Rabu, 11 Maret 2020

Masalah Maut 9 Pendaki Yang Sungguh Misterius

Ilustrasi/history.com
Yuri Yudin tidak pernah menduga bahwa sakit yang dialaminya justru menyelamatkannya dari kemungkinan mati terbunuh secara menakutkan sekaligus misterius—mirip yang dialami sobat-temannya.

Sepuluh anak muda (8 laki-laki dan 2 wanita) mempersiapkan petualangan selama 2 minggu di Pegunungan Ural, Rusia. Mereka berisikan Igor Dyatlov, yang menjadi pemimpin kelompok; Zinaida Kolmogorova, Lyudmila Dubinina, Alexander Kolevatov, Rustem Slobodin, Yuri Krivonischenko, Yuri Doroshenko, Nicolai Thibeaux-Brignolle, Alexander Zolotarev, dan Yuri Yudin.

Di tengah perjalanan, Yuri Yudin mengeluh sakit, dan merasa tidak mampu melanjutkan petualangan. Karenanya, dengan berat hati, ia pun pamit untuk pulang, dan membiarkan 9 sahabatnya untuk meneruskan petualangan tanpa dirinya.  

Belakangan, sembilan teman Yuri Yudin ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Mayat-mayat para pendaki itu tercerai-berai, terpisah dari kemah, sementara kemah yang mereka dirikan didapatkan dalam kondisi rusak.

Beberapa jenazah ditemukan hanya memakai pakaian dalam, sedangkan yang lain ditemukan memakai baju milik sobat mereka. Dua mayit ditemukan mempunyai cedera pada kepala, dua yang lain mengalami cedera pada dada, sementara satu jenazah terakhir didapatkan dengan pengecap terpotong. 

Yang lebih mengejutkan, otopsi yang dijalankan pada mayat-mayit itu menerangkan bahwa korban-korban yang tewas mengalami kebutaan. Sementara pada baju-baju mereka ditemukan jejak radioaktif. Kulit tubuh mereka bermetamorfosis oranye, sementara rambut mereka berubah warna menjadi bubuk-abu. Mayat-mayat mereka ditemukan di kawasan gunung yang disebut Kholat Shyakl, alias Gunung Kematian.

Kisah selengkapnya

Sepuluh orang itu yakni para mahasiswa yang berteman, dan sama-sama aktif menjadi pendaki gunung. Mereka semua berkuliah di tempat yang serupa, yakni Ural Polytechnical Institute. Pada Januari 1959, mereka bermaksud mendaki gunung di wilayah Sverdlovsk Oblast di Pegunungan Ural, Rusia.

Tujuan mereka yakni mendaki Gunung Otorten, melalui jalur yang mampu dikategorikan susah. Tapi mereka ialah pendaki profesional, dan melewati medan yang sulit yakni tantangan yang menggembirakan. Kelompok itu pun datang dengan kereta di Ivdel, kota terdekat dengan lokasi tujuan, lalu menumpang suatu truk ke Vizhai, pemukiman terakhir yang terisolir. 

Setelah melewati Vizhai, mereka hanya mendapatkan hamparan salju tanpa kehidupan di pegunungan beku Ural. Pada 27 Januari 1959, mereka mulai bergerak meninggalkan Vizhai. Namun, pada hari selanjutnya, salah satu anggota, yakni Yuri Yudin, sakit. Merasa tidak bisa meneruskan petualangan, ia menetapkan untuk kembali ke Vizhai. Akhirnya, golongan itu pun berisikan 9 orang, dan melanjutkan perjalanan tanpa sobat mereka. 

Layaknya pendaki profesional lain, khususnya di kurun itu, mereka melengkapi diri dengan kamera video dan catatan diari, yang merekam kegiatan mereka dari hari ke hari. Belakangan, rekaman video dan diari itu sungguh berguna dalam melacak perjalanan mereka, sehabis sembilan orang itu ditemukan tewas dalam kondisi misterius.

Pada 31 Januari 1959, sembilan orang itu bersiap memulai pendakian. Dari video dan diari, diketahui kondisi mereka saat itu baik-baik saja. Peralatan mereka juga lengkap, bahkan persediaan kuliner mereka lebih dari cukup.

Memasuki 1 Februari 1959, dipimpin oleh Igor Dyatlov, mereka mulai mendaki melalui jalur yang dijadwalkan semula. Namun tanpa diduga, timbul tornado salju, sehingga mereka kesasar, dan justru berjalan menuju Kholat Syakhl, Gunung Kematian. Ketika menyadari tersesat, mereka kemudian mendirikan kemah di gunung tersebut. Di tempat inilah nasib mereka selsai.

Sebelumnya, mereka dan pihak universitas telah menyepakati bahwa Igor Dyatlov, sang pemimpin rombongan, akan mengirim telegram dari Vizhai, begitu ekspedisi tamat pada 12 Februari 1959. Namun, telegram yang diharapkan tak kunjung datang, dan hal itu menciptakan pihak universitas serta keluarga jadi cemas.

Akhirnya, pada 20 Februari 1959, alasannya adalah tidak juga menerima kabar dari sembilan pendaki itu, pihak keluarga pun berkoordinasi dengan pihak universitas untuk mengirim tim pencari.

Semula, tim pencari cuma terdiri dari para mahasiswa dan dosen di kampus mereka. Namun lalu polisi dan tentara terlibat dalam penelusuran itu, dengan memakai pesawat dan helikopter pencari. Upaya penelusuran itu berhasil. Tapi yang mereka dapatkan menjadi awal misteri yang sangat membingungkan.

Pada 26 Januari 1959, tim pencari datang di Kholat Syakhl, dan memperoleh tenda kosong dalam kondisi rusak parah. Dari arah tenda, mereka menyaksikan jejak-jejak kaki menuju ke hutan terdekat. Di hutan tersebut, tim pencari memperoleh sisa-sisa api dan dua jenazah pertama, ialah Yuri Krivonischenko dan Yuri Doroshenko. 

Dua jenazah itu ditemukan dalam kondisi cuma mengenakan celana dalam, dan tanpa sepatu. Dari pemeriksaan singkat, mereka memperoleh bahwa tampaknya dua orang itu telah berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon di bersahabat mereka, hingga kulit di jari-jari mereka mengelupas. Tapi menyelamatkan diri dari apa? 

Pertanyaan itu belum terjawab, saat tim pencari menemukan mayat-mayit yang lain, yakni Igor Dyatlov (pemimpin tim), Zinaida Kolmogorova (salah satu anggota perempuan), dan Rustem Slobodin, dalam jarak terpisah antara 300, 480, dan 630 meter, dari tempat jenazah kedua sahabat mereka sebelumnya didapatkan. 

Tiga orang yang ditemukan telah menjadi mayit itu tampaknya mati satu per satu, dan belakangan dimengerti mereka dalam kondisi buta. Salah satu di antara mereka ditemukan dengan keadaan tengkorak retak, namun diduga penyebab ajal ialah hipotermia. Sekarang telah didapatkan 5 mayit dengan kondisi misterius, sementara 4 lainnya masih hilang. 

Tim pencari masih terus melanjutkan penelusuran, untuk memperoleh empat orang lainnya, dan pencarian atas empat orang itu memerlukan waktu hingga dua bulan. Pada 4 Mei 1959, pencarian mereka menemukan empat orang yang hilang tersebut—semuanya telah mati dan terkubur sedalam 4 meter di bawah salju.

Mayat Nicolai Thibeaux-Brignolle ditemukan dengan kondisi kepala nyaris pecah. Alexander Kolevatov dan Alexander Zolotarev ditemukan dengan luka parah di dada dan rusuk patah. Sementara Lyudmilla Dubunina didapatkan tewas dengan pengecap terpotong. 

Kematian sembilan orang dengan kondisi ajaib itu menjadikan desas-desus, bahwa mampu jadi mereka dibunuh oleh suku pribumi Mansi (suku yang menetap di tempat itu), alasannya dianggap melanggar daerah mereka. Namun desas-desus itu ditepiskan, karena tidak ada temuan bekas perkelahian atau kekerasan apa pun. Lebih dari itu, tidak ada jejak kaki orang lain yang ditemukan di sana, selain jejak-jejak kaki sembilan orang yang tewas tersebut.

Para penyelidik juga mendapatkan bukti bahwa sembilan orang itu sudah meninggalkan kemah pada tengah malam, alasannya kemah tampaknya dibuka dari dalam (tidak ada bukti “sesuatu” yang memaksa masuk). Bahkan ada bukti bahwa beberapa pendaki keluar dengan bertelanjang kaki. Padahal suhu pada malam itu sangat rendah (minus 25-30 derajat Celcius) dan dikala itu ada angin kencang tengah berkecamuk. 

Apa yang menjadikan mereka begitu panik, sampai keluar tenda di tengah angin puting-beliung salju? Apa yang mereka lihat atau dengar dikala itu? Lalu mengapa dua tubuh ditemukan tanpa baju, sedangkan beberapa badan yang lain ditemukan “bertukar pakaian” dengan teman-sobat mereka lainnya? 

Berbeda dengan mayit-mayat yang meninggal karena kedinginan dan hipotermia, empat korban yang didapatkan terkubur dalam salju diperkirakan tewas alasannya adalah luka-luka pada badan mereka. Seorang dokter forensik, yang menyelidiki badan mereka, menyampaikan bahwa luka-luka itu tidak mungkin dilakukan oleh insan, karena kekuatan yang diharapkan untuk menjadikan luka tersebut harus sungguh besar. 

Kondisi jenazah mereka seperti dengan keadaan seseorang yang ditabrak mobil. Tapi di tengah gunung bersalju, benda apa yang mungkin menabrak mereka hingga menjadikan luka mirip itu? Ada yang beropini hal tersebut disebabkan longsoran salju. Namun di sekeliling lokasi itu tidak ditemukan bekas adanya longsor. Lalu mengapa mayit salah satu wanita dalam tim itu didapatkan tanpa pengecap? 

Otopsi yang dijalankan mendapatkan dosis radioaktif yang sangat tinggi pada busana dan badan korban. Yang abnormal, kulit para korban berubah menjadi kecokelatan (bahkan oranye), sementara rambut mereka berganti warna bubuk-abu. 

Penelitian selanjutnya mengambarkan bahwa di Kholat Syakhl ditemukan jejak radioaktif yang mungkin mampu menjelaskan radiasi pada tubuh dan pakaian korban. Namun tak pernah ditemukan apa penyebab radiasi di gunung itu. 

Secara tak terduga, muncul kesaksian dari tim pendaki lain, yang dikala itu berada 50 km arah selatan dari lokasi kejadian tersebut. Orang-orang dari tim pendaki lain itu menyatakan bahwa pada malam terjadinya insiden, mereka menyaksikan cahaya oranye yang abnormal di langit, tepat dari arah Kholat Syakhl. 

Penuturan itu dibenarkan para warga Ivdel (kota terdekat dari lokasi itu), yang menyebutkan cahaya oranye itu terus timbul sejak Februari hingga Maret 1959. Lebih asing lagi, di sekeliling lokasi itu juga ditemukan potongan-bagian besi yang mengisyaratkan pernah ada acara tertentu di daerah tepencil tersebut. 

Bisa jadi, beberapa orang yang tewas itu keluar dari tenda di malam insiden, sebab melihat “cahaya oranye” yang muncul di langit. Kemungkinan itu bisa menerangkan kenapa mereka sampai keluar dari kemah, meski cuaca malam itu sungguh cuek. Tapi, apa cahaya oranye yang mereka lihat itu? Dan bagaimana dengan bagian-belahan besi yang belakangan ditemukan di sana? Dari mana pula munculnya jejak radioaktif di daerah itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak pernah terjawab. Yang terang, peristiwa itu lalu dikenal dengan nama Insiden Dyatlov Pass—merujuk pada nama pemimpin grup pendaki yang tewas. Belakangan, penyelidikan terhadap kasus ini dihentikan, bahkan cenderung ditutup-tutupi oleh pemerintah komunis yang berkuasa dikala itu. 

Pada tahun 1967, seorang jurnalis bernama Yuri Yarovoi menerbitkan buku berjudul Of The Highest Rank Of Complexity, yang menceritakan peristiwa Dyatlov Pass. Tapi buku itu disensor oleh pemerintah, dan dilarang terbit. Pada 1980, Yuri Yarovoi meninggal dunia, dan secepatnya sehabis itu semua foto serta tulisannya tentang peristiwa itu tiba-tiba hilang.

Kholat Syakhl, lokasi tempat ditemukannya mayit-jenazah itu, semenjak lama memang memiliki reputasi menyeramkan. Di daerah yang disebut Gunung Kematian itu, sembilan masyarakatsuku Mansi pernah menghilang secara misterius. Tahun 1991, lokasi itu kembali meminta korban jiwa, saat suatu pesawat jatuh dan menewaskan sembilan orang. 

Jadi, sembilan orang dari suku lokal pernah menghilang secara misterius. Sembilan penumpang pesawat pernah terbunuh di sana. Kemudian sembilan mahasiswa ditemukan tewas di tempat yang sama. Apakah jumlah korban yang selalu sembilan orang itu hanya kebetulan... ataukah ada artinya?

Tak ada yang mampu menjawab pertanyaan itu, sama mirip tak ada yang mampu menjawab apa yang sebenarnya terjadi di sana, dan apa yang menjadikan sembilan orang itu tewas dalam keadaan misterius. 


Sumber https://www.belajarsampaimati.com/


EmoticonEmoticon