di tahun-tahun berikutnya, Beverly Oliver melakukan upaya hukum untuk memperoleh rekaman film yang dipercayainya berada di tangan FBI. Ia mengaku melakukannya untuk membuktikan bahwa dirinya bukan pembohong. Hingga saat ini, ia masih belum mendapatkannya.

“Ada dua hal dalam kehidupanku yang ingin kuubah, kalau saja bisa,” kata Beverly Oliver. “Pertama, andai aku tidak berada di Grassy Knoll pada 22 November 1963. Dan yang kedua, andai aku tidak pernah membuka mulut." 

Hmm... ada yang mau menambahkan?


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/

Sabtu, 18 Juli 2020

Kasus Kematian Seorang Gadis di Hotel Misterius

Ilustrasi/popbee.com
Kasus kematian Elisa Lam bisa jadi terdengar seperti kisah novel misteri yang membingungkan. Jalan cerita serta lokasi peristiwanya benar-benar mendukung suasana misteri yang kerap ada dalam novel. Sayangnya, kisah ini benar-benar terjadi di dunia nyata, dan tidak ada detektif genius semacam Sherlock Holmes yang bisa mengungkap misteri di baliknya.

Pada waktu peristiwa ini terjadi, Elisa Lam adalah gadis berusia 21 tahun yang tinggal di California, masih tercatat sebagai seorang mahasiswi, dan aktif menulis di blog pribadi. Pendeknya, dia tampak seperti gadis biasa pada umumnya. Pada 26 Januari 2013, di masa liburan, Elisa Lam datang ke Hotel Cecil sebagai turis, dan menginap di hotel tersebut.

Hotel Cecil adalah hotel tua yang ada di Los Angeles, California. Seperti umumnya hotel lain, Hotel Cecil menerima tamu yang datang dan pergi setiap hari, dan mereka tidak punya kesan apa-apa pada Elisa Lam yang datang dan menginap di sana. Namun, pada 1 Februari 2013, beberapa hari setelah gadis itu terdaftar sebagai tamu hotel, ia dinyatakan hilang.

Karena curiga atas kehilangan salah satu tamunya, pihak hotel pun menghubungi polisi. Kepolisian setempat datang, dan mereka memeriksa CCTV hotel untuk melihat aktivitas yang mungkin mencurigakan, khususnya terkait Elisa Lam yang kini menghilang.

Rekaman CCTV memperlihatkan Elisa Lam sempat masuk lift hotel, sehari sebelum menghilang. Tapi ada yang sangat aneh dalam rekaman CCTV itu. Mula-mula, Elisa Lam tampak biasa ketika masuk lift. Ia juga menekan tombol lift secara normal, seperti umumnya orang lain yang menggunakan lift. Namun, karena pintu lift tidak juga menutup, ia tampak keluar dan menengok kanan kiri, seperti mengecek sesuatu. 

Setelah itu, Elisa kembali masuk lift, namun kali ini ia menekan tombol lift seperti orang panik—ia tekan semua tombol yang ada di sana. Setelah pintu lift menutup, Elisa tampak berdiri di pojok lift, dengan ekspresi seperti orang ketakutan. Tak lama kemudian, setelah pintu lift terbuka, Elisa tampak keluar dari lift dengan terburu-buru, lalu berlari seperti menghindari sesuatu.

Itulah saat terakhir Elisa Lam terlihat di Hotel Cecil, karena setelah itu ia lenyap—tidak ada satu orang pun tahu di mana keberadaannya.

Sembilan belas hari kemudian, para tamu di Hotel Cecil mengeluhkan air keran di kamar mereka yang tampak kotor, berwarna kehitaman, dan berbau busuk. Mereka mengajukan komplain ke pihak hotel, dan petugas hotel pun mengecek tangki air yang ada di atap Hotel Cecil. Tangki air itu menyuplai semua kebutuhan air di hotel, dan terletak di ruangan yang terkunci.

Ketika petugas hotel mengecek tangki air itu, mereka sangat terkejut, karena mendapati tubuh Elisa Lam meringkuk di dalamnya, sudah menjadi mayat. Peristiwa itu terjadi pada 19 Februari 2013, pukul 10.00 pagi waktu setempat. Jadi, selama 19 hari, para tamu hotel mandi, gosok gigi, dan lain-lain, menggunakan air yang terkontaminasi mayat manusia.

Penemuan mayat Elisa Lam di tangki air hotel itu pun seketika menggegerkan Los Angeles, dan Hotel Cecil mendapat sorotan luas. Kepolisian, yang mempelajari kasus itu, belakangan menyimpulkan Elisa Lam tewas karena terpeleset, akibat halusinasi karena mengonsumsi narkoba.

Penjelasan atau kesimpulan itu mungkin terdengar masuk akal. Rekaman CCTV, yang memperlihatkan tingkah laku aneh Elisa Lam, bisa jadi memang efek halusinasi akibat memakai narkoba. Karena ketidaksadaran pula, bisa jadi Elisa Lam mendatangi atap hotel, lalu terpeleset hingga masuk ke dalam tangki, dan tak sempat menyelamatkan diri hingga tewas di sana.

Tapi kesimpulan itu kemudian menjadi mentah, ketika otopsi tidak menemukan bekas penggunakan narkoba atau zat semacamnya pada tubuh Elisa Lam. Kemudian, ruangan tangki air di atas hotel sangat sulit dimasuki, karena tertutup dan tersegel gembok, serta hanya dapat diakses menggunakan tangga darurat. Bagaimana cara Elisa Lam bisa masuk ke sana?

Misteri kematian Elisa Lam bisa dibilang tak pernah terpecahkan. Sempat ada spekulasi pembunuhan, tapi polisi tak pernah mampu menemukan siapa pembunuhnya, atau motif pembunuhannya. Karena ketidakjelasan itu pula, berbagai spekulasi lain pun merebak, dan menyeret masa lalu Hotel Cecil yang ternyata memiliki sejarah mengerikan.

Hotel Cecil adalah hotel tua yang dibangun pada 1920. Jauh bertahun-tahun lalu, hotel itu pernah menjadi tempat pembunuhan berantai, yang terkenal dengan sebutan Nightstalker. Pelaku pembunuhan berantai di hotel itu adalah Richard Ramirez, seorang tamu hotel, yang membunuh 14 orang tamu lainnya. 

Beberapa tahun kemudian, kasus serupa terulang, kali ini dilakukan seorang pria bernama Jack Unterweger, yang melakukan pembunuhan pada para PSK yang datang ke hotel.

Dua kasus itu sudah mengerikan, tapi peristiwa mengerikan lain kemudian terjadi. Pada 1962, seorang tamu hotel bernama Pauline Otten, melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari jendela hotel.

Latar belakang itu menjadikan banyak orang di sekitar Hotel Cecil menghubung-hubungkan kematian Elisa Lam dengan hal-hal gaib. Bisa jadi, menurut mereka, Elisa Lam meninggal karena menyaksikan hantu-hantu di hotel, atau bisa jadi pula ia menjadi korban pembunuhan oleh arwah penasaran.

Yang lebih membingungkan lagi, enam bulan setelah kematian Elisa Lam, tiba-tiba ada seseorang—entah siapa—yang memperbarui blog pribadi gadis itu, dan sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Tampaknya, kasus kematian Elisa Lam masih akan menjadi salah satu misteri yang tak terpecahkan.

Hmm... ada yang mau menambahkan?


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/

Rabu, 15 Juli 2020

Kasus Penampakan UFO Paling Aneh Dalam Sejarah

Ilustrasi/pikiran-rakyat.com
Ada banyak laporan penampakan UFO, sama banyaknya laporan orang-orang yang mengaku bertemu alien. Tapi mungkin tidak ada yang lebih aneh dibanding yang dialami Joe Simonton.

Pada 18 April 1961, enam hari setelah Yury Gagarin menjadi orang pertama yang mengorbit Bumi, sebuah perjumpaan dengan UFO yang aneh berlangsung di Eagle River, Wisconsin.

Pada pukul 11.00 siang, Joe Simonton mendengar suara melengking dari depan rumahnya. Ia pun keluar ke teras, dan terkejut melihat sebuah benda bundar agak pipih, dengan warna keperakan, sedang turun secara vertikal di halaman rumahnya. Benda aneh itu berdiameter 30 kaki (9 meter), dengan tinggi sekitar 12 kaki (3,6 meter).

Joe Simonton tidak berpikir apa-apa. Ia tidak tahu apa itu UFO, dan ia pun mendekati objek itu tanpa takut. Sementara Joe Simonton mendekati objek tersebut, tiba-tiba muncul semacam pintu dari objek itu, dan sesosok wujud aneh keluar dari dalam. Belakangan, Joe Simonton mendeskripsikan sosok yang disaksikannya sebagai “mirip manusia”.

Sosok yang keluar dari pintu yang terbuka itu tampak memegang sebuah benda mirip kendi, dengan dua pegangan di kanan kiri. Benda itu berwarna keperakan, dan sosok “mirip manusia” itu menyerahkan benda tersebut pada Joe Simonton yang berdiri di hadapannya, sambil mengisyaratkan kalau dia perlu air.

Joe Simonton memahami isyarat itu. Maka dia pun menerima kendi tersebut, masuk kembali ke rumahnya, mengisi kendi dengan air hingga penuh, lalu kembali ke pesawat aneh di halaman rumahnya untuk menyerahkan kembali kendi tersebut. 

Ketika sampai di dekat pesawat yang pintunya masih terbuka, Simonton melihat di dalamnya ada tiga orang lagi. Dua dari mereka bahkan terlihat seperti sedang sibuk memasak, menggunakan alat masak yang tampak canggih, dan sama sekali tidak mengeluarkan api. Joe Simonton mengira sosok itu sedang memasak, karena di dekatnya ada semacam kue-kue yang baru matang.

Joe Simonton menyerahkan kendi yang telah ia isi air. Kemudian, didorong penasaran, ia memberi isyarat meminta salah satu kue yang baru matang, yang sedang dimasak di pesawat aneh itu. Salah satu sosok dalam pesawat memahami isyarat Joe Simonton. Ia tidak hanya memberikan satu kue, tapi empat. Simonton menerimanya.

Setelah itu, pesawat aneh tersebut kembali menutup pintu, lepas landas pada sudut sekitar 45 derajat, dan melesat pergi hanya dalam beberapa detik. Akibat lepas landas pesawat itu, pohon-pohon pinus di halaman rumah Joe Simonton mengalami bengkok pada bagian atasnya. Hal itu akibat turbulensi udara saat objek tersebut melesat pergi di atas pohon-pohon pinus.

Joe Simonton berdiri di halaman rumahnya dengan bingung, sementara di tangannya ada empat kue yang tertumpuk rapi. Kue-kue itu mirip panekuk, berwarna cokelat muda, dengan tebal hanya sekitar setengah centimeter, agak keras, dan berlubang-lubang kecil.

Joe Simonton mengaku sempat memakan salah satu kue yang diberikan kepadanya, dan mengatakan rasanya seperti karton.

Seluruh kejadian aneh yang barusan ia alami hanya berlangsung selama 5 menit, dan Simonton sempat mengamati beberapa hal secara detail pada bagian dalam objek terbang aneh yang tak dikenal itu. Belakangan, ketika polisi dan banyak orang lain berdatangan ke rumahnya untuk menyelidiki apa yang telah terjadi, Simonton bisa menjelaskan beberapa hal cukup detail.

Sosok-sosok aneh yang tadi dilihatnya memiliki rambut dan kulit gelap, dan mereka mengenakan pakaian biru tua dengan rajutan, yang pada bagian atas di sekitar lehernya ketat (model turtle-neck tops) yang juga dirajut. Mereka memakai helm yang mirip topi baja, atau seperti helm untuk mencegah kecelakaan kerja. Di wajah mereka tidak ada kumis atau jenggot, atau tercukur bersih.

“Semuanya terlihat berwarna gelap, termasuk panel instrumen di dalam pesawat, dan terlihat seperti besi tempa,” tutur Simonton. “Salah satu awak sepertinya sedang memasak sesuatu, lalu ada tumpukan mirip kue di samping alat yang mirip kompor. Seorang lainnya membawa air dengan wadah yang sebelumnya telah saya isi air, sementara satunya lagi berada di depan papan instrumen dalam pesawat. Tampaknya, kedua kru pesawat sedang memasak, sedangkan satunya tetap melihat ke instrumen tanpa menengok atau melihat ke arah saya.” 

Saat salah satu sosok dalam pesawat itu memberikan kue untuk Simonton, sosok itu tidak mengatakan apa-apa, sama seperti sosok yang menyerahkan kendi kepadanya untuk diisi air. Semua dari mereka tidak ada yang berbicara, hanya menggunakan isyarat-isyarat yang entah bagaimana bisa saling dipahami.

Setelah itu, pintu pesawat menutup, dan objek bulat berwarna keperakan itu akhirnya lepas landas, naik sekitar 20 meter dari tanah, dan melesat lurus ke arah selatan.

“Objek itu tampak seperti dua buah mangkuk yang masing-masing bagian atasnya direkatkan menjadi satu, muka dengan muka,” terang Simonton.

Saat diminta menggambarkan suara yang didengar sebelum ia keluar dari rumahnya, Joe Simonton menggambarkannya sebagai “mirip suara pijakan karet ban pada trotoar”. Namun, saat ia keluar rumah, pesawat aneh itu ternyata melayang pada jarak yang sangat pendek (hanya beberapa inci) dari tanah. Bahkan selama seluruh peristiwa berlangsung, pesawat itu masih terus mengambang, tidak memijak ke tanah.

Simonton memperkirakan, lubang palka berbentuk persegi yang mirip pintu pada pesawat itu lebarnya sekitar 4 kaki atau 1,2 meter, dan tingginya sekitar 6 kaki atau 1,82 meter. Di sekeliling bagian tengah benda terbang tak dikenal itu juga terdapat benda mirip pipa-pipa silinder yang sedikit menonjol keluar, yang masing-masing berdiameter sekitar 6-8 inci atau sekitar 15-20 sentimeter.

Angkatan Udara telah menyelidiki kasus itu, bahkan menganalisis kue yang diberikan pada Simonton. Setelah dianalisis, mereka menyimpulkan itu hanya pancake yang sepenuhnya biasa, tidak ada yang aneh atau asing, kecuali hanya rasanya yang kurang garam. 

Semua peristiwa ini mungkin terdengar tidak masuk akal, dan bisa jadi Simonton hanya mengada-ada. Tapi orang-orang percaya Simonton mengatakan yang sebenarnya. Mereka mengenal Simonton sebagai pria tua sederhana, bekerja sebagai peternak ayam, dan seumur hidup tidak pernah tahu apa itu UFO atau alien, seperti yang juga tidak diketahui penduduk desa lainnya.

Satu-satunya bukti yang mungkin mendukung cerita Simonton hanyalah pohon-pohon pinus yang bengkok di bagian atas, akibat dampak lepas landasnya pesawat aneh yang diceritakan Simonton. Lepas dari hal itu, semua kisah ini sangat aneh dan misterius.

Hmm... ada yang mau menambahkan?


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/

Sabtu, 11 Juli 2020

Kasus Pembunuhan di Kabin yang Membingungkan

Ilustrasi/grid.id
Di California, ada sebuah tempat bernama Keddie Resort Lodge, yang biasa digunakan menginap keluarga-keluarga yang sedang menikmati liburan. Resor itu ada di wilayah pedesaan Sierra Nevada, California Utara.

Pada 12 April 1981, keluarga John Steven Sharp menginap di sana, bersama beberapa teman keluarga mereka. Waktu itu, keluarga Sharp menempati kabin No. 28. Kabin itu ditempati Glenna Susan alias Sue Sharp, istri John Steven Sharp, bersama anak laki-laki dan anak perempuannya, Johnny, Greg, Rick, dan Tina.

Bersama mereka, ada Dana Wingate, teman Johnny. Sementara Greg dan Rick tidur bersama teman mereka, yaitu Justin Smartt.

Ada satu lagi anak perempuan John Steven Sharp, yaitu Sheila, yang menempati kabin No. 27, bersebelahan dengan kabin keluarganya. Di kabin No. 27 itu, Sheila tidur bersama teman-teman perempuannya.

Malam hari, Sheila memasuki kabin keluarganya, dan terkesiap. Dia menemukan ibu dan adik laki-lakinya, Johnny, telah tewas. Begitu pula Dana Wingate, teman Johnny. Sementara adik Sheila yang lain, Tina, waktu itu hilang entah kemana. Di sekeliling kamar itu terlihat percikan darah di mana-mana.

Yang aneh, adik Sheila yang lain, yaitu Greg dan Rick, juga teman mereka, Justin Smartt, masih tertidur lelap. Padahal, mereka bertiga tidur di kamar yang sama dengan ibu dan adiknya, Johnny, juga Dana Wingate, yang kini telah tewas. 

Bagaimana sebuah pembunuhan terhadap tiga orang terjadi di dalam sebuah kamar, sementara tiga orang lainnya sama sekali tidak mendengar dan terus tertidur lelap?

Ketika polisi mulai berdatangan ke tempat itu, mereka menemukan Sue, Johnny, dan Dana, masing-masing tewas dengan leher yang dijerat kabel listrik, selain beberapa bagian tubuh mereka ditusuk pisau. Di tempat ketiganya dibunuh, juga ditemukan pisau steak, yang tergeletak di lantai. Sementara pisau daging yang penuh darah dan palu ditemukan di atas meja kecil, yang terletak di dekat jalan masuk menuju dapur. Selain itu, percikan darah juga ditemukan di dinding dan di langit-langit kabin.

Lalu ke mana Tina, anak perempuan keluarga Sharp, yang di malam itu hilang? 

Tina—atau lebih tepatnya, jasad Tina—baru ditemukan tiga tahun kemudian, setelah kasus pembunuhan di kabin resor tersebut. Kerangka mayat Tina ditemukan 50 mil dari Keddie, dan penemuan itu berawal dari seseorang yang menelepon 911, dan memberitahukan lokasi kerangka mayat tersebut. 

Yang mencurigakan, penelepon itu tahu persis bahwa kerangka mayat yang dilaporkannya adalah milik Tina, padahal waktu itu kerangka tersebut sudah tidak mungkin dikenali.

Kembali ke kasus pembunuhan di kabin No. 28. Penyelidikan yang dilakukan polisi menggiring mereka pada dua tersangka, yaitu Marty Smartt dan temannya, yang bernama Bo Boubede. Marty Smartt adalah ayah Justin Smartt, teman anak-anak keluarga Sharp. Berdasarkan penyelidikan polisi waktu itu, Marty Smartt dan Bo Boubede menginap di kabin yang letaknya tidak jauh dari kabin yang ditempati keluarga Sharp.

Lalu apa motif mereka melakukan pembunuhan tersebut? Marty Smartt punya istri bernama Marylin, yang berteman dekat dengan Sue Sharp. Marty dikenal sebagai suami yang kasar, dan kerap memperlakukan istri serta anak-anaknya dengan kejam. Ketika belakangan Marylin menuntut cerai, Marty mencurigai istrinya telah dipengaruhi Sue Sharp.

Didorong oleh kecurigaan bahwa Sue Sharp telah mencampuri urusan rumah tangganya, Marty jadi sangat marah. Berdasarkan penyelidikan polisi waktu itu, Marty juga diketahui buru-buru meninggalkan kabin di Keddie, setelah pembunuhan itu terjadi.

Karena polisi yakin bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh lebih dari satu orang, mereka memasukkan Bo Boubede sebagai kaki tangan Marty. Malam itu, pada waktu peristiwa terjadi, Bo Boubede ada bersama Marty, dan—lebih dari itu—Bo Boubede juga punya latar belakang kriminal.

Ketika kasus itu mulai bergulir dan tersangka telah ditangkap, masyarakat sudah yakin bahwa itulah yang terjadi. Bahwa Marty telah membunuh Sue Sharp, Johnny Sharp, dan Dana Wingate. Dia pula yang mungkin telah menculik Tina Sharp. Sementara motifnya adalah dendam karena Marty mencurigai Sue telah mencampuri urusan rumah tangganya.

Tetapi, kemudian, kasus itu mencapai antiklimaks. Polisi melepaskan Marty dan rekannya, Bo Boubede, dan menghentikan penyelidikan. Waktu itu, polisi menyatakan pada pers bahwa ada bukti-bukti lain yang sebelumnya tidak mereka sadari, sementara masyarakat berspekulasi bahwa kasus itu dihentikan karena adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu.

Ayah Dana Wingate, teman Johnny Sharp yang juga terbunuh di kabin Keddie, mengatakan kepada pers, “Polisi sudah tersandung satu sama lain, dan mengotori kasus ini.” Dan bukan hanya dia yang berpikir seperti itu. Banyak pihak mencurigai polisi secara sengaja menutupi kasus tersebut.

Orang yang dituduh sebagai pihak yang menekan kepolisian agar menghentikan kasus itu adalah Doug Thomas, yang waktu itu menjadi sherif di lokasi terjadinya pembunuhan. Tuduhan itu dilatari kecurigaan masyarakat bahwa Doug Thomas adalah teman dekat Marty Smartt. 

Menghadapi tuduhan itu, Doug Thomas berkata kepada pers, bahwa dia memang pernah memberikan nasihat pada pasangan Smartt, sebelum pembunuhan itu terjadi, meski waktu itu Marylin—istri Marty—tidak hadir. Meski begitu, Doug Thomas menyatakan bahwa dia bukan teman Marty. Pernyataan Doug Thomas dikonfirmasi oleh Marylin, istri Marty, bahwa Doug Thomas memang bukan teman suaminya.

Kasus itu pun berhenti di situ. Tidak ada tersangka, tidak ada penyelidikan lanjutan, tidak ada pengungkapan.

Pada 2013, kasus pembunuhan yang sempat mengendap lama itu akhirnya dibuka kembali oleh sherif yang baru menjabat, bernama Greg Hagwood. Ia, bersama seorang penyelidik bernama Mike Gamberg, menyatakan akan kembali menelusuri kasus pembunuhan sekian tahun lalu, dan bertekad akan mengungkapnya.

Tekad kedua orang itu sebenarnya bisa dimaklumi, karena keduanya memiliki hubungan personal dengan para korban.

Ketika kasus itu dibuka kembali, terdapat beberapa perkembangan baru yang menarik. Ketika membongkar kotak berisi berkas laporan kasus di kabin Keddie, Mike Gamberg menemukan surat yang ditulis Marty Smartt untuk istrinya, Marylin, sesaat setelah pembunuhan terjadi. Dalam kotak itu juga terdapat rekaman telepon dari seseorang yang tidak diketahui identitasnya, yang menyebutkan lokasi penemuan kerangka mayat milik Tina Sharp.

Bukti audio dari telepon yang ditujukan pada 911 tersebut kemudian dibandingkan dengan suara tersangka, untuk ditemukan kecocokannya. Patut untuk disebutkan di sini, bahwa rekaman tersebut belum pernah dianalisa sebelumnya.

Selain itu, Mike Gamberg juga menemukan seseorang yang dulu menjadi terapis Marty Smartt, yang berada di Reno, Nevada. Tampaknya, Marty telah mengaku menjadi pelaku pembunuhan, dalam sebuah sesi pertemuan dengan terapisnya. 

Ketika menemukan semua perkembangan baru tersebut, Sheriff Hagwood memberi pernyataan pada pers, “Ada orang-orang yang mengetahui lebih dari yang mereka katakan. Saya percaya kita sudah mengidentifikasi beberapa dari mereka. Kita tahu siapa mereka, dan kita tahu di mana mereka. Saya memiliki kepercayaan bahwa mereka ikut serta, atau mereka memiliki informasi penting.”

Kedengarannya Sheriff Hagwood sangat yakin akan dapat menguak kasus pembunuhan tersebut. Namun, sampai tiga tahun kemudian, pada 2016, dia bersama Mike Gamberg belum juga mampu menemukan pelakunya secara meyakinkan, dan kasus itu masih gelap. 

Bagaimana pun, mereka butuh lebih banyak bukti yang benar-benar mampu menyeret seseorang—atau dua orang—ke pengadilan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, lengkap dengan bukti-bukti yang tak bisa dibantah. Namun, untuk saat ini, mereka mungkin masih butuh waktu lebih banyak.

Hmm... ada yang mau menambahkan?


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/

Selasa, 07 Juli 2020

Kasus Penculikan Alien yang Melibatkan Sekjen PBB

Ilustrasi/istimewa
Sebagian orang mungkin mencibir tiap mendengar “penampakan UFO”, “penculikan alien”, atau semacamnya. Karena kisah-kisah terkait alien atau UFO biasanya sulit dibuktikan, sehingga sering dituduh cuma isapan jempol. 

Tapi bagaimana jika kita mendengar kasus penculikan alien, dan kisah itu melibatkan orang-orang terkenal sekaligus berpengaruh? Sebut saja, misalnya, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Perdana Menteri Kanada. Apakah kita masih sulit percaya?

Dari banyak kasus terkait UFO atau alien, sebagian memang terkait dengan tokoh-tokoh terkenal, namun Linda Cortile Incident tampaknya menjadi kasus yang paling rumit, karena adanya “jaring-jaring rahasia” yang menyangkut orang-orang penting dan berpengaruh di dunia. Karena itu pula, kasus ini pun diselimuti misteri, meski banyak orang yang menjadi saksi.

Linda Cortile Incident adalah peristiwa penculikan oleh UFO, yang terjadi pada 30 November 1989. Pada waktu itu, Linda Napolitano tampak melayang—dalam arti sebenarnya—dari lantai 12 apartemennya di Manhattan, dekat jembatan Brooklyn, lalu masuk ke dalam pesawat UFO yang juga tampak melayang di dekat gedung apartemennya.

Peristiwa aneh semacam itu tentu sangat mengejutkan, dan itulah kenyataannya. Karena peristiwa itu terjadi pada dini hari, tidak terlalu banyak orang yang menjadi saksi. Namun, meski begitu, peristiwa aneh itu disaksikan oleh beberapa orang yang kebetulan ada di dekat lokasi apartemen Linda. Bahkan Sekjen PBB waktu itu, Javier Perez de Cuellar, menyaksikan peristiwa itu, ketika ia dan rombongannya melewati jembatan Brooklyn.

Kasus itu diselidiki oleh Budd Hopkins, seorang peneliti UFO, yang belakangan mengisahkan semuanya dalam buku yang terbit pada 1996, berjudul Witnessed: The True Story of the Brooklyn Bridge Abduction.

Peristiwa penculikan

Linda Napolitano (dalam buku disamarkan menjadi Linda Cortile) adalah ibu rumah tangga yang tinggal bersama suami dan dua orang anak, di sebuah apartemen di Manhattan. Pada 30 November 1989, kira-kira pukul 03.00 pagi, ia tampak melayang keluar dari jendela apartemennya di lantai 12, menuju sebuah wahana UFO yang berkilauan. 

Berdasarkan penuturannya pada Budd Hopkins, waktu itu Linda baru saja selesai mencuci baju, dan akan tidur. Karenanya, waktu itu dia mengenakan gaun putih yang biasa dikenakan untuk tidur.

Namun, tiba-tiba, ia mengalami kelumpuhan, dan melihat ada tiga makhluk aneh berdiri di kamarnya. Linda sebenarnya berusaha melempar bantal ke arah sosok-sosok aneh itu, namun tiba-tiba ia merasa semuanya gelap. Ia pingsan. Suami Linda, yang tidur di sampingnya, tertidur pulas dan tidak tahu apa yang terjadi waktu itu.

Saksi-saksi

Salah satu saksi mata yang melihat peristiwa melayangnya Linda dari apartemen tingkat 12 ke sebuah pesawat UFO, adalah Janet Kimball. Waktu itu, Janet sedang mengemudi melewati jembatan Brooklyn menuju Manhattan, dalam perjalanan pulang ke wilayah utara New York, setelah menghadiri sebuah pesta malam hari. 

Di antara saksi-saksi yang telah ditemui Budd Hopkins, yang paling misterius adalah dua orang pria, yang menyebut diri mereka sebagai Richard dan Dan (mereka tidak pernah menyebutkan nama lengkap). 

Ketika Hopkins sedang berusaha mencari para saksi mata yang menyaksikan peristiwa Linda melayang dari apartemennya, datang sebuah surat yang ditandatangani oleh Richard dan Dan. Kepada Hopkins, dalam surat itu, mereka memperkenalkan diri sebagai polisi New York, yang melihat peristiwa tersebut dari sebuah mobil yang diparkir di bawah FDR Drive (jalan tol yang berada di sisi timur Manhattan), berhadapan dengan gedung apartemen Linda. 

Hopkins membalas surat itu, dan meminta agar mereka bisa bertemu. Permintaan Hopkins dipenuhi, dan dua orang itu—Richard dan Dan—menemui Hopkins di tempat yang disepakati. 

Ketika mereka bertemu itulah, Richard dan Dan mengaku kalau mereka sebenarnya bukan polisi New York, sebagaimana yang mereka katakan dalam surat, tapi pegawai keamanan yang bekerja pada sebuah biro (tidak disebutkan nama bironya). Pada dini hari itu, mereka sedang mengawal seseorang, yang kemudian diketahui secara luas sebagai Javier Perez de Cuellar, Sekjen PBB waktu itu.

Karena pengakuan itu pula, Javier Perez de Cuellar diduga ikut menyaksikan peristiwa aneh tersebut—tubuh Linda yang melayang dari apartemennya di lantai 12, dan masuk ke sebuah pesawat UFO. Bahkan, selain de Cuellar, konon ada dua pejabat AS dan dua pejabat asing lain di sana, termasuk Perdana Menteri Kanada, Brian Mulroney. Semuanya ada dalam satu rombongan, dan diperkirakan mereka semua menyaksikan sesuatu yang disaksikan Richard dan Dan.

Karena menyaksikan hal aneh itu pula, Javier Perez de Cuellar dan para pengawalnya waktu itu terlambat datang ke pangkalan helikopter di Governor’s Island (waktu itu menjadi salah satu instalasi militer di pelabuhan New York).

Saksi yang terobsesi

Kasus ini menjadi kian rumit, karena diam-diam Richard dan Dan “terobsesi” dengan Linda. Sejak menyaksikan peristiwa tersebut, mereka kerap meluangkan waktu untuk mengawasi Linda, bahkan pernah menculiknya untuk melakukan interogasi. Mereka curiga kalau Linda sebenarnya alien.

Ada semacam perasaan campur aduk yang membingungkan pada Richard dan Dan. Di satu sisi, mereka khawatir dengan keselamatan Linda, di sisi lain mereka juga khawatir Linda mungkin saja alien. Perasaan itu pula yang belakangan mendorong mereka sampai menculik Linda, untuk membuktikan bahwa apa yang mereka lihat adalah nyata—bahwa Linda benar-benar manusia.

Urusan itu tidak berakhir menyenangkan. Dan, rekan Richard, belakangan mengalami gangguan jiwa karena sangat terobsesi pada Linda, dan terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa. Budd Hopkins mengetahui kenyataan itu setelah semuanya terjadi, dari penuturan Richard.

Saksi lain

Selain Richard dan Dan, Hopkins mendapat saksi lain, seorang wanita mantan operator telepon dari Putnam County, New York, bernama Janet Kimbell. Ia mengatakan bahwa dini hari ketika peristiwa itu terjadi, ia sedang berada di jembatan Brooklyn, mengendarai mobilnya, dan menyaksikan peristiwa itu. Seperti yang lain, ia juga menyaksikan tubuh Linda melayang dari apartemennya, dan masuk ke sebuah pesawat UFO.

Dengan keberadaan saksi-saksi yang secara jelas menyatakan bahwa mereka menyaksikan peristiwa itu, apakah benar Linda diculik alien? Sampai di sini, Hopkins membentur kebingungan. Pasalnya, Linda tidak bisa menjelaskan apa yang ia alami setelah tubuhnya masuk ke pesawat UFO.

Pada sesi hipnotis yang dilakukan, Linda menceritakan semua yang dialaminya, tapi hanya sebatas dari ia mendapati makhluk asing yang tiba-tiba muncul di kamarnya, lalu ia merasakan semua gelap, pingsan, dan tidak tahu apa yang kemudian terjadi setelahnya. Linda juga mengakui bahwa dia pernah diculik dua pria—Richard dan Dan—yang berarti bahwa pengakuan Richard pada Hopkins memang benar.

Yang juga menjadi masalah, semua orang yang terlibat dalam kasus itu tidak ada yang mau muncul ke publik. Linda tidak pernah mau tampil ke publik, misal melayani wawancara media atau memenuhi undangan talkshow di televisi. Begitu pula Richard dan saksi yang lain. Richard bahkan menyatakan khawatir dengan kariernya, dan mungkin keselamatannya akan terancam, jika sampai muncul ke publik dan membeberkan kesaksian yang dialaminya. 

Hopkins lalu nekad menghubungi Javier Perez de Cuellar, tapi Sekjen PBB itu dengan tegas menolak dugaan bahwa ia menyaksikan peristiwa itu. Yang menarik, Javier Perez sampai menulis surat pada Hopkins, yang isinya menyatakan bahwa jika peristiwa itu tersebar ke publik, ia—dan orang-orang lain yang bersamanya waktu itu, termasuk Perdana Menteri Kanada, Brian Mulroney—akan menolak keterlibatan mereka. 

Sampai di sini, Hopkins merasa tiba pada jalan buntu yang membingungkan. Dia punya kasus yang sangat menarik—seorang wanita yang melayang dari apartemennya di lantai 12, ke sebuah pesawat UFO—dan peristiwa aneh sekaligus mencengangkan itu disaksikan oleh orang-orang yang telah memberikan kesaksikan mereka. Tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang bersedia tampil ke publik.

Jadi, apakah peristiwa aneh itu benar-benar terjadi? Ada peristiwa, ada saksi-saksi, ada konfirmasi. Tetapi, bagaimana pun, Budd Hopkins tidak menyaksikannya sendiri.


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/

Rabu, 01 Juli 2020

Kasus Penyebar Gas Misterius yang Tak Pernah Terungkap

Ilustrasi/orangebeanindiana.com
Di Amerika, pernah ada kasus kejahatan yang aneh, dan pelakunya tak pernah terungkap sampai sekarang. Kasus kejahatan ini tidak menimbulkan korban tewas. Namun, luasnya kasus dan misteri yang melingkupinya, menjadikan kasus ini sangat terkenal.

Pada 1933, kasus aneh ini menciptakan histeria massa di Virginia dan Illinois, dan dikabarkan secara masif oleh media-media yang terbit di sana. Kasus aneh ini melibatkan sesosok misterius yang bersembunyi di kegelapan, menyebarkan gas aneh yang membuat orang-orang kehilangan kesadaran, dan—sebelum tertangkap—ia selalu berhasil menghilang dalam kegelapan malam.

Media-media yang memberitakan kasus itu menjulukinya Mad Gasser of Mattoon atau “orang gila penyebar gas dari Mattoon”.

Kasus misterius itu dimulai pada 22 Desember 1933, sekitar pukul 22.00, di sebuah kota kecil bernama Botecourt County, Virginia. Malam itu lingkungan di sana sudah sepi, para penduduk berdiam di rumah masing-masing untuk beristirahat, sebagian malah sudah terlelap dalam tidur. Begitu pula keadaan di rumah Cal Huffman. 

Malam itu, Cal Huffman sedang keluar rumah, jadi istrinya masih terjaga, menunggu kepulangannya. Di rumah itu, anggota keluarga yang lain telah tidur di kamar masing-masing, begitu pula seorang famili bernama Ashby Henderson, yang malam itu menginap di sana. 

Tiba-tiba, di dalam rumahnya, Nyonya Huffman mencium bau manis yang aneh. Belakangan, ia menyatakan, seumur hidupnya baru kali itu ia mencium aroma aneh seperti malam itu. Yang jelas, setelah mencium bau manis yang aneh tersebut, Nyonya Huffman merasakan kepalanya pusing. Tapi bau aneh itu segera sirna. 

Sekitar setengah jam kemudian, pada pukul 22.30, bau aneh itu muncul kembali. Kali ini lebih kuat, sehingga anak-anaknya, serta tamu yang menginap di rumahnya, merasakan efek bau tersebut. Semua yang terpapar bau aneh itu merasakan mual, pusing, kram pada wajah, dan sesak napas.

Alice, putri Nyonya Huffman yang berusia 20 tahun, merasakan akibat yang paling parah. Ia mengalami sesak napas parah, sehingga harus diberi napas buatan. Ia berhasil selamat waktu itu. Namun, beberapa minggu setelahnya, ia masih sering mengalami kram pada anggota tubuhnya.

Tidak ada yang bisa menjelaskan dari mana bau aneh itu berasal. Namun, Cal Huffman, yang baru pulang ke rumah bertepatan dengan peristiwa itu, sempat melihat sesosok pria melarikan diri di kegelapan malam. Ketika polisi memeriksa lokasi kejadian, mereka hanya menemukan jejak sepatu wanita di dekat jendela.

Dua hari kemudian, bau misterius itu kembali muncul di Cloverdale. Kali ini menyerang rumah keluarga Clarence Hall.

Waktu itu pukul 21.00, dan Clarence Hall beserta istrinya ada di rumah, ketika bau manis yang aneh itu muncul tiba-tiba. Keduanya pun merasakan tubuh lemas, dan kepala mereka tiba-tiba sangat pusing.

Sama seperti kasus sebelumnya, kasus yang terjadi di rumah Clarence Hall juga misterius. Tidak ada yang bisa memastikan dari mana asal bau tersebut. Sementara polisi yang menyelidiki kasus itu menemukan bau tersebut ternyata terkonsentrasi pada sebuah lubang paku di jendela. Polisi percaya, lubang itu telah digunakan untuk menyemprotkan gas berbau itu ke dalam rumah.

Berdasarkan kenyataan itu, artinya ada seseorang yang memang melakukan serangan menggunakan bau aneh tersebut. Sejak itu pula, kasus serangan gas dan kemungkinan ada orang jahat yang menyebarkannya, mulai menarik perhatian media.

Pada 11 Januari 1933, serangan itu kembali terjadi, kali ini di rumah keluarga Moore di daerah Howell’s Mill. Pada pukul 22.00, Nyonya Moore melaporkan adanya suara-suara aneh di halaman, yang diikuti sesosok bayangan berkelebat di dekat jendela yang telah lama pecah. Segera setelah itu, Nyonya Moore mulai mencium bau yang aneh. 

Suaminya, yang lebih waspada, segera meraih bayi mereka, dan berlari keluar. Namun, meski telah bertindak sigap, gas itu tetap membuat tubuhnya merasakan kram untuk sesaat.

Pada malam yang sama, GD Kinzie dari Troutville juga mengalami serangan serupa. Dia mencium aroma gas yang aneh, dan mengalami pingsan. Menurut dokter yang memeriksanya, Kinzie kemungkinan telah diberi gas chlorine yang berbahaya.

Pada 16 Januari 1933, serangan gas aneh kembali terjadi, kali ini menyerang keluarga FB Duval. Pada pukul 23.30, saat FB Duval baru tiba di rumahnya, ia mendapati keluarganya telah pingsan akibat menghirup gas yang aneh. Ia segera berbalik, dan bermaksud mendatangi kantor polisi. Waktu itu, ia sempat melihat sekelebat bayangan sedang berlari. FB Duval mengejarnya, namun sosok tersebut menghilang dalam kegelapan.

Beberapa penduduk lain juga melaporkan serangan serupa, yang terus berlangsung hingga 28 Januari 1933, ketika lima orang di kediaman Ed Stanley di Colon Siding mengalami pusing akibat bau gas tersebut. 

Salah seorang dari mereka, Frank Guy, berhasil mendapatkan udara segar sehingga mendapat kesadarannya kembali. Ketika itu, ia sempat menyaksikan empat pria sedang berlari di dekat hutan kecil. Frank Guy meraih senjata dan menembak. Namun sepertinya tidak mengenai pria-pria tersebut.

Serangan-serangan itu pun membuat warga sangat resah, sementara kepolisian belum juga mampu menangkap pelakunya, atau memperkirakan motifnya. Karenanya, pada 29 Januari 1933, kepolisian setempat mengumumkan bahwa mereka menyediakan hadiah sebesar 500 dolar bagi siapa pun yang bisa memberi keterangan mengenai para penjahat penyebar gas. Jumlah itu cukup besar untuk ukuran zaman tersebut.

Selama beberapa hari setelah itu, masih terjadi serangan gas di sana-sini, sampai kemudian benar-benar berhenti pada 11 Februari 1934, bertepatan dengan datangnya lima laporan ke kantor polisi, terkait serangan tersebut.

Munculnya lima laporan serangan, menjadikan polisi-polisi bergerak cepat dan menyebar ke lima lokasi terjadinya serangan. Mereka menemukan sebuah botol kecil berisi cairan di salju, di sekitar rumah korban serangan di Botecourt. Botol berisi cairan itu segera diperiksa, dan diperoleh kepastian kalau cairan itu adalah campuran dari cairan yang tidak berbahaya bagi manusia, kira-kira seperti penyemprot serangga yang ada di setiap rumah tangga.

Setelah penemuan bukti kecil itu, entah kenapa serangan gas tiba-tiba berhenti. Tidak ada lagi laporan-laporan yang masuk, dan orang-orang mulai berspekulasi kalau yang terjadi dalam beberapa bulan itu hanyalah histeria massa. Spekulasi itu bahkan menjadi headline di harian Roanoke Times waktu itu, dengan judul editorial, Tidak Ada Penyebar Gas di Roanoke.

Semula, masyarakat yakin kalau ribut-ribut soal serangan gas aneh yang melanda beberapa bulan itu hanyalah histeria massa, dan sebenarnya tidak ada penjahat yang berkeliaran ke sana kemari menyebarkan gas. Tapi sesuatu yang aneh terjadi, dan peristiwa serupa terulang... sepuluh tahun kemudian.

Sepuluh tahun kemudian, pada 1944, serangan gas kembali muncul di Mattoon, Illinois, dan serangan itu berlangsung hingga beberapa bulan.

Serangan kali ini pertama kali terjadi pada 31 Agustus 1944, di rumah Urban Raef. Malam itu, Urban Raef terbangun dari tidur akibat bau menyengat yang segera membuatnya pusing dan muntah-muntah. Istrinya, yang berniat bangun untuk mencari tahu, ikut mengalami dampak serupa. Ia merasakan tubuhnya kram, dan tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Pada 2 September 1944, seorang perempuan bernama Aline Kearney sedang membaca surat kabar di tempat tidur sambil menunggu kantuk datang, ketika ia mencium bau gas yang manis dan sangat kuat. Bau itu membuat ia dan anak perempuannya, yang berusia tiga tahun, mual-mual. Ketika Aline mencoba bangkit dari tempat tidur, ia tidak bisa menggerakkan kakinya.

Untung, waktu itu, adik Aline ada di sana, dan cukup sadar untuk menghubungi polisi. Ketika polisi datang dan menyelidiki, mereka tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Namun, pada pukul 00.30 malam itu, ketika suami Aline pulang dari kerjanya, ia mendapati seseorang sedang mengendap-endap di samping rumah. Ia mengejarnya, namun penyelinap itu berhasil melarikan diri.

Peristiwa yang dialami Aline Kearney segera menyebar, dan media-media setempat mulai memberitakan orang gila penyebar gas yang pernah meneror Virginia 10 tahun yang lalu kini telah datang ke Illinois. Waktu itu, media-media di sana juga menamai penjahat itu dengan berbagai julukan, di antaranya Mad Gasser of Mattoon, Anesthetic Prowler, atau Phantom Anesthetic. Sosok misterius ini kemudian dianggap bertanggung jawab atas serangan-serangan yang menyusul pada minggu-minggu berikutnya.

Setelah pemberitaan oleh banyak media, beberapa orang mulai melaporkan terjadinya serangan serupa. Mereka mengklaim, serangan gas yang dialami telah menyebabkan pusing, kelumpuhan, mual, dan muntah.

Hal itu pula yang dialami oleh Nyonya Carl Cordes, pada 5 September 1944. Dia menemukan sebuah kain kecil yang basah di serambi rumahnya. Bermaksud membuangnya ke tempat sampah, ia memungut kain basah itu, dan seketika mencium bau yang sangat kuat. Setelah itu, tubuhnya tiba-tiba lemas.

“Rasanya seperti lumpuh,” katanya saat diwawancarai media. “Suamiku harus membantuku masuk ke dalam rumah. Setelah itu bibirku mulai membengkak, dan langit-langit mulut serta tenggorokanku rasanya seperti terbakar. Aku mulai memuntahkan darah, dan suamiku segera memanggil dokter. Dibutuhkan waktu sekitar dua jam hingga aku merasa normal kembali.”

Akibat serangan-serangan itu, para penduduk Mattoon mulai diliputi ketakutan. Pada minggu-minggu berikutnya, pihak kepolisian menerima beberapa laporan serangan setiap malam. Banyak korban melaporkan melihat figur tinggi berpakaian hitam, yang terlihat berlari dari halaman rumah mereka, sesaat setelah serangan terjadi. Selain itu, ada yang melaporkan melihat asap berwarna biru, dan mendengar suara berdengung yang aneh.

Karena polisi tidak kunjung memecahkan misteri itu, para penduduk berinisiatif membentuk kelompok ronda, yang menyisir jalan setiap malam. Namun usaha itu tidak juga membawa hasil.

Sampai kemudian, pada 13 September 1944, terjadi serangan gas secara massal, dan korban mencapai lebih dari 30 orang.

Kepanikan pun segera menjalar, semua orang ketakutan. Siapa pun bisa menjadi korban serangan gas misterius itu.

Namun, anehnya, setelah tanggal tersebut, tidak ada lagi laporan adanya serangan. Penjahat yang menyebarkan gas itu seolah memutuskan untuk berhenti total dari kejahatannya, dan sejak itu pula tidak ada lagi laporan orang mengalami serangan gas. Kenyataan itu tentu menjadi kabar baik bagi warga, namun menjadi masalah tersendiri bagi kepolisian. Pasalnya, dengan tidak ada lagi serangan, mereka makin kesulitan untuk menemukan pelakunya.

Serangan gas itu memang berhenti total, dan tidak pernah ada kejadian meresahkan lagi. Namun, kasus misterius itu juga tak terpecahkan sampai saat ini.

Sejak itu, selama lebih dari setengah abad, tak terhitung banyaknya penulis, peneliti, dan sejarawan, yang mempelajari kembali kasus tersebut, dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Botecourt County dan Mattoon pada saat itu. Namun upaya mereka juga menghadapi jalan buntu. Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, atau siapa pelaku dan kemungkinan motifnya.


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/