Sabtu, 07 Maret 2020

Masalah Hilangnya Koloni Roanoke Di Benua Amerika

Ilustrasi/sciencemag.org
Sir Walter Raleigh ialah penulis, penyair, pejabat istana, dan penjelajah berkebangsaan Inggris. Dalam sejarah, dia memiliki tugas penting dalam merintis jalan bagi kolonisasi Britania Raya di Amerika Utara, pada selesai kala ke-16.

Pada tahun 1584, Sir Walter Raleigh membiayai pelayaran dua kapten kapal untuk memperoleh pulau gres di tempat Benua Amerika. Pencarian itu lalu mendapatkan Pulau Roanoke. Satu tahun kemudian, Sir Walter Raleigh mengirim tujuh kapal maritim di bawah komando Sir Richard Grenville, untuk mendirikan koloni di pulau yang didapatkan tersebut. 

Tiga tahun setelah itu, pada 1587, koloni yang tinggal di Pulau Roanoke sudah berjumlah berkali lipat dari semenjak kehadiran pertama kali. Pasalnya, banyak yang ikut datang dan menetap di sana. Total ada 121 orang yang berdomisili di sana. Kemudian, lewat kesepakatan bareng , mereka menentukan John White untuk menjadi gubernur di Roanoke.

Kehidupan koloni di pulau itu berlangsung tenteram, dan John White pun melaksanakan kepemimpinan dengan baik. Namun lalu trend dingin tiba lebih cepat, dan koloni di Roanoke tidak sempat menyiapkan bahan masakan. Akibatnya, persediaan kuliner mereka menipis, sementara mereka terancam tidak memiliki makanan selama demam isu cuek.

Menghadapi kenyataan itu, John White dan beberapa orang dari koloni Roanoke kemudian menetapkan untuk kembali ke Inggris, dengan maksud untuk mengambil persediaan kuliner dari sana. Mereka pun berangkat ke Inggris memakai kapal maritim, meninggalkan koloni. 

John White dan beberapa orang yang bersamanya selamat sampai di Inggris, dan mereka juga memperoleh persediaan kuliner seperti yang diharapkan. Namun, pada waktu itu, Inggris sedang berperang dengan Spanyol. Peperangan yang terjadi kemudian memaksa John White untuk menetap sementara di Inggris, alasannya belum bisa melaksanakan perjalanan kembali ke Roanoke.

Sekitar satu tahun kemudian, John White bisa kembali ke Roanoke, dengan menenteng persediaan kuliner untuk mereka, tergolong untuk istri dan anak perempuannya yang ia lewati di sana. Namun, dikala John White tiba kembali di Roanoke, ia menghadapi sesuatu yang mencengangkan. Para penduduk di pulau itu lenyap, tak ada satu pun yang tertinggal, dan pulau itu terlihat mirip pulau tak berpenghuni.

John White dan beberapa orang yang bersamanya pun bertanya-tanya, ke mana lenyapnya 121 orang yang semula tinggal di sana? Benteng dan rumah-rumah masih bangun tegak. Tapi tidak ada satu orang pun yang tersisa. Juga tidak ada mayit, dan tak ada bekas atau sisa-sisa peperangan.

Sebelum John White pergi meninggalkan koloni di Roanoke, mereka sudah sama-sama bersepakat. Jika sewaktu-waktu muncul problem atau bahaya, masyarakatdi koloni harus menuliskan tanda silang, selaku isyarat adanya ancaman. Tapi kini John White tidak mendapati tanda itu satu pun.

Satu-satunya “isyarat ” yang ditemukan John White hanya torehan pada kulit pohon di dekat benteng, yang membentuk kata “Croatan”. Sementara itu, di pohon lain, terdapat torehan “Cro”.

John White pun bertanya-tanya, apa yang telah terjadi? Ke mana perginya koloni yang ia tinggalkan? Sampai beberapa tahun lalu, John White maupun orang-orang lain tidak mampu mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Sampai akhir hayatnya, John White tidak pernah lagi bertemu istri dan anak perempuannya.

Ketika misteri itu disampaikan ke Inggris, berbagai spekulasi pun meningkat . Sebagian pihak menyatakan bahwa mungkin koloni di Roanoke telah diserang oleh Indian merah. Namun, tak adanya bukti kekerasan di kawasan itu menepiskan asumsi tersebut.

Spekulasi lain menyatakan, koloni di Roanoke sudah pindah ke pulau Croatan, dan spekulasi itu bisa jadi menjawab mengapa ada torehan “Croatan” di pohon yang ditinggalkan. Lalu, saat mereka sedang berlayar ke Croatan, muncul cuaca jelek dan kapal mereka karam di lautan. Spekulasi ini mampu jadi benar, namun susah dibuktikan.

Ada pula spekulasi yang menyatakan bahwa koloni di Roanoke telah diserang pasukan Spanyol yang kemudian menangkap seluruh orang dari koloni, sehingga mereka bisa dikatakan lenyap tanpa tertinggal satu pun. Sekali lagi, spekulasi ini juga sulit dibuktikan.

Dari sekian banyak spekulasi, ada satu yang paling menarik dan cukup dipercaya, yang menyatakan bahwa koloni Roanoke dikala itu tengah panik akan serangan suku Indian nomaden, lalu mereka berlindung pada suku Indian Croatan yang ramah. Lalu, pada satu titik, koloni tersebut karenanya menetap secara berdampingan dengan masyarakatIndian Croatan. 

Teori itu diperkuat dengan temuan pada tahun 1719, atau lebih dari satu periode sesudah hilangnya koloni Roanoke yang misterius. 

Seorang pemburu kulit putih datang ke Robinson County, North Carolina, yang cuma berjarak 100 mil dari Roanoke. Ia mendapatkan suku Indian yang tak biasa; mereka berkulit cerah dan bisa mengatakan memakai bahasa Inggris. Sensus masyarakatpada 1790 di Robinson County pun mengungkapkan fakta lain, bahwa 54 dari 95 nama keluarga mereka sama mirip nama-nama keluarga dari koloni Roanoke. 

Sampai tahun 1934, di Robinson County sudah tinggal 12.000 orang Indian. Mereka biasanya memiliki ciri lain dari Indian kebanyakan; berkulit putih dan beberapa dari mereka bahkan mempunyai mata berwarna biru dan debu-debu. Mereka pun mengatakan menggunakan bahasa Inggris usang, terutama kalimat yang jarang terdengar sejak kurun Shakespheare.

Jadi, apakah memang koloni Roanoke pindah dan menetap di kawasan Indian Croatan? Meski teori ini dianggap paling masuk logika, tetapi lagi-lagi masih susah dibuktikan.


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/


EmoticonEmoticon