Kamis, 05 Maret 2020

Masalah Laut Setan Di Jepang Yang Membingungkan

Ilustrasi/blastingnews.com
Bermuda Triangle atau Segitiga Bermuda telah terkenal selaku tempat yang menyeramkan, alasannya diandalkan sudah melenyapkan banyak kapal dan pesawat yang melintas di sana. Tapi daerah itu rupanya bukan satu-satunya, karena di perairan Jepang juga ada daerah serupa, yang disebut Dragon’s Triangle atau Segitiga Naga. Namun, karena keangkerannya, daerah itu juga terkenal dengan sebutan Devil’s Sea atau Laut Setan.

Perairan misterius yang disebut Laut Setan itu merupakan daerah lautan yang damai di Laut Pasifik, 100 km sebelah selatan Tokyo, terletak di antara pulau Iwojima dan Pulau Miyake. Dari daratan Jepang, tempat ini cukup jauh.

Tak jauh beda dengan Segitiga Bermuda, Laut Setan di Jepang dikenali sudah “melenyapkan” banyak kapal dan pesawat yang melintas di sana. Antara tahun 1950 dan 1954 saja, di kawasan itu sudah hilang 9 kapal besar, tanpa meninggalkan bekas. 

Pada tahun 1955, pemerintah Jepang mengantarekspedisi dengan menjinjing sejumlah pakar menuju tempat tersebut, memakai kapal Kawamaru. Tujuannya untuk mempelajari apa yang ada di tempat itu, hingga banyak kapal dan pesawat yang lenyap di sana. Tapi malang, Kapal Kawamaru beserta seluruh penumpang yang dikirim ke sana malah lenyap tanpa pesan dan tanpa bekas.

Akhirnya, atas fenomena-fenomena asing tersebut, pemerintah Jepang pun menginformasikan Laut Setan sebagai kawasan berbahaya, dan dilarang didekati. Larangan itulah yang menimbulkan Laut Setan berhenti mengkonsumsi korban, alasannya adalah tidak ada lagi yang berani mendekat ke sana.

Ivan Sanderson, seorang ilmuwan Amerika, sangat terpesona dengan fenomena di Laut Setan di Jepang, karena melihat kesamaan yang asing dengan Segitiga Bermuda yang populer. Ia lalu mempelajari kedua lokasi itu dan melakukan penelitian. 

Berdasarkan penelitiannya, dia menyaksikan bahwa Segitiga Bermuda maupun Laut Setan di Jepang menempati lokasi yang sama di peta. Dua tempat tersebut terletak persis di garis bujur antara 30 dan 40 derajat sebelah utara khatulistiwa, dan luasnya nyaris sama. 

Berdasarkan fakta itu, Sanderson kemudian melanjutkan pengamatannya pada tempat-daerah lain, dan ia mendapatkan bahwa terdapat 12 daerah sejenis di dunia ini, yang menempati lokasi sama di peta, seperti Segitiga Bermuda dan Laut Setan. Dua kawasan di antaranya ada di kutub utara dan kutub selatan, sedangkan sepuluh yang lain terbagi dalam dua jajar. Jajaran pertama terletak pada garis bujur 40 derajat sebelah utara, dan jajaran kedua terletak pada garis bujur 40 derajat selatan khatulistiwa.

Masing-masing daerah itu terpisah sekitar 72 derajat pada garis lintang. Tempat-tempat tersebut, di samping di kutub utara dan selatan, antara lain yaitu dua tempat yang terletak di daratan. Satu di utara gurun pasir Afrika, dan satu lagi di tempat pegunungan barat maritim India.

Sanderson memperhatikan bahwa sebagian besar daerah tersebut mempunyai kemiripan satu sama lain, di antaranya letak yang berada di daerah yang berjumpa arus panas dan hambar, dan tempat-tempat tersebut dipandang selaku titik simpul, alasannya adalah mengarahkan arus air atas dan bawah pada arah yang bertentangan. Kemudian, suhu yang berlawanan tersebut, menurut Sanderson, mampu menyebabkan gelombang magnetik yang menjadi biang keladi semua kecelakaan. 

Teori yang diajukan Sanderson terdengar masuk nalar, tetapi para ilmuwan lain membantahnya.

Menurut para ilmuwan lain, tidak ada sebuah apa pun yang menandakan bahwa konferensi dua pedoman air yang berlawanan arah dan dengan suhu yang berlainan dapat menciptakan gelombang magnetis di bumi.

Selain itu, teori Sanderson juga tidak mampu menjawab pertanyaan; ke mana hilangnya kapal-kapal dan pesawat yang melintas di Segitiga Bermuda atau di Laut Setan? Kapal-kapal itu memiliki ukuran sangat besar, yang tidak mungkin lenyap begitu saja tanpa bekas apa pun. Kalau memang banyak sekali insiden “kecelakaan” yang terjadi di daerah-daerah itu disebabkan fenomena bumi, mestinya kapal-kapal itu mampu didapatkan, bahkan meski hanya puing atau serpihannya.

Tapi kapal-kapal itu lenyap tanpa bekas... dan teori Sanderson—yang bahkan terdengar sangat masuk logika—tidak bisa menjawab ke mana lenyapnya.


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/


EmoticonEmoticon