![]() |
| Ilustrasi/vanityfair.com |
Pada 26 Desember 1996, pagi hari, Patsy Ramsey mendapatkan surat yang tergeletak di anak tangga di dalam rumahnya. Surat itu berisi seruan uang tebusan untuk anak perempuannya, JonBenét Patricia Ramsey.
Usai membaca surat itu, Patsy segera berlari ke kamar JonBenét, dan mendapati kamar anak perempuannya kosong. Karenanya, dengan cemas, Patsy secepatnya menelepon polisi, dan melaporkan bahwa anak perempuannya telah diculik.
Polisi, yang mendapat laporan itu, secepatnya tiba ke rumah Patsy, dan melakukan pengusutan, utamanya menyelidiki surat yang didapatkan Pasty.
Sekitar tujuh jam lalu, sementara polisi masih berusaha menilik masalah penculikan itu, mayit JonBenét didapatkan oleh ayahnya, John Ramsey, di basement kediaman mereka sendiri. Saat ditemukan, JonBenét dalam kondisi tergeletak dengan ekspresi dilakban, sementara lehernya terlilit kabel.
Penemuan itu sungguh mengagetkan, bahkan bagi polisi. Mereka sama sekali tidak terpikir untuk menilik rumah keluarga Ramsey, alasannya laporan yang mereka terima yaitu perkara penculikan. Karenanya, mereka tidak terpikir bahwa JonBenèt sebenarnya berada di dalam rumah.
Sebelum kematiannya, JonBenét ialah salah satu penerima dalam kontes keelokan, dan pernah memenangkan setidaknya lima kali kontes. Kematiannya yang tragis mampu jadi ialah sebuah pembunuhan, dan itu pula yang disimpulkan pihak kepolisian yang mengatasi masalah itu.
Otopsi yang dilakukan pada jasad JonBenét memperoleh bahwa gadis itu tewas karena pukulan pada kepalanya. Sementara investigasi koroner menyebut bahwa JonBenét tewas sebab kehabisan napas akibat tercekik. Yang menyeramkan, kuas yang biasa dipakai Patsy untuk melukis, dipakai oleh pelaku pembunuhan itu untuk mengencangkan kabel yang digunakan mencekik leher JonBenét.
Pemeriksaan kepada JonBenét juga mendapatkan adanya dua DNA asing yang terdapat pada baju tidur dan celana dalamnya. Kedua DNA tersebut disangka milik seseorang yang membunuhnya. Ketika DNA itu dibandingkan dengan database tersangka pelaku kekerasan milik FBI, tidak didapatkan satu pun kecocokan di antara 1,5 juta sampel.
Penyelidikan polisi juga memperoleh dua pasang jejak kaki di kawasan kejadian, juga gulungan tali di dekat kamar JonBenét. Namun, gulungan tali tersebut bukan milik keluarga Ramsey—atau setidaknya, itulah akreditasi mereka.
Jika memang ada seseorang, atau dua orang, memasuki rumah kediaman Ramsey secara paksa, mereka melakukannya dengan sungguh rapi. Pasalnya, tidak ada pintu atau jendela yang rusak, juga tidak ditemukan adanya jejak kaki di atas permukaan salju di luar rumah.
Keesokan harinya, pada 27 Desember, surat ajakan tebusan yang diantarpelaku mulai diteliti secara intensif. Berikut sebagian isi surat tersebut:
Mr. Ramsey,
Listen carefully! We are a groups of individuals that represent a small foreign faction. We respect your business, but not the country that it serves.
The two gentlemen watching over your daughter do not particularly like you. So I advise you not to provoke them. Speaking to anyone about your situation, such as police or FBI, will result in your daughter being beheaded.
You can try to deceive us, but be warned that we are familiar with law enforcement countermeasures and tactics. You stand a 99% chance of killing your daughter if you try to outsmart us.
Follow our instructions and you stand a hundred percent chance of getting her back.
Di tamat surat, terdapat inisial “S.B.T.C”. Inisial itu masih menjadi misteri hingga ketika ini.
Yang agak ajaib yaitu jumlah duit tebusan yang diminta, sebesar $118.000. Itu merupakan jumlah uang yang hampir sama, yang diterima oleh John Ramsey, sebagai bonus dari tempat kerjanya tahun tersebut. Selain itu, fakta yang mencengangkan yakni surat tebusan itu ditulis dengan pulpen dan kertas yang berasal dari dalam rumah keluarga Ramsey.
Berdasarkan realita itu, artinya si pelaku memasuki rumah, mencari kertas dan pulpen, menulis surat tebusan, meletakkannya di anak tangga di dalam rumah, kemudian dengan alasan tertentu membunuh JonBenét. Dan semua itu terjadi ketika tiga anggota keluarga Ramsey sedang berada di dalam rumah!
Karena kenyataan yang janggal itu, sebagian pihak curiga bila surat itu ialah kebohongan. Bisa jadi, orang tua JonBenét sendiri yang menulis surat itu. Fakta tersebut, bila dikombinasikan dengan kurangnya bukti adanya penyusup, menciptakan kecurigaan kian terarah pada keluarga Ramsey sendiri.
Kenyataannya, polisi memang menjadikan tiga anggota keluarga Ramsey—suami istri dan anak laki-laki mereka—sebagai tersangka. Pada permulaan perkara ini diselidiki, mereka bertiga menjalani pemeriksaan yang sungguh teliti. Mereka dicurigai atas keaslian surat tebusan yang timbul, dan sekurang-kurangnya bukti keberadaan penyusup.
Dalam suatu program televisi yang mengangkat perkara pembunuhan tersebut, seorang pakar kriminalitas menyatakan pendapatnya bahwa Patsy Ramsey bisa jadi secara tidak sengaja sudah membunuh JonBenét. Atau kakak lelakinya, Burke Ramsey, yang secara tidak sengaja membunuh JonBenét.
Lalu, dalam kepanikan, Patsy Ramsey menulis surat ajakan tebusan, biar seakan-akan JonBenét diculik, beberapa waktu itu mereka menyimpan jasad JonBenét di basement rumah. Sayangnya, sebelum skenario itu berjalan lancar, John Ramsey memperoleh jasad JonBenét.
Teori itu memang terdengar meyakinkan. Namun, teori itu terbentur pada sesuatu yang secara telak membantahnya. Dalam investigasi otopsi, diketahui bahwa JonBenét masih hidup dikala beliau sedang dicekik. Makara teori “tidak sengaja membunuh” secara telak terbantah. Hal lain, yang juga membuat teori itu mentah, jejak DNA yang ditemukan pada busana dan celana dalam JonBenét bukan DNA Patsy Ramsey atau pun Burke Ramsey.
Analisa atas goresan pena tangan pada surat permintaan tebusan juga membentur duduk perkara. Polisi mengarahkan kecurigaan pada Patsy Ramsey selaku pelaku yang menulis surat tersebut. Namun, bentuk goresan pena Patsy Ramsey berbeda dengan bentuk goresan pena yang ada di surat itu. Begitu pula bentuk goresan pena John Ramsey atau Burke Ramsey, seluruhnya berlainan.
Di atas semuanya itu, bukti-bukti DNA yang ditemukan di tempat kejadian secara resmi membebaskan mereka bertiga, karena tidak cocok dengan DNA mereka.
Setelah anggota keluarga Ramsey lolos dari kemungkinan selaku pelaku, polisi pun berbagi pengusutan pada kemungkinan orang di luar keluarga mereka. Penyelidikan polisi menemukan seorang laki-laki bernama Bill McReynolds.
Bill McReynolds yakni sobat dekat keluarga Ramsey, dan ia dikenali mengunjungi keluarga Ramsey, dua hari sebelum pembunuhan terjadi. Anak perempuan Bill McReynolds pernah diculik pada 1974, atau 22 tahun sebelum pembunuhan JonBenét. Sementara istri Bill McReynolds, yang berprofesi selaku penulis, pernah menulis suatu dongeng yang mengisahkan seorang anak kecil yang dianiaya dan dibunuh di suatu basement.
Latar belakang Bill McReynolds dan istrinya mampu jadi cocok dengan kemungkinan sebagai pelaku pembunuh JonBenét. Tetapi, kemungkinan itu pribadi dibantah, bahkan oleh keluarga Ramsey sendiri. Bill sungguh mencintai JonBenét mirip mencintai anaknya sendiri.
The Denver Post sempat menceritakan bagaimana kedekatan Bill dengan JonBenét. Pada suatu Natal, JonBenét pernah memperlihatkan kado berupa glitter bagi Bill. Hadiah itu mungkin terlalu sederhana, atau bahkan konyol, tetapi Bill menyimpan kado itu dengan penuh sayang. Bill sampai berpesan pada istrinya, bila kelak dia meninggal, semoga glitter itu dicampurkan dengan debu jenazahnya.
Bahkan bagi orang renta JonBenét, menuduh Bill selaku pembunuh putri mereka adalah tuduhan kejam yang tak masuk logika.
Tersangka selanjutnya, yang ada dalam catatan polisi, ialah Gary Oliva, laki-laki yang tinggal beberapa blok dari rumah keluarga Ramsey, saat pembunuhan terjadi. Dia pernah memiliki masalah dengan kepolisian atas tindak kriminalitas, termasuk kepemilikan obat terlarang, dan dimengerti menyimpan foto JonBenét di dalam tasnya.
Yang lebih memberatkan, seorang sobat sekolah Gary, bernama Michael Vail, mengungkapkan bahwa sehari setelah pembunuhan terjadi, Gary menghubunginya dan menyampaikan, “Aku sudah menyakiti seorang gadis kecil. Aku telah menyakiti seorang gadis kecil!”
Menurut Michael Vail, Gary juga mengungkapkan lokasi tempat ia menyakiti gadis kecil tersebut. Yaitu di Boulder, Colorado. “Kemudian Gary menutup teleponnya,” tutur Michael Vail.
Pengakuan itu menarik, kalau benar. Karena, berdasarkan catatan kepolisian, tidak ada gadis lain selain JonBenét yang dibunuh di Boulder, Colorado, pada malam itu. Michael Vail juga mengungkapkan bahwa metode pencekikan yang digunakan pada JonBenét diduga pernah digunakan Gary ketika berupaya mencekik ibunya dengan kabel telepon.
Sekali lagi, semua itu seolah menempatkan Gary Oliva selaku tersangka yang besar lengan berkuasa, dan bisa jadi beliau memang betul-betul membunuh JonBenét. Sayangnya, dikala dijalankan tes DNA, polisi mendapati bahwa DNA Gary Oliva berbeda dengan DNA yang mereka temukan di lokasi pembunuhan.
Jadi, kita mendapati suatu masalah yang sangat aneh. Sebuah surat didapatkan di dalam rumah, berisi permintaan tebusan. Lalu seorang gadis didapatkan tewas terbunuh di basement rumahnya, dan ada orang-orang yang sepertinya meyakinkan selaku pembunuhnya, namun tidak ada satu pun yang mampu dijerat alasannya adalah tidak adanya bukti atau motif. Selain itu, DNA mereka tidak ada yang sesuai dengan DNA yang terdapat pada pakaian atau celana dalam korban.
Terkait persoalan DNA tersebut, stasiun televisi CBS pernah memanggil Dr. Henry Lee, seorang ahli DNA yang juga diketahui dalam masalah OJ. Simpson. Dr. Henry Lee diminta memberikan pandangannya terkait masalah pembunuhan JonBenét dan penemuan DNA asing yang tidak cocok dengan satu pun tersangka.
Dalam kasus pembunuhan JonBenét, Dr. Henry Lee juga diminta mempelajari DNA yang terdapat pada busana dan celana dalam korban. Pada program televisi itu, ia menyatakan bahwa DNA yang terdapat pada celana dalam milik JonBenét bisa saja didapat dari pemindahan selama proses buatan. Dan hal itu bisa dibuktikan dengan sebungkus celana dalam yang belum dibuka, yang juga terdapat DNA aneh di dalamnya.
Kemudian, program tersebut menyimpulkan bahwa DNA yang terdapat di tempat insiden ialah sebuah kekeliruan. Itu mempunyai arti, satu dari keenam orang yang pernah dijadikan tersangka mampu jadi ialah pelaku yang sebetulnya.
Pada risikonya, tidak ada seorang pun yang tahu persis apa yang terjadi pada JonBenét Ramsey. Dan kasus itu tetap membingungkan.

EmoticonEmoticon